SOLO, Metta NEWS – Walikota Solo Gibran Rakabuming merespon baik data yang dirilis oleh Setara Institute. Dalam data tersebut Solo menempati urutan ke-9 dalam indeks kota toleran (IKT) di Indonesia 2021 dengan skor IKT 5.783.
“Iya, Solo nomor sembilan ya? Nomor satunya Singkawang ya? kemarin tak lihat ada Singkawang, Bekasi,” kata Gibran usai kegiatan Kick Off Layanan Penukaran uang baru di Pasar Legi, Jumat (1/4/2022).
Sepuluh kota yang ditetapkan Setara Institute sebagai kota toleran, yakni Singkawang (6,483), Manado (6,400), Salatiga (6,367), Kupang (6,337), Tomohon (6,133), Magelang (6,020), Ambon (5,900), Bekasi (5,830), Surakarta (5,783) dan Kediri (5,733).
“Perlu ditingkatkan lagi lah. Terima kasih untuk warga Kota Solo ini sebuah kebanggaan,” ujar Gibran.
Gibran menyebut salah satu pendukung sehingga Solo mendapatkan skor tinggi sebagai kota toleran salah satunya adalah adanya perayaan Imlek yang menjadi agenda tahunan.
“Mungkin karena Imlek itu ya. Yang merayakan bukan hanya kaum Tionghoa namun semua warga ikut merasakan kegembiraan juga,” tuturnya.
Dengan pencapaian tersebut Gibran meminta kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan meningkatkan toleransi.
“Yang penting kita menanamkan sifat-sifat ini ke anak-anak muda, kita ingatkan lagi, juga ke anak-anak kita,” tandasnya.
Walikota muda ini melihat toleransi di Solo cukup baik namun tetap harus selalu memupuk dan saling menjaga satu sama lain.
“Cukup baik, kemarin kita juga baru saja melantik ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kita sering sarasehan juga dengan pemuka agama, semuanya rukun kok,” pungkasnya.
Setara Institute melaksanakan riset indeks kota toleran (IKT) tahun 2021. Riset tersebut mengukur skor toleransi terhadap 94 kota di seluruh Indonesia. Setara Institute menetapkan empat variabel dan delapan indikator yaitu regulasi pemerintah kota, kebijakan diskriminatif, tindakan pemerintah dan tindakan nyata terkait peristiwa intoleran, regulasi sosial (peristiwa intoleransi) dan dinamika masyarakat sipil terkait peristiwa intoleransi, serta demografi agama dan inklusi sosial-keagamaan.







