SOLO, MettaNEWS – Abdul Karim Putra Wibowo, santri SMP Pesantren Tahfidz Az-Zayidiyy Sanggrahan Sukoharjo yang diduga jadi korban bullying sempat membuat status Instagram sebelum dirinya meninggal dunia.
Status Instagram itu ia buat 5 jam sebelum ia dinyatakan meninggal dunia pada Senin (16/9/2024) siang.
Guru ngaji korban sewaktu SD, Slamet Widodo mengatakan sang anak, KA lah yang mengetahui status korban tersebut. Dalam status tersebut, korban meminta maaf sekaligus meminta doa kepada ibundanya.
“Lima jam sebelum ada kabar beliau (Karim-red) meninggal, anak saya (KA) membuka status Instagramnya. Anak itu membuat status minta maaf kepada ibunya, minta doanya supaya dia bisa melewati hari-hari dia. Meninggal habis zuhur, minta maaf ke ibunya karena belum bisa menjadi 100 persen harapannya, minta doa ibunya karena hanya doa ibunya yang bisa membuat dia keluar dari permasalahan dia,” beber Slamet saat ditemui di TPU Purwoloyo, Selasa (17/9).
Sebagai guru ngaji, Slamet kerap berinteraksi dengan Karim. Ia juga sempat menanyakan kondisi Karim setelah mondok selama satu tahun di Ponpes Az-Zayidiyy.
“Anak itu selalu berinteraksi dengan saya. Setiap dia pulang selalu ke rumah saya, saya selalu tanya ada cerita apa di pondok, kerasan nggak di sana? Bilangnya aman pakdhe nggak ada masalah. Anak saya teman baiknya almarhum,” terang Slamet.
Karim merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sepengetahuan Slamet, bersekolah di Ponpes Az-Zayidiyy merupakan keinginan almarhum.
“Mondok keinginan almarhum dan orangtua terutama papanya, penginnya Karim jadi penghafal Al Qur’an jadi lebih baik. Saya kira anaknya tidak terpaksa, kalua alasan memilih pondok itu kurang tahu,” pungkasnya.







