SOLO, MettaNEWS – Suasana Taman Sunan Jogo Kali, Pucangsawit, Surakarta, dipenuhi semangat dan keceriaan ratusan siswa baru SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta. Beragam pertunjukan tari, musik, dan kreasi seni dipentaskan dalam Pentas Seni yang menjadi puncak rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) JELAJAH SIMPON 2026, Jumat (17/7/2026).
Sebanyak 268 siswa kelas VII ambil bagian dalam kegiatan tersebut setelah mengikuti MPLS selama lima hari. Pentas seni menjadi ajang bagi para peserta didik baru untuk menunjukkan kreativitas sekaligus menutup masa orientasi dengan suasana yang penuh kegembiraan.
Setiap kelas menampilkan pertunjukan dengan konsep yang berbeda. Tari, drama, gerak berirama, hingga penampilan musik menjadi sajian yang menghibur para guru, orang tua, dan seluruh peserta yang hadir.
Salah satu siswa kelas VII SDC 4, Fastanabhan Sky Alkhalifi, mengaku senang dapat tampil bersama teman-teman sekelasnya pada puncak kegiatan MPLS tahun ini.
“Senang sekali bisa tampil satu panggung bersama teman-teman. Kegiatan ini membuat kami semakin akrab dan percaya diri,” ungkapnya.
Pentas seni tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah untuk membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Selain memperkenalkan budaya sekolah, kegiatan ini juga dirancang untuk menggali potensi, minat, dan bakat peserta didik sejak awal mereka memasuki jenjang pendidikan SMP.
Melalui kegiatan tersebut, siswa didorong untuk berani tampil di depan umum, bekerja sama dalam kelompok, sekaligus membangun rasa memiliki terhadap sekolah dan teman-teman barunya.
Wali Kelas VII SDC 4, Fina Dwi Astuti, menjelaskan bahwa kelasnya mengangkat tema “Petualang Fantasi SIMPON” dalam penampilan pentas seni.
Menurutnya, tema tersebut menggambarkan perjalanan siswa baru dalam menemukan jati diri, membangun pertemanan, serta beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru.
“Di dalam pentas seni kami mengangkat tema Petualang Fantasi SIMPON. Tema ini berfokus pada eksplorasi siswa dalam mencari jati diri masing-masing. Mereka mulai mengenal satu sama lain, bersosialisasi, berinteraksi, dan belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Melalui penampilan ini, setiap siswa mencoba menggali potensi yang mereka miliki,” jelas Fina.
Ia menambahkan, konsep fantasi dipilih agar siswa bebas berimajinasi sekaligus mengekspresikan kreativitas mereka melalui berbagai bentuk pertunjukan seni.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran karakter yang mampu menumbuhkan keberanian, kreativitas, serta semangat untuk terus berkarya.
“Dengan adanya pentas seni, siswa mampu mengembangkan minat dan bakat mereka serta berkreasi sesuai imajinasi masing-masing. Mereka seperti berada di dunia fantasi, tetapi diwujudkan dalam penampilan nyata yang mampu meningkatkan semangat belajar, kreativitas, dan rasa percaya diri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fina mengatakan bahwa proses persiapan pentas seni juga mengajarkan pentingnya kerja sama, toleransi, saling menghargai, dan rasa memiliki antarsiswa.
Melalui latihan bersama, para siswa belajar membangun komunikasi, berbagi tugas, serta menyelesaikan berbagai tantangan secara bersama-sama. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal dalam menjalani proses belajar selama menempuh pendidikan di SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta.
Ia berharap pentas seni dapat menjadi wadah bagi siswa untuk terus mengembangkan kreativitas dan keberanian tampil di depan publik.
Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat rasa kebersamaan, meningkatkan toleransi, serta menanamkan sikap saling menghormati di antara seluruh peserta didik.
“Pentas seni ini kami harapkan menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, melatih mental, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya melestarikan seni dan budaya bangsa melalui penggalian minat dan bakat siswa,” pungkasnya.
Melalui penutupan MPLS yang dikemas dalam pentas seni, SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru, tetapi juga menanamkan nilai kreativitas, kolaborasi, serta karakter positif sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari keluarga besar sekolah.








