Wawali Astrid Buka Pameran Alumni ISI Surakarta, “Tenun Imagi” Jadi Simbol Pertemuan Gagasan Seni

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS — Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani membuka Pameran dan Bursa Seni Rupa Alumni ISI Surakarta Sinergi #4 bertajuk “Tenun Imagi” di Galeri Seni Rupa, Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (2/10/2026) malam.

Dalam pembukaan tersebut, Astrid juga secara simbolis melukis sebuah Vespa sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pameran yang mempertemukan puluhan seniman alumni STSI/ISI Surakarta.

Pameran yang berlangsung pada 2–9 Oktober 2026 tersebut menjadi ruang bagi para alumni untuk kembali berkarya, bersilaturahmi, memperkuat jejaring, sekaligus mempertemukan beragam gagasan dan ekspresi seni rupa.

Masyarakat dapat mengunjungi pameran tersebut secara gratis setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB.

Astrid menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Alumni STSI/ISI Surakarta yang terus menjaga semangat berkesenian dan berkarya. Menurutnya, seni tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan tumbuh dari pengalaman, lingkungan, kebudayaan, perjumpaan antarmanusia, serta keberanian seniman menerjemahkan apa yang dilihat, dirasakan, dan dipikirkan ke dalam karya.

“Tema Tenun Imagi memiliki makna yang menarik. Tenun merupakan proses mempertemukan banyak helai menjadi satu kesatuan. Satu benang mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dipadukan dengan benang lainnya, dengan warna, pola, tekstur, dan keterampilan manusia, dapat menjadi sebuah karya yang memiliki makna,” kata Astrid.

Menurut Astrid, konsep tersebut juga menggambarkan bagaimana pengalaman, ingatan, tradisi, perubahan zaman, persoalan sosial, lingkungan hingga harapan masa depan dapat menjadi benang-benang gagasan bagi seorang seniman.

Benang-benang gagasan tersebut kemudian dirangkai menjadi karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa pengalaman dan pesan tertentu kepada masyarakat.

Karena itu, Astrid menyebut Pameran Sinergi #4 bukan sekadar ruang untuk menghadirkan dan menikmati karya seni. Lebih dari itu, pameran menjadi ruang dialog antara seniman dengan penikmat seni, pengalaman masa lalu dengan realitas hari ini, serta tradisi dengan berbagai kemungkinan baru di masa depan.

“Surakarta memiliki perjalanan panjang sebagai kota budaya. Dalam kehidupan kota, seni bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi bagian dari identitas sekaligus dinamika masyarakat,” ujarnya.

Perkuat Ekosistem Seni dan Budaya

Astrid menambahkan, keberlangsungan ekosistem kebudayaan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, seniman, akademisi, komunitas, dunia usaha hingga masyarakat.

Menurutnya, pameran menjadi salah satu ruang penting untuk memberikan kesempatan kepada seniman berekspresi sekaligus membuka akses masyarakat agar dapat menikmati, memahami dan mengapresiasi karya seni.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai ruang silaturahmi alumni, tetapi berkembang menjadi ruang regenerasi, apresiasi, eksperimentasi dan pertemuan berbagai gagasan yang memperkaya kehidupan seni dan budaya di Surakarta maupun Jawa Tengah.

“Dunia terus berubah, teknologi berkembang, cara manusia berkomunikasi berubah, dan cara masyarakat melihat lingkungan serta kebudayaan juga terus berkembang. Namun, seni tetap memiliki kekuatan yang tidak tergantikan, yaitu kemampuan manusia untuk memberikan makna terhadap apa yang terjadi di sekitarnya,” katanya.

Pameran dan Bursa Seni Rupa Alumni ISI Surakarta Sinergi #4 “Tenun Imagi” menghadirkan puluhan seniman alumni STSI/ISI Surakarta dengan beragam karya seni rupa.

Pembukaan pameran juga dimeriahkan penampilan Solo Guitar oleh Yoga Major Guitar serta Tari Kreasi Tradisi Dayak Kenyah Kutai Timur oleh Punati Mahinukia Alyaista.

Selain menjadi ruang pamer, kegiatan tersebut juga menjadi wadah pertemuan para alumni dan pelaku seni untuk memperkuat jejaring sekaligus memperkenalkan karya seni kepada masyarakat.

Puluhan seniman yang berpartisipasi dalam pameran tersebut di antaranya Agus Ari Nugroho, Agus Prayono, Agus Wahyudi, Agus Ardianto, Agus Satria, Agus Tri Purwanto, Agus Widiatmoko, Ana Nurhayati, Arif Rachman, Arianto Suryono, C. Wahyu Wicaksono, Cipyo Wibowo, Darto Setyow, Desi Anggraeni, Dian Setiawan, Eko Prasetyo, Elyia Susanti, Ferry Wibowo, Herianto, Hermininggih, Irawan Kurniawan, Joko Santoso, Lilik Bambang, Lufli B. Santoso, M. Dani Nursyam, Mulyana, Nanik Rahayu, Nia Kurniawati, Oktaviana R. Dwi Kristianto, P. M. Wulandari, Sari Yanti, Siti Aminah, Taufik Hidayat, Totok Sugiarto, Tri Wibowo, Wahyu Setyawan, Widi Astuti, Yudi Hermawan, Yudi Wuryanto, Zainal Arifin, Zahra Fadilah, Agus Prasetyo dan Rian Maulana.

Melalui “Tenun Imagi”, pameran tersebut sekaligus menegaskan bahwa seni dapat menjadi ruang pertemuan berbagai latar belakang, pengalaman dan gagasan. Dari beragam “benang” itulah, lahir karya sekaligus dialog baru yang terus menghidupkan ekosistem seni dan budaya di Surakarta.