Riwayatmu Kini! Setelah 21 Tahun Berdiri, Pusat Grosir Solo Resmi Tutup

oleh
oleh
Pusat Grosir Solo (PGS) | Foto : https://pusatgrosirsolo.com/

SOLO, MettaNEWS – Suara lakban yang direkatkan ke kardus terdengar berulang di sudut-sudut Pusat Grosir Solo (PGS), Selasa (4/8/2026) sore. Sesekali troli besi berderit melintasi lorong yang mulai lengang. Tak ada lagi teriakan pedagang menawarkan pakaian kepada pembeli. Tak terdengar pula tawar-menawar yang selama bertahun-tahun menjadi irama keseharian gedung itu.

PGS sedang mengucapkan selamat tinggal.

Setelah lebih dari dua dekade menjadi salah satu ikon wisata belanja Kota Solo, pusat grosir yang berdiri sejak 2005 itu resmi menghentikan operasionalnya. Putusan pailit pengadilan terhadap pengelolanya mengakhiri perjalanan sebuah tempat yang pernah menjadi denyut perdagangan sandang terbesar di kota yang banyak melahirkan tokoh bangsa ini.

Di lantai satu hingga lantai tiga, para pedagang sibuk membongkar etalase. Manekin diturunkan, gantungan pakaian dilepas, dan ribuan potong busana dipindahkan ke dalam kardus. Barang-barang itu akan memulai perjalanan baru menuju pusat perdagangan lainnya seperti Beteng Trade Center (BTC) atau Pasar Klewer.

Di antara kesibukan itu, Mustofa berjalan bolak-balik mengawasi proses pengemasan. Pemilik Toko Fara tersebut telah menghabiskan hampir separuh hidupnya di PGS.

Ia mulai berjualan pada 2007, ketika banyak kios masih kosong dan optimisme memenuhi setiap sudut gedung.

“Waktu itu prospeknya bagus sekali,” kenangnya sambil tersenyum tipis.

Ia masih mengingat masa ketika menjelang Idul Fitri atau Iduladha, halaman parkir nyaris tak pernah menyisakan ruang. Bus-bus wisata dari berbagai daerah datang silih berganti. Lorong-lorong penuh pembeli yang berburu pakaian dalam jumlah besar.

Saat itu sekitar 700 kios terisi penuh. Mustofa bahkan berani menyewa tiga kios sekaligus karena yakin usahanya akan terus berkembang.

Namun waktu mengubah banyak hal.

Ketika pengelolaan PGS beralih ke kurator setelah putusan pailit, biaya sewa melonjak drastis. Jika sebelumnya sekitar Rp150 juta untuk masa sewa 20 tahun, harga baru mencapai sekitar Rp600 juta untuk kontrak 10 tahun. Dalam enam bulan terakhir, biaya sewa satu kios mencapai sekitar Rp40 juta.

“Kami tidak sanggup. Mau tidak mau harus pindah supaya usaha tetap jalan,” katanya.

Pedagang PGS membereskan dagangannya bersiap pindah ke tempat lain | MettaNEWS / Puspita

Cerita Mustofa bukan satu-satunya.

Ilham, pedagang busana muslim, juga harus mengecilkan usahanya. Dari tiga kios yang pernah dimilikinya di PGS, kini hanya tersisa satu kios di Pasar Klewer. Penurunan daya beli masyarakat membuat omzetnya merosot hingga 75 persen.

Dampaknya bukan hanya pada dirinya, tetapi juga orang-orang yang menggantungkan hidup di tokonya. Dari tujuh karyawan, kini tinggal tiga orang yang masih bekerja.

“Yang penting usaha tetap jalan. Kasihan kalau semua kehilangan pekerjaan,” ucapnya lirih.

Bagi para pedagang, kehilangan PGS bukan sekadar kehilangan kios.

Gedung itu adalah rumah kedua. Tempat mereka datang sejak pagi, berbagi cerita dengan sesama pedagang, membesarkan anak dari hasil berdagang, hingga menyaksikan pergantian zaman dari transaksi tunai, belanja grosir, sampai era penjualan daring.

Di luar gedung, masyarakat mungkin hanya melihat sebuah pusat perbelanjaan yang tutup. Namun di balik pintu-pintu kios yang kini terkunci, tersimpan ribuan kisah tentang harapan, kerja keras, dan mimpi yang pernah tumbuh bersama ramainya pengunjung.

Manajemen PGS menegaskan, penutupan tersebut bukan karena perdagangan mati atau pengunjung menghilang. Menurut mereka, aktivitas ekonomi sebenarnya masih berjalan. Banyak rombongan wisata belanja masih datang hingga hari-hari terakhir. Penutupan terjadi sebagai konsekuensi putusan hukum setelah PT Putera Griya Sentosa dinyatakan pailit akibat persoalan investasi internal.

Kini hanya sekitar 60 tenant yang bertahan hingga akhir operasional, jauh berkurang dari sekitar 700 penyewa yang pernah memenuhi gedung itu.

Dampaknya pun menjalar ke mana-mana. Ratusan pramuniaga, petugas keamanan, tenaga kebersihan, hingga pekerja pendukung lainnya ikut kehilangan pekerjaan. Sebagian pedagang memang berpindah ke lokasi baru, tetapi tidak semua mampu membawa seluruh karyawannya. Ada yang harus mengurangi tenaga kerja demi menyesuaikan biaya operasional.

Sementara itu, gedung PGS tinggal menunggu babak berikutnya. Aset yang kini berada di bawah penguasaan kurator akan dilelang, lalu menanti investor baru yang akan menentukan wajah baru bangunan tersebut.

Namun bagi Mustofa dan ratusan pedagang lainnya, PGS akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

“Kalau suatu saat nanti tempat ini hidup lagi dengan pengelolaan yang baik,” katanya sambil menatap lorong yang mulai kosong, “saya ingin kembali.”

Kalimat itu menggantung di udara, seperti salam perpisahan bagi sebuah tempat yang pernah menjadi saksi ribuan mimpi para pedagang. PGS mungkin telah menutup pintunya, tetapi kenangan tentang riuhnya pusat grosir itu akan terus hidup di hati mereka yang pernah menjadikannya rumah kedua.