Viral Penutupan Expo UKM ISI Surakarta, Kampus Bentuk Komite Mahasiswa untuk Investigasi

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS  – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta merespons kejadian yang viral di media sosial terkait penutupan Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pada Jumat (21/8/2026) di Pendopo ISI Surakarta.

Rektor ISI Surakarta Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn., mengatakan pihak kampus telah melakukan serangkaian pembahasan bersama jajaran pimpinan untuk menentukan langkah yang akan ditempuh menyikapi kejadian tersebut.

Menurut Bondet, ISI Surakarta akan membentuk Komite Etik Mahasiswa yang bekerja sama dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPKPT) untuk melakukan investigasi terhadap kejadian yang berlangsung setelah acara Expo UKM tersebut selesai.

“Memang kemarin viral. Hari ini kita akan mencoba untuk menjawab apa yang sempat menjadi twit dari teman-teman netizen di media sosial terkait dengan kemungkinan-kemungkinan pemberian sanksi pada para pelaku,” ujar Bondet.

Ia menjelaskan, acara Expo UKM pada Jumat (21/8/2026) sebenarnya telah selesai dan ditutup oleh pembawa acara. Namun, setelah penutupan terjadi euforia dari sebagian peserta yang kemudian direkam dan videonya beredar di media sosial hingga menjadi viral.

Bondet menegaskan, pihak kampus tidak menutup kemungkinan memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang terbukti terlibat dalam tindakan yang melanggar etika. Namun, keputusan tersebut akan dilakukan melalui mekanisme yang berlaku di lingkungan ISI Surakarta.

“Kami juga tidak menutup kemungkinan nanti kita akan memberikan sanksi pada pihak-pihak yang terlibat atas dasar keputusan dari Komite Etik Mahasiswa. Artinya, kami punya peraturan di sini yang memang harus melibatkan Komite Etik Mahasiswa dan juga Satgas PPKPT yang akan berembuk, berkolaborasi, dan nantinya akan memberikan sanksi-sanksi terkait dengan perilaku mahasiswa yang dianggap melanggar etika,” jelasnya.

ISI Surakarta Perkuat Nilai Budaya dan Etika

Selain melakukan investigasi, ISI Surakarta juga berkomitmen memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai nilai-nilai luhur budaya Nusantara, adat, serta etika di lingkungan kampus.

Salah satu langkah yang disiapkan yakni menggelar stadium general pada 28 Agustus 2026. Kegiatan tersebut ditujukan terutama bagi mahasiswa baru sebagai bagian dari penguatan pemahaman mengenai nilai budaya dan karakter ISI Surakarta.

Bondet mengatakan, penguatan nilai budaya tidak hanya diberikan melalui kegiatan khusus, tetapi juga melalui mata kuliah yang telah tersedia di lingkungan akademik ISI Surakarta.

“Kami punya beberapa mata kuliah yang bisa dikaitkan tentang hal itu, terutama mata kuliah Wawasan Budaya Nusantara. Kemudian ada mata kuliah SD3 Nusantara. Itu nanti untuk mahasiswa lama. Jadi yang mahasiswa baru kita berikan di awal melalui stadium general,” katanya.

Menurutnya, nilai-nilai budaya tersebut penting dipahami seluruh civitas akademika ISI Surakarta.

“Nilai-nilai ini memang wajib dipahami oleh seluruh civitas akademika,” tegas Bondet.

ISI Surakarta juga akan melakukan penguatan pemahaman bagi mahasiswa lama maupun civitas akademika, termasuk dosen yang baru bergabung, mengenai nilai budaya yang menjadi bagian penting dari identitas kampus.

Masyarakat Diminta Laporkan Jika Ada Temuan

Bondet juga mengapresiasi perhatian masyarakat terhadap berbagai kejadian yang berlangsung di lingkungan ISI Surakarta. Ia menyebut kepedulian publik menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan kampus.

Namun, apabila masyarakat menemukan kejadian yang dinilai kurang berkenan, pihak kampus meminta agar laporan disampaikan melalui kanal resmi.

“Kami sangat mengapresiasi kepedulian dan antusias masyarakat terhadap hal-hal yang terjadi di ISI Surakarta. Di masa mendatang jika ada hal-hal yang kurang berkenan nanti dapat dilaporkan langsung pada platform-platform yang tersedia, bisa melalui situs resmi ISI Surakarta maupun link laporan di Satgas PPKPT,” ujarnya.

