SUKOHARJO, MettaNEWS – Mendekati Idul Adha 1443 H, penjual sapi musiman mulai bermunculan. Salah satunya yang berada di Goro As Salam, Jalan Ahmad Yani, Gumpang Lor, Pabelan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo. Di lahan kosong beratap seng, 70 ekor sapi Bali dijual mulai dari Rp 15 juta hingga Rp 25 juta.
Diselimuti kekhawatiran adanya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak, Pengurus kandang sapi Goro As Salam, Arif Susanto menyebut jumlah sapi yang dijual tahun ini terpaksa harus dibatasi.
“Kalau kemarin ada kenaikan (jumlah) dari 2018 itu cuma beberapa ekor naik-naik terus, tetapi untuk tahun ini pengecualian karena wabah PMK itu, kita kan nyetoknya nggak terlalu banyak, pelanggan-pelanggan juga agak was-was,” terang Arif saat ditemui MettaNEWS di lokasi jualannya Goro As Salam, Senin (27/6/2022).
Usaha yang sudah dimulai sejak 2018 lalu tersebut pada tahun ini mengalami penurunan jumlah ketersediaan. Arif menyebut di tahun 2021 lalu jumlah sapi yang ia jual sebanyak 130-an ekor sedangkan tahun ini hanya 70 ekor. Sebagai penjual, dirinya khawatir akan ancaman kesehatan sapi di masa merebaknya virus PMK. Pihaknya yang baru seminggu membuka kembali lapak kurban di Goro As Salam mengatakan penjualan sapi seharusnya dilakukan di waktu sebelumnya yakni usai Idul Fitri 1443 H, 1-2 Mei lalu.
“Penjual pembeli juga khawatir. Kalau tahun kemarin habis Idulfitri itu sudah persiapan, kalau tahun ini baru tanggal 16/17 (Juni) baru buka,” terangnya.
Lantaran kekhawatirannya akan pembeli yang ikut was-was dengan virus PMK, pihaknya hanya menjual sapi ke pelanggannya yang berada di Solo, Sukoharjo, Wonogiri, Colomadu dan Klaten. Meski PMK mewabah, menjelang Hari Kurban kenaikan harga sapi tak dapat dihindari.
“Kalau harga naik, naiknya 5-10 persenan dari tahun kemarin, harganya mulai dari Rp 15 juta sampai 25 juta. Kalau yang paling banyak belinya yang harga Rp 20-22 jutaan. Ini khusus sapi Bali, kita datangkan dari Bali langsung,” sebut Arif.
Lokasi berjualan yang berada di pinggir jalan yang ramai, membuat pihaknya juga tetap melayani pembeli biasa di luar pelanggan. Selama satu pekan berjualan, Arif menyebut sapi-sapinya telah laku 30 ekor.
“Permintaan yang beli ini sudah laku sekitar 30 ekor 1 minggu, termasuk permintaan yang normal. Yang beli ada yang perorangan, ada yang dari masjid 1 sapi untuk 7 orangan gitu,” jelasnya.
Belum dapat memprediksi kenaikan permintaan mendekati hari H Idul Adha, pihaknya akan melihat pangsa pasar dalam waktu kedepan. Arif mengatakan sapi-sapi dagangannya telah melewati proses pemeriksaan dari Dinas Peternakan sebelum dan sesudah perjalanan dari Bali, Banyuwangi hingga sampai di Sukoharjo.
“Nanti pengiriman H-1 pas Lebaran, tetapi tergantung permintaan, kebanyakan H-1 disuruh ngirim. Ini dijaga, 2 orang 24 jam. Kalau kesehatan dari sana diperiksa dari sana, itu kan lewat Banyuwangi, di sana sudah diperiksa. Sampai sekarang alhamdulillah aman,” terang Arif.
Tak hanya melayani pembelian, ditempatnya berjualan ia juga melayani penyembelihan di hari H Idul Adha. Diketahui sebelumnya permintaan penyembelihan sapi ini mengalami kenaikan ditahun lalu lantaran pandemi.
“Penyembelihan ada kita menerima penyembelihan, atau di RPH nanti. Kalau tahun kemarin sampai 25 orang, kalau sekarang baru 4 yang daftar. Kemarin (2021) itu kan nggak boleh ngumpul jadi disembelihan, kalau sekarang kan sudah bisa berkerumun jadi disembelih sendiri,” bebernya.
Menyediakan fasilitas berupa Juliha, Juru Sembelih Halal pihaknya menjamin kehalalan sapi yang akan diterima pembeli. Sebagai informasi, lapak jaualannya Pak Arif buka setiap harinya mulai dari jam 09.00-17.00 WIB.
“Kalau itu ada bagian penyembelihan sendiri, dari Juliha, Juru Sembelih Halal. Berat mulai 250-400-an kg, harga dari 15-25 juta. Yang paling banyak dicari yang harga 20-22 jutaan,” tutupnya.








