Semanggi Festival #3 Bakal Berlangsung 6 Hari, Suguhkan Belasan Ragam Kesenian Menarik

oleh
Semanggi Festival #3
Penari Gambyong membuka Semanggi Festival #3 di Lapangan Losari, Semanggi, Pasar Kliwon, Solo dibuka Senin,(27/6/2022) | MettaNEWS/ Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Semanggi Festival #3 yang berlangsung di Lapangan Losari, Pasar Kliwon Solo dibuka Senin, (27/6/2022). Hari pertama festival diisi dengan Tari Gambyong yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan festival lewat tradisi penuangan dawet.

Dihadiri Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka prosesi penuangan dawet menjadi tanda festival ini siap digelar untuk ketiga kalinya. Akan berlangsung selama 6 hari yakni 27 Juni-2 Juli, festival ini menyuguhkan gelaran 16 kesenian. Selain Tari Gambyong, di hari pertama 27 Juni juga diisi Reog Singo Kuncoro, Tari Murca Wikara dan Orkes Keroncong Irama Malam.

Sementara itu di tanggal 28 Juni festival akan diisi Campursari, 29 Juni A.I.R Coustic Project dan sulap, 30 Juni Hadrah Ngudi Rukun 123, 1 Juli Orkes Keroncong Mekar Buana dan di hari terakhir 2 Juli nanti sebanyak empat kesenian yakni Paguyuban Reog Singo Taruno Mudho, Tari Dongklak, Tari Roro Ngigel, Semanggi Carnival dan Fashion Show anak-anak se Kelurahan Semanggi akan menjadi penutup festival.

Merupakan acara tahunan, festival ini sempat tertunda akibat pandemi selama 2 tahun. Larasati Tasyaningrum, Ketua Panitia Semanggi Festival #3 menyebut tahun ini festival mengangkat tema Dhandang Arum Wijil Endahing Trapsila.

“Dhandang arum wijil endahing trapsila kami merasa bahwa ada sesuatu yang diproses sepenuh hati, dimasak di dalam dandang yang dimasak sepenuh hati maka akan memunculkan karya yang bermanfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri, tidak hanya untuk kebanggaannya sendiri tapi juga kebanggannya masyarakat,” terang Laras kepada MettaNEWS, Senin (27/6/2022).

Dawet menjadi prosesi yang wajib ada disetiap gelaran Festival Semanggi, secara filosofis dawet merupakan proses pembersihan diri. Tak hanya itu, dawet digunakan sebagai ritual penurunan hujan ketika suatu tempat mengalami kekeringan.

“Filosofi dawet adalah suatu prosesi yang dibuat oleh seorang putra dan putri raja yang mengalami kekeringan di daerahnya kemudian mereka melakukan penyebaran jenang di sawah kemudian turun hujan. Kemudian jenang-jenang itu muncul sehingga laksana cendol di dawet, nanti akan dituangkan dalam Tarian Murca Wikara,” jelas Laras.

Dimulai sejak 16.00 – 21.00, Festival Semanggi juga dimeriahkan berbagai stand dari UMKM wilayah Semanggi seperti craft dan kuliner.

“Stand kuliner yang lebih banyak karena salah satu pekerjaan yang bisa dilakukan semua orang,” tambahnya.

Dengan gelaran ini, pihaknya berharap bisa mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Solo maupun para pelaku seniman, budaya dan pelaku ekonomi kreatif.

“Harapannya kami berharap support semua elemen masyarakat nggak hanya elemen pemerintahan pelaku seni pelaku budaya pelaku ekonomi kreatif biar acara ini bisa berjalan terus tiap tahunnya dan mungkin bisa menjadi contoh untuk wilayah-wilayah di luar Semanggi,” tutupnya.

Memiliki potensi seni yang ingin dikenalkan ke seluruh masyarakat secara meluas, Arif Suharto Lurah Semanggi mengatakan pihaknya berencana membuat Semanggi menjadi Desa Wisata.

“Intinya kita mau membuat website kaitannya dengan potensi yang ada di Kelurahan Semanggi, grup kelompok seni, ingin mengangkat UMKM yang ada di Kelurahan Semanggi,” terang Arif.

Memiliki ikon Semanggi Raja Mala yang sudah ada sejak dahulu, pihaknya ingin lebih menonjolkan ikon tersebut sebagai branding Desa Wisata di Kota Bengawan.

“Ikon Semanggi Raja Mala, sudah punya branding itu, kami punya batik Raja Mala kemudian Pak Wali biasa menggunakan kalung Raja Mala karena melekat sekali dengan kondisi yang ada di Bengawan Solo,” tutupnya.