Selain itu, ISI Surakarta akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan kemahasiswaan di lingkungan kampus.

ISI Surakarta Klarifikasi Mahasiswa Baru Tidak Terlibat

Sementara itu, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Surakarta, Aris Setiawan, meminta masyarakat tidak terburu-buru mengaitkan kejadian viral tersebut dengan mahasiswa baru.

Menurut Aris, pihak fakultas menerima sejumlah laporan dari orang tua mahasiswa baru yang merasa khawatir akibat komentar-komentar di media sosial yang menyudutkan mahasiswa baru.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa baru tidak boleh dijustifikasi sebagai pihak yang terlibat dalam kejadian tersebut.

“Banyak sekali di media sosial yang berkembang menyalahkan seolah-olah mahasiswa baru. Kami ingin memberikan statement pada hari ini bahwa kejadian tersebut mohon untuk disampaikan kepada publik untuk tidak menjustifikasi sebagai maba, maba seorang terlibat dan lain sebagainya,” kata Aris.

Aris menilai mahasiswa baru masih berada dalam tahap awal mengenal lingkungan ISI Surakarta, termasuk memahami konteks budaya yang melekat pada kampus dan Pendopo ISI Surakarta.

“Kalaupun ada, mohon tidak dijadikan sebagai sebuah kesalahan karena mereka baru masuk. Mereka belum pernah tahu bagaimana konteks di Surakarta dibangun, bagaimana Pendopo itu harus dihargai dan sebagainya,” jelasnya.

Karena itu, ia meminta masyarakat memberikan ruang bagi mahasiswa baru untuk belajar dan memahami karakter serta nilai budaya yang menjadi bagian dari kehidupan akademik di ISI Surakarta.

“Jadi mohon untuk tidak menjadi kasih kepada mahasiswa baru kami karena kasihan mereka baru masuk. Mereka adalah anak baru yang baru pertama kali mengenal ISI Surakarta,” tegas Aris.

Hadirkan Mantan Rektor untuk Beri Pemahaman Mahasiswa Baru

Sebagai bagian dari upaya penguatan nilai budaya, FSP ISI Surakarta akan menghadirkan mantan Rektor ISI Surakarta, Prof. Dr. Sutarno, dalam stadium general bagi mahasiswa baru.

Aris menjelaskan, Sutarno dipilih karena memiliki pengalaman panjang dan memahami perjalanan ISI Surakarta sejak masih bernama STSI.

“Beliau Pak Prof Sutarno ini dulu adalah mantan Rektor kami yang sudah mengenal jejak perjalanan panjang ISI Surakarta dari asli STSI dan juga pernah melalui perjalanan terkait dengan bagaimana karakter kampus ini dibangun,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa baru diharapkan memahami karakter kampus, termasuk bagaimana memperlakukan berbagai ruang dan benda yang memiliki nilai budaya, seperti pendopo, keris, gamelan, dan berbagai perangkat seni tradisi lainnya.

Kegiatan tersebut juga direncanakan disiarkan secara langsung sehingga mahasiswa lainnya dapat mengikuti materi yang disampaikan.

Evaluasi Seluruh Kegiatan Kemahasiswaan

Rangkaian langkah yang disiapkan ISI Surakarta tidak berhenti pada investigasi terhadap kejadian Expo UKM. Kampus juga akan mengevaluasi seluruh kegiatan kemahasiswaan agar pelaksanaan kegiatan ke depan tetap sejalan dengan nilai etika dan budaya yang dijunjung tinggi.

Aris mengatakan seluruh civitas akademika, termasuk dosen baru yang belum lama bergabung, juga perlu memahami sejarah dan nilai-nilai yang menjadi dasar berdirinya ISI Surakarta.

“Kami mencoba untuk pada suatu saat nanti mengumpulkan mereka untuk memberi pemahaman terkait dengan bagaimana ISI Surakarta itu dibangun, nilai-nilai kebudayaan apa yang mendasarinya, dan kenapa nilai budaya itu penting untuk kita hargai pada hari ini,” katanya.

Dengan langkah tersebut, ISI Surakarta berharap kejadian viral penutupan Expo UKM dapat menjadi momentum evaluasi sekaligus penguatan karakter mahasiswa dan seluruh civitas akademika.

Kampus menegaskan komitmennya untuk menjaga nilai luhur budaya Nusantara, adat, dan etika sekaligus memastikan setiap dugaan pelanggaran ditangani melalui mekanisme yang objektif dan sesuai aturan yang berlaku.