Papua Original, Andre Hehanussa, hingga Jason Ranti Tutup Solo City Jazz Edisi 11 dengan Ciamik

oleh

SOLO, MettaNEWS – Solo City Jazz di Pura Mangkunegaran tak kalah pecahnya dibandingkan hari pertama. Dibuka dengan penampilan Rio Moreno SCJ di malam Minggu (15/10) begitu berwarna.

Di hari kedua perhelatan festival musik jazz ini diramaikan dengan banyaknya musisi Indonesia Timur. Sebut saja Papua Original, Andre Hehanusa, dan Albert Fakdawer. Penampilan selanjutnya Mercy Dumais tampil elegan dengan membawakan beberapa lagu.

Selanjutnya Deddy Dhukun feat Bengawan Symphony Orchestra mengambil bagian pada malam itu. Penyanyi kelahiran Banyumas 63 tahun silam itu membawakan tembang populernya seperti Melayang, Aku Ini Punya Siapa, Bohong, Orang Ketiga dan Hanya Satu Kamu.

Setelah musisi era 90-an tersebut tampil menghibur penonton sekaligus bernostalgia, kini giliran grup band Papua Original tampil dengan logat khasnya. Band yang terdiri dari Vien Mangku, Dommin Fenetiruma, Achel Uduas, dan Mamri Awom (vokal), Etho (pemain bas dan direktur musik),  Yeheskiel (drum), Yance Deda (Saksofon), Zarteus Osok (kibor), dan Niel (gitar) itu naik panggung sekitar pukul 20.52 WIB.

Dari banyaknya lagu Timur yang mereka bawakan, Papua Original membawakan satu lagu dari sang maestro kesenian Jawa Tengah, Ki Narto Sabdo berjudul Gambang Suling. Sontak penonton yang ada riuh memberikan tepuk tangan kepada grub band yang satu ini.

Mereka pun dengan apiknya membawakan lagu berbahasa Jawa ini dengan cengkok nada orang Indonesia Timur yang khas ditambah dengan lagu rap. Di akhir lagu yang dibawakan mereka mengajak penonton SCJ ikut ke atas penggung untuk berjoget bersama. Momen ini menjadi momen yang menggembirakan di malam penutupan SCJ 2022.

Setelah Papua Original, penyanyi jazz asal Ambon, Andre Hehanussa membuka penampilannya dengan lagu berjudul Kuta Bali. Total ia membawakan 11 lagu baik miliknya sendiri maupun lagu dari musisi Tanah Air lainnya seperti mendiang Glenn Fredly, Didi Kempot, Utha Likumahuwa, band Warna dan Bob Tutupoly.

Sebelum menutup penampilannya Andre Hehanussa menyampaikan kekagumannya akan Kota Solo. Dikatakan Andre Solo merupakan kota yang ramah warganya serta kaya kulinernya.

“Solo itu kota berbudaya, semua orang pengin ke sini karena pertama orangnya ramah, yang kedu makanan kuliner, ini semua band juga anak Solo termasuk ada cucu Mangkunegaran 9 juga di sini namanya Andrini,” katanya.

“Artinya apa Solo sangat siap untuk semua orang asing yang berbeda, makanan enak warganya enak suasananya enak, panggungnya juga enak,” kata Andre kepada penonton,” tutup Andre.

Solo
Jason Ranti tampil di hari kedua Solo City Jazz Pura Mangkunegaran, Sabtu (15/10/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Lagu-lagu nostalgia selaai berkumandang. Penonton Solo City Jazz kemudian dibuat heboh dengan aksi penyanyi Jason Ranti. Penyanyi yang kerap membawakan tembang satire ini membuat penonton heboh menggeruduk depan panggung.

Jason Ranti atau yang biasa dipanggil Jeje membawakan 4 lagu diantaranya Lagunya Begini Nadanya Begitu, Sudah Jangan ke Jatinangor, Evaluasi milik Hindia Baskara, Kau Cantik Hari Ini milik Lobow dan Sekilas Info.

Penonton juga serempak meneriakkan jargon Woyo dan Au ala Jeje. Panggung Solo City Jazz yang berwarna merah itu seolah-olah jadi milik Jeje seorang. Ditambah setiap menbawakan lagu penonton diajak untuk terus bernyanyi.

Suasana penutupan Solo City Jazz edisi 11 malam itu benar-benar menggembirakan. Begitulah kiranya yang dirasakan Jijul (22) pemuda asal Bogor yang saat ini tengah mengenyam pendidikan Strata Satu di sebuah universitas Kota Solo.

“Solo City Jazz ini seruh sih kan sudah lama nggak ada ya jadi ya seru aja. Apalagi tadi Jeje tampil maksimal, dia kan suka slengekan lagu-lagunya juga penuh satire. Berani dan beda, sengaja dateng kesini buat nonton Jeje sama sekalian nugas fotografi,” kata Jijul.