SOLO, MettaNEWS – Lampion karakter di Bundaran Gladag – Jenderal Sudirman (Jensud) hingga Plaza Balai Kota Solo mampu menciptakan animo yang luar biasa di setiap Tahun Baru Imlek. Bagaimana tidak, desainnya yang unik dengan perpaduan warna warni, menyala saat malam hari menjadikannya sebagai spot wisata yang luar biasa menarik.
Kehadiran lampion karakter Imlek ini menyedot perhatian masyarakat tidak hanya Solo namun juga luar kota. Maka tak ayal jika di waktu-waktu ini, Kota Solo khususnya di area Balai Kota hingga Pasar Gede menjelma menjadi pusat keramaian yang tak ada habisnya.
Ketika bertanya, siapa orang di balik karya-karya lampion karakter menarik itu?. Jawabannya adalah Prasetyo (46), pria asal Grogol, Kabupaten Sukoharjo yang telah menggeluti usaha Omah Lampion selama 2 dekade lebih. Tak hanya Imlek, Prasetyo juga menggarap lampion untuk perayaan hari-hari besar kegamaan lainnya.
Di tahun ini, rumah produksinya membuat sekitar 40-an lampion karakter Imlek dengan kisaran harga Rp 4 – 15 juta. Lampion karakter itu diantaranya 12 lampion Shio, 10 lampion kuda, 2 lampion Dewa Rejeki, lampion shio karakter kartun, lampion Journey To The West hingga lampion photo booth di sepanjang jalan Jenderal Sudirman, Plaza Balai Kota.
“Saya biasa didapuk untuk membuat lampion Natal, Imlek, Waisak, Idul Fitri. Untuk Imlek ini khususnya karakter kuda karena tahun ini shionya kuda, ada yang maskot kuda di Bundaran Gladag, perempatan Telkom sama di Plaza Balai Kota, yang paling besar tiga, di Plaza Balai Kota ada keluarga kuda ada 3 kuda, mesin penggerak ada robotiknya,” ujar Prasetyo.
Proses pembuatan lampion tak semudah yang dibayangkan. Pemesanan juga sudah dilakukan bahkan 1 tahun sebelumnya. Prasetyo pun telah memahami ritme kejar tayang seperti ini. Terlebih di tahun ini, pertama kalinya dalam sejarah aka nada perpaduan lampion Imlek dan Ramadan.
“Pemesanan sudah satu tahun bikin, Natal turun langsung persiapan konsep berikutnya. Kebetulan tahun ini nanti sekalian Ramadan, rencananya tahun ini separuh-separuh Ramadan sama Imlek, dalam sejarah baru ini, rencananya yang di Jensud juga nggak dilepas, ditambah ornamen Ramadan, semakin banyak tambah 10-an,” urainya.
Lampion Imlek ini akan menyala pada 30 Januari 2026 dan akan berlangsung selama satu bulan hingga Cap Go Meh tiba pada 3 Maret 2026. Menariknya ketimbang tahun-tahun sebelumnya, lampion karakter tahun ini lebih banyak menggunakan robotik atau penggerak.
“Pemasangannya sudah sejak pertengahan Januari, kita cicil dulu beberapa bagian. Dan yang paling besar di pasang di Plaza Balai Kota. Perbedaan yang paling mencolok ada robotiknya semakin banyak mesin penggerak semakin inovatif, penambahan lampu hias gantung di Jensud, tahun-tahun sebelumnya nggak ada,” jelasnya.
Lampion karakter setinggi 2 meter ini menjadi simbol kerukukan dan toleransi di Kota Solo sangat terjaga. Hal ini menjadikan Kota Solo sebagai tolak ukur bagi daerah-daerah sekitar.
“Antusias orang-orang malah banyak yang dari luar kota, jadi tolak ukur luar kota Solo, kaya Boyolali minta dibuatkan event city light,” tambahnya.
Selain lampion karakter, terdapat gapura Imlek dan 5.000 lampion merah di seputaran jembatan Kali Pepe dan sekitar Pasar Gede.








