Mahasiswa DKV ISI Surakarta Gelar Workshop Gantungan Kunci Clay di SLB YPAC, Asah Kreativitas dan Kemandirian Siswa Berkebutuhan Khusus

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta menggelar workshop pembuatan gantungan kunci berbahan air dry clay bagi siswa SDLB D YPAC Surakarta. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak (ProMaDam) FSRD ISI Surakarta Tahun 2026 ini bertujuan meningkatkan kreativitas, keterampilan, sekaligus rasa percaya diri peserta didik berkebutuhan khusus melalui praktik seni yang menyenangkan.

Workshop yang diprakarsai mahasiswa DKV ISI Surakarta, Audia Sahara Maharani, tersebut dilaksanakan pada 17 Juli 2026 di Aula SLB D & D1 YPAC Surakarta. Selama kegiatan berlangsung, para siswa diajak mengenal karakteristik air dry clay, mempelajari teknik dasar membentuk objek tiga dimensi, proses pewarnaan, hingga tahap akhir pemasangan ring gantungan kunci.

Setiap tahapan dilakukan secara bertahap dengan pendampingan intensif agar seluruh peserta dapat mengikuti proses sesuai kemampuan dan karakteristik belajar masing-masing.

Suasana workshop berlangsung hangat dan interaktif. Para siswa tampak antusias menuangkan ide menjadi beragam bentuk unik dengan kombinasi warna yang beragam. Hasil karya yang dihasilkan pun memiliki karakter masing-masing, mencerminkan kreativitas dan imajinasi para peserta.

Selain menghasilkan produk kerajinan, kegiatan ini juga menjadi sarana melatih koordinasi motorik halus, meningkatkan konsentrasi, ketelitian, serta kemampuan siswa menyelesaikan proses kerja secara bertahap.

Dosen pembimbing ProMaDam dari Program Studi Desain Mode Batik FSRD ISI Surakarta, Luluk Khoironi Maknun, mengatakan bahwa workshop tersebut tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa produk, tetapi lebih menitikberatkan pada proses pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa untuk bereksplorasi dan mengekspresikan diri melalui media seni.

Menurutnya, pendekatan kreatif seperti ini mampu meningkatkan rasa percaya diri peserta didik karena mereka dapat menghasilkan karya yang layak diapresiasi oleh masyarakat.

“Kegiatan Workshop Gantungan Kunci Clay ini tidak hanya berorientasi pada hasil akhir produk, tetapi juga pada proses pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk bereksplorasi, mencoba, dan mengekspresikan diri melalui media seni. Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam menghasilkan karya yang dapat diapresiasi oleh masyarakat luas,” ujar Luluk.

Kepala SLB D YPAC Surakarta, Jalaludin Khawarizmi, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dengan Sekolah Luar Biasa menjadi langkah positif dalam menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda sekaligus mengembangkan potensi siswa secara optimal.

“Kami berterima kasih kepada mahasiswa yang sudah membantu kegiatan sekolah terutama dalam penyelenggaraan workshop kreativitas pembuatan gantungan clay ini. Kegiatan workshop gantungan clay ini sangat luar biasa karena, selain anak-anak bisa belajar membuat gantungan kunci, mereka juga melatih motorik, kesabaran, serta meningkatkan kreativitas,” katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sehingga menjadi langkah awal bagi siswa untuk menghasilkan produk kreatif yang memiliki nilai jual.

“Harapan dari sekolah, kegiatan kreatif dari clay ini dapat terus berlanjut sebagai langkah awal siswa dalam menciptakan sebuah produk kreatif yang memiliki nilai jual. Saya berharap juga kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai bentuk kolaborasi antara pendidikan tinggi dan sekolah luar biasa,” tambahnya.

Apresiasi serupa disampaikan mentor pendamping dari YPAC Surakarta, Wiwik Haryanti. Ia menilai metode pembelajaran berbasis praktik mampu membangun keterlibatan aktif siswa selama proses workshop berlangsung.

“Anak-anak terlihat aktif dan antusias selama proses pembuatan gantungan clay berlangsung. Saya melihat anak-anak mempunyai kepekaan yang kuat terhadap sesama, dimulai dari mereka saling berbagi ide dan mulai berkolaborasi menyusun clay, saling menunggu dengan sabar ketika bergantian menggunakan alat yang tersedia, hingga membantu temannya berproses,” tuturnya.

Menurut Wiwik, kegiatan tersebut juga sangat bermanfaat dalam melatih kemampuan motorik halus siswa karena sejalan dengan aktivitas pembelajaran di sekolah, termasuk latihan menulis.

“Saya rasa workshop ini sangat bermanfaat, terutama dalam melatih motorik anak. Saya harap dari workshop ini anak-anak mampu meningkatkan kreativitasnya dalam membuat suatu produk kreatif dengan bahan baku yang sama,” ujarnya.

Sementara itu, penyelenggara sekaligus pemateri workshop, Audia Sahara Maharani, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi ilmu Desain Komunikasi Visual untuk mendukung pendidikan inklusif melalui pendekatan kreatif.

Menurutnya, seni merupakan media pembelajaran yang efektif karena memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk berekspresi tanpa batas.

“Melalui workshop ini, saya ingin mengajak siswa SLB YPAC Surakarta untuk mengenal proses kreatif secara sederhana namun menyenangkan. Saya berharap pengalaman ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus memberikan motivasi kepada siswa untuk terus berkarya,” jelas Audia.

Ia menambahkan, keterampilan membuat kerajinan dari air dry clay juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi yang dapat mendukung kemandirian peserta didik di masa depan.

“Ke depannya, keterampilan seperti ini juga berpotensi dikembangkan menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi sehingga dapat mendukung kemandirian mereka,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, ISI Surakarta bersama SLB D & D1 YPAC Surakarta berharap kolaborasi di bidang pendidikan kreatif dapat terus berlanjut. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan lebih banyak program pemberdayaan yang mengembangkan keterampilan, kreativitas, serta membuka peluang bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk menghasilkan karya yang bernilai, bermanfaat, dan memiliki potensi ekonomi.