Solo Matangkan Konsep Food Smart City, Perkuat Ketahanan Pangan dari Rumah Tangga hingga Sekolah

oleh
oleh
Gita Pertiwi gelar media briefing Kota Cerdas Pangan atau Food Smart City, Kamis (20/8/2026) | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta terus memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan perkotaan melalui pengembangan konsep Solo sebagai Kota Cerdas Pangan (Food Smart City).

Bekerja sama dengan Yayasan Gita Pertiwi, Pemkot Solo mengintegrasikan berbagai program sistem pangan dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut mencakup penguatan rantai pasok lokal, kemandirian pangan rumah tangga, pengelolaan sampah organik, hingga penanganan sisa makanan atau food loss and food waste.

Direktur Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, mengatakan Solo menjadi salah satu daerah pelopor yang telah memiliki peta jalan (roadmap) sistem pangan berkelanjutan. Dokumen tersebut menjadi acuan untuk memastikan program pangan daerah berjalan terarah dan dapat dievaluasi secara berkala.

“Dari puluhan kota yang bergabung di Pakta Milan, baru Kota Solo yang sudah memiliki peta jalan (roadmap) jelas. Harapannya, peta jalan ini dapat terus dimonitor dan dievaluasi layaknya Rencana Aksi Daerah (RAD) pangan gizi,” ungkap Titik Eka Sasanti dalam media briefing di Solo, Kamis (20/8/2026)..

Menurutnya, keberadaan roadmap memberikan kejelasan mengenai indikator capaian sekaligus membantu mengintegrasikan program antardinas dan lembaga mitra.

Dengan demikian, berbagai program yang dijalankan dapat lebih selaras, efisien, serta memiliki target dampak sosial yang jelas bagi masyarakat.

Tiga Pilar Food Smart City Solo

Pengembangan sistem pangan berkelanjutan di Kota Surakarta bertumpu pada tiga pilar utama.

Pertama, kemandirian pangan skala rumah tangga dengan mengoptimalkan pekarangan maupun lahan terbatas untuk budidaya tanaman pangan.

Kedua, ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah organik, terutama dengan memanfaatkan sisa makanan dan sampah dapur agar tidak menjadi beban lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Ketiga, pemenuhan pangan sehat bagi anak usia dini dan usia sekolah melalui penyediaan makanan bergizi, aman, dan seimbang.

Ketiga pilar tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkot Solo dalam menghadapi tantangan sistem pangan perkotaan, terutama karena keterbatasan lahan pertanian.

Dorong Urban Farming di Tengah Keterbatasan Lahan

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Surakarta, Wahyu Kristina, mengatakan kondisi Solo yang memiliki keterbatasan lahan pertanian membuat inovasi pangan perkotaan menjadi kebutuhan.

Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan bahan pangan, tetapi juga menyangkut keterjangkauan dan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan.

“Prinsip utamanya adalah jangan sampai ada warga yang lapar. Pangan harus mudah diakses dengan harga terjangkau. Karena Solo memiliki keterbatasan lahan pertanian, kami terus mendorong kemandirian pangan skala rumah tangga melalui pemanfaatan limbah dan budidaya tanaman hortikultura,” terang Wahyu Kristina.

Salah satu strategi yang dikembangkan adalah pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai pupuk organik cair maupun kompos.

Pemanfaatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari edukasi urban farming di tingkat masyarakat. Dengan cara ini, biaya produksi tanaman hortikultura seperti cabai, sayuran hijau, dan berbagai bumbu dapur dapat ditekan.

Program tersebut juga mendorong masyarakat memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan rumah, RT maupun RW untuk menghasilkan sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.

Kantin Sehat Jadi Bagian Food Smart City

Pilar pemenuhan pangan sehat juga diarahkan ke lingkungan sekolah. Program tersebut sejalan dengan upaya menjadikan Solo sebagai Kota Layak Anak sekaligus membangun generasi yang memiliki pola konsumsi sehat sejak dini.

Dinas Pendidikan Kota Surakarta memperluas edukasi mengenai porsi gizi seimbang dan mendorong penerapan standar kantin sehat di sekolah.

Perwakilan Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dimas Teguh Saputra, mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada sekolah.

“Pihak kami saat ini terus menggencarkan sosialisasi kantin sehat. Sejauh ini sudah ada empat sekolah di Kota Surakarta yang berhasil memberlakukan standar kantin sehat, di antaranya SD Negeri Cemara 2 No. 13 dan SD Muhammadiyah 1 Solo,” jelas Dimas Teguh Saputra.

Penerapan kantin sehat antara lain dilakukan melalui pengurangan jajanan dengan kandungan penyedap tinggi, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta penyediaan makanan bergizi seimbang dengan harga yang tetap terjangkau siswa.

Langkah tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan konsumsi makanan sehat sejak usia sekolah.

Food Waste Diolah Jadi Kompos dan Pakan Maggot

Selain memperkuat produksi dan konsumsi pangan, Pemkot Solo juga memberikan perhatian terhadap persoalan food loss and food waste.

Sampah organik dari rumah tangga, pasar tradisional, hotel maupun sumber lainnya didorong untuk dipilah dan diolah kembali. Upaya ini menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular dalam sistem pangan perkotaan.

Salah satu pemanfaatannya adalah mengolah sampah organik menjadi kompos yang dapat digunakan kembali oleh kelompok tani perkotaan untuk budidaya tanaman hortikultura.

Sisa makanan juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot Black Soldier Fly (BSF) yang kemudian mendukung kebutuhan pakan alternatif untuk budidaya perikanan maupun peternakan skala kecil.

Pengelolaan sampah organik dari sumbernya juga membantu mengurangi penumpukan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA). Langkah tersebut sekaligus berpotensi menekan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, lembaga pendidikan, dan mitra lingkungan, Pemkot Solo optimistis konsep Food Smart City dapat menjadi solusi menghadapi tantangan pangan di kawasan perkotaan.

Konsep tersebut tidak hanya diarahkan untuk memastikan pangan tersedia, tetapi juga menciptakan sistem pangan yang sehat, mandiri, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Dengan adanya roadmap sistem pangan berkelanjutan, Solo pun berupaya menempatkan diri sebagai salah satu percontohan nasional dalam membangun ketahanan pangan perkotaan berbasis kemandirian masyarakat dan ekonomi sirkular.