Terungkap! Ini Alasan Dawet Selalu Ada di Tiap Prosesi Semanggi Festival

oleh
Semanggi Festival #3
Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka membuka Semanggi Festival #3 melalui prosesi penuangan dawet di Lapangan Losari, Semanggi, Pasar Kliwon Solo, Senin (27/6/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Dawet selalu mewarnai disetiap gelaran Semanggi Festival sejak 2019 silam. Pun dalam Semanggi Festival yang kembali diadakan ketiga kalinya di Lapangan Losari, Pasar Kliwon, Solo, Senin (27/6/2022). Ternyata dawet memiliki makna mendalam bagi warga Semanggi, dawet merupakan suatu prosesi yang dibuat oleh seorang putra dan putri raja.

Alkisah disuatu daerah yang mengalami kekeringan, putra putri raja ini melakukan penyebaran jenang di sawah. Tak berselang lama hujan pun turun dan muncullah jenang-jenang kecil yang kemudian disebut cendol. Laksana cendol di dawet, Semanggi Festival menuangkannya dalam Tarian Murca Wikara. Berawal dari hal ini, dawet dijadikan prosesi pembukaan festival untuk pembersihan diri dan juga agar selalu dipenuhi keberkahan layaknya hujan yang turun disaat kekeringan.

Di Semanggi Festival 2019 lalu, sebanyak 3 ribu dawet telasih dan rengganis dibagikan secara gratis ke warga yang hadir. Usai kirab, para penonton yang antusias ingin mencicipi dawet gratis ini membludak. Merupakan warisan kuliner, dawet bahkan dijadikan nama festival yang pertama kali diadakan di Semanggi yakni Festival Dawet Semanggi.

Kemudian di tahun 2020 dan 2021 festival ini akan kembali digelar, namun lantaran pandemi Covid-19 masih merebak membuat gelaran ini dibatalkan. Hingga di tahun ini, Karang Taruna di Desa Semanggi mencoba membangkitkan kembali festival dengan nama Semanggi Festival #3.

Prosesi penuangan dawet dari sebuah kendi olehWali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menjadi pertanda Semanggi Festival #3 dibuka. Dibuka oleh orang nomer satu di Solo, festival ini diharapkan dapat berjalan sukses dan membawa keberkahan bagi warga Solo.

Kali ini Semanggi Festival mengangkat tema Dhandang Arum Wijil Endahing Trapsila. Festival ini memiliki makna bahwa segala sesuatu yang ada selalu melewati proses yang dibuat sepenuh hati. Pun dalam sebuah seni, membutuhkan proses yang melibatkan hati dan perasaan untuk menghasilkan karya yang luar biasa. Menebar manfaat tak hanya untuk kepentingan pribadi namun juga untuk masyarakat.

“Merasa bahwa ada sesuatu yang diproses sepenuh hati, dimasak di dalam dandang yang dimasak sepenuh hati maka akan memunculkan karya yang bermanfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri, tidak hanya untuk kebanggaannya sendiri tapi juga kebanggannya masyarakat,” ucap Laras Tasyaningrum, Ketua Panitia Semanggi Festival #3 kepada MettaNEWS, Senin (27/6/2022).

Ikut melibatkan UMKM yang ada di Semanggi, festival ini merupakan bagian dari pencanangan Semanggi menjadi Desa Wisata di Solo. Lantaran memiliki beragam kesenian budaya yang terus berkembang dan bertahan di era perubahan zaman, Semanggi mantap ingin membenahi diri untuk dapat menjadi Desa Wisata.

Sementara itu, Arif Suharto Lurah Semanggi berencana untuk memikirkan ulang penambahan Raja Mala dalam festival Semanggi sebagai ikon yang akan ditonjolkan kelak jika Desa Wisata terwujud.

“Kedepan kami kesana, karena sudah dua tahun kemarin kena pandemi ini baru sekarang kami berusaha lagi untuk bangkit,” terang Arif.

Menurutnya ikon Raja Mala dapat menjadi branding Semanggi Desa Wisata, ditambah Raja Mala ini telah dituangkan dalam bentuk karya batikdan kalung. Nantinya Raja Mala akan menjadi ikoniknya Semanggi Desa Wisata di Kota Bengawan.