SOLO, MettaNEWS – Solo memiliki satu museum yang sangat menarik, Museum Tumurun. Museum yang terletak di Sriwedari, Laweyan merupakan museum private gratis yang dapat dikunjungi masyarakat umum. Sudah ada sejak 2018 lalu, sang pemilik merupakan pendiri PT Sri Rejeki Isman (PT Sritex). Berbagai karya seni yang dipamerkan merupakan koleksi pribadi milik keluarga besar Lukminto. Saat ini museum ini dikelola oleh Iwan Lukminto.
Sudah empat tahun lamanya museum ini ada, tentunya para pengunjung yang ingin datang ke tempat ini makin bertambah sejalan dengan makin dikenalnya museum yang satu Ini. Ketersediaan 60 kuota setiap sesinya menjadi hal yang dirasa harus ditambah. Iwan Lukominto pun menjawab pertanyaan ini.
“Tentunya kita sekarang sudah buka hampir setiap hari ya. Itu pun sudah terbagi jadi sesi-sesi sekitar 60 pengujung setiap sesinya. Jadi kita juga karena dengan adanya protokol kesehatan dan lain-lain, tentunya kita menjaga di situ. Karena ketika Covid itu mereda kita harus tetap menjaga itu. Namun sekarang juga sudah jadi endemi di mana perlomggaran sudah ada. Kita mungkin bisa perbanyak lagi kuotanya. Setiap kali kita membuka kuota untuk pendafataran cuma berapa menit aja habis. Jadi memang antusiasnya masyarakat Solo luar biasa sekali. Ya itu ucapan terimakasih sih,” ucap Iwan saat ditemui di Tumurun Museum, Sabtu (28/5/2022) malam.
Mempunyai sisi menarik lain tidak hanya dari koleksi tetap Museum Tumurun, museum ini secara rutin selama enam bulan selalu menggandeng seniman baru untuk menyajikan karya indahnya.
“Kita di lantai atas ini kita rencanakan untuk gantian. Seni modern dengan kontemporer itu kita setiap enam bulan. Yang lalu adalah seni kita menampilkan Sudjojono ini kita menampilkan seni kontemporer dengan Aditya Novali kita rotasi seperti itu. Lebih ke jenis seninya yang kita tampilkan. Masih kejutan supaya tetep mengundang antusias biar berkunjung terus. Koleksi permanen dari Tumurun Musem,” tutupnya.
Manager Museum Tumurun, Vilmala Sari mengatakan konsep Night at The Museum merupakan konsep baru yang justru mendaptakan antusias pengunjung yang banyak.
“Antusias itu sangat-sangat, meriah ya kalau saya bilang. Karena kan selama ini bukanya museum kan siang kemudian ini kita ada program Night At Museum.jadi itu membuat antusias orang-orang terutama anak-anak muda yaitu jadi seneng banget gitu lo. Biasa kalau Night at Museum itu kan nggak ada gitu lo biasanya kalau kita denger itu di acara film,” ucap wanita yang akran disapa sebagai Sari saat ditemui di Museum Tumurun, Sabtu (28/5/2022).
Tapi kalau kita bikin acara itu jadi membuat anak-anak muda wah apa ya ini. Jadi penasaran mereka itu berkunjung kemuseum kami. Dengan kunjungan anak-anak muda ini kita bisa seperti memperkenalkan lagi gitu lo. Seni itu apa, karena di kota kami di Kota Solo ya merupakan kota budaya.
Baginya, Solo lebih dikenal dalam sisi kuliner, justru dalam seni budaya anak muda kurang dapat meliha ini sebagai hal yang menarik.
“Jadi justru budayanya itu kan tidak dikenal oleh anak-anak muda justru kulinernya. Kita Tumurun Museum ini memiliki misi untuk membangun seni di Kota Solo. kita juga tidak ada menjual tiket masuk jadi memang kita free untuk anak-anak muda terutama siswa dan mahasiswa untuk melihat langsung dengan seni dari modern art kontemporer art dari lokal maupun dari internasional jadi mereka memahami gitu kalau melihat secara langsung,” ucapnya.
Seni yang hanya tertuang di buku juga nampak berbeda jika dibandingkan dengan karya yang dipajang dalam sebuah pameran.
“Namun kalau dari buku kan itu hanya buku ya dari kertas. Tapi kalau melihat langsung karyanya itu akan nampak berbeda. Mereka jadi lebih kreatif lebih memiliki karya gitu membangun negara Indonesa ini melalui seni. Kira-kira sudah empat kali kita memang baru-baru aja mengadakan ini karena jarang-jarang ada acara seperti ini. Jadi kita bukanya ya jarang-jarang ya kita mungkin setahun baru dua kali ini,” tambahnya.
Meskipun kuota yang ada terbatas 60 kuota, namun museum membuka pendaftaran dalam beberapa sesi setiap harinya.
“Kalau setiap malam Minggu ini kita buka 60 kuota. Jadi untuk segi keamanan itu kita memikirkan nggak asal misal kita buka 100 gitu tapi segi kemanannya nggak kita pikirkan. Supaya nyaman lah antara pengunjung yang lain dengan pengunjung yang satu itu melihat karya seni tidak bertabrakan. Tidak menyentuh karya seni,” tutupnya.








