SOLO, MettaNEWS – Sejumlah pedagang meminta revitalisasi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo dapat membawa kesejahteraan. Seperti diketahui, TSTJ akan diubah konsepnya menjadi lebih modern.
Namun rencana revitalisasi ini membuat para pedagang khawatir akan posisinya di kemudian hari. Para pedagang pun berharap agar konsep modern yang diusung dapat mendatangkan banyak pengunjung secara konsisten. Tak hanya ramai dalam waktu sesaat, para pedagang berharap perbaikan TSTJ masih melibatkan pedagang sebagai bagian yang sudah menemani langkah puluhan tahun objek wisata ini menjadi tempat rekreasi kebanggaan wong Solo.
Ketua Paguyuban Bakul Taman Jurug (PBTJ) Sarjuni menyinggung objek Air Mancur Pelangi Menari yang pernah dijadikan wahana wisata di TSTJ namun tak berlangsung lama. Hanya bertahan satu tahun, objek ini tak lagi beroperasi, sehingga dirinya tak ingin proyek Taman Jurug yang akan dibuat bernasib sama yakni hanya mampu mendatangkan pengunjung dalam waktu sekejap.
“Jangan sampai seperti kemarin, Air Mancur Pelangi cuma bertahan setahun terus out. Di sini itu memang gitu sebaik apapun paling ramai ya sebulan dua bulan paling lama empat bulan itu meledak, habis itu ya sudah nggak ada pengunjung. Bahkan untuk operasional saja buat bayar karyawan nggak jalan makanya satu tahun cabut,” terang Sarjuni saat ditemui MettaNEWS di shelter area Taman Gesang, Kamis (23/6/2022).
Diketahui di danau Taman Jurug pada bulan Desember 2017 lalu, PT Cikal Bintang Bangsa membangun air mancur dengan laser dan pencahayaan memakai teknologi canggih. Mampu menjadikan TSTJ memiliki air mancur menari bertaraf internasional, sayangnya wahana ini tak berlangsung lama lantaran permasalahan dana. Sehingga di tahun 2019 wahana ini berhenti beroperasi.
“Padahal kalau menurut kontrak PT itu berakhir di tahun 2022 ini. Andaikan masih eksis mungkin diperpanjang lagi 25 tahun kemudian mungkin. Ya kami bersyukur waktu itu masih bisa bertahan sampai sekarang. Moga-moga dibangun ini perhatiannya lebih. Kalau setelah jadi kita ditinggalkan ya gimana,” beber Sarjuni.
Belum adanya sosialisasi dari pihak pengelola membuat para pedagang mendapat kabar akan dibangunnya sebuah jembatan di danau TSTJ. Diketahui pihak pengelola TSTJ maupun Pemerintah Kota Solo belum memberikan detail engineering design (DED). Pihaknya yang juga mendengar revitalisasi akan dilakukan selama 6 bulan, pihaknya meminta kompensasi jika tak dapat berjualan kembali.
“Justru kami dengar kabar di situ (danau) akan diberi jembatan. Kami sebagai pedagang bisa mati kutu. Syukur ada kompensasi untuk hidup, itu permohonan kami nggak bisa maksa. Kalau mereka tahu, kami nggak minta lebih minimal bisa beli beras bisa untuk makan. Kalau sampai 6-7 bulan setelah pandemi 2 tahun ya monggo, hak penguasa bagaimana memikirkan kami atau enggak. Memikirkan alhamdulillah, kalau nggak ya kami mau apa,” terangnya.
Mengalami kesedihan, pihaknya juga tak dapat memaksa pihak yang berwenang memberikan kompensasi. Sehingga dirinya hanya menyerahkan semua keputusan.
“Di sini ramai kalau ada event-event tertentu, Sabtu Minggu harian sepi. Tapi karena kita sudah berpuluh-puluh tahun di sini menekuni jadi ya sudah. Kami pernah dagang satu pekan nol persen, nggak dapat uang. Dulu pas awal di sini, tapi karena ketabahan ya sedikit-sedikit ada, akhirnya bertahan sampai sekarang,” ucapnya.
Ia yang sudah menjadi ketua paguyuban sejak 25 tahun mengerti akan kondisi para pedagang di TSTJ dari masa ke masa. Menurut Sarjuni, keberadaan wahana wisata yang hanya meledak sekejap membuat pedagang hanya mampu mencicipi banyaknya pendapatan dalam waktu singkat. Ia kembali menuturkan kondisi pendapatan para pedagang yang tak mengalami banyak peningkatan meskipun setelah pandemi usai. Sudah menjadi konsekuensi bagi para pedagang yang berjualan di objek wisata dan para pedagang selama ini bertahan dengan harapan.
“Harapannya sejak dulu orang yang usaha itu inginnya ya meningkat jadi namanya saja tempat rekreasi adanya orang cuma hari-hari tertentu misal Sabtu-Minggu. Itu pun kalau tanggal tua kadang biar pun pengunjung banyak tapi daya beli masyarakat rendah, ya memang UMK Solo juga belum tinggi. Jadi kalau dibandingkan dengan tempat wisata daerah lain, sini lebih murah, bahkan murah saja nggak ada yang mampir,” tandasnya.
Para pedagang pun bingung akan diperbolehkannya atau tidak untuk mereka menempati TSTJ yang baru sebagai tempat berdagang usai mengalami perombakan. Ia kembali menegaskan dengan adanya revitalisasi dapat berdampak baik untuk para pedagang yang harapannya tetap bisa berjualan di Taman Jurug usai pembangunan. Sebagai perwakilan pedagang dirinya mengharapkan adanya undangan untuk melakukan audiensi dengan pihak pengelola.
“Kami mau setelah dibangun bisa eksis jualan, nggak ingin demo. Revitalisasi untuk keindahan makanya ada perbaikan makanya kita dukung. Kami nunggu dipanggil (sosialisasi) istilahnya di orangkan lah. Ya pokoknya nunggu diundang, kalau nggak ya mau gimana kami wong cilik,” tutupnya.








