SOLO, MettaNEWS – Penutupan permanen Pusat Grosir Solo (PGS) akibat kepailitan pengelolanya mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Wali Kota Solo Respati Ardi menyatakan keprihatinannya atas nasib para pedagang dan ribuan pekerja yang terdampak, sekaligus menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu mereka bangkit.
Salah satu upaya yang disiapkan adalah menawarkan kios dan los yang masih kosong di pasar-pasar tradisional milik Pemkot Solo kepada para pedagang PGS. Selain itu, pekerja yang kehilangan pekerjaan akan difasilitasi melalui program Rumah Siap Kerja agar dapat kembali memperoleh pekerjaan.
“Saya hari ini akan mengajak dan mengundang rekan-rekan yang berjualan di PGS untuk mempromosikan pasar-pasar kami, los-los kami, kios-kios kami yang masih kosong untuk ditempati,” ujar Respati kepada wartawan di Solo, Rabu (5/8/2026).
Respati mengaku prihatin dengan berakhirnya operasional PGS yang selama ini menjadi salah satu ikon pusat grosir di Kota Solo. Menurutnya, penutupan tersebut bukan disebabkan lesunya aktivitas perdagangan, melainkan persoalan internal yang menimpa pengelola hingga berujung pada putusan pailit.
Ia menjelaskan, masih tersedia sejumlah kios di Pasar Klewer maupun pasar tradisional lainnya yang dinilai sesuai dengan karakter usaha para pedagang PGS. Saat ini Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo tengah melakukan pendataan dan verifikasi terhadap ketersediaan kios maupun los yang dapat ditempati.
“Kami siapkan kerja sama dengan pedagang PGS,” katanya.
Tak hanya memikirkan kelangsungan usaha para pedagang, Pemkot Solo juga menyiapkan solusi bagi para pekerja yang kehilangan mata pencaharian akibat penutupan pusat perbelanjaan tersebut.
“Bagi karyawan yang berada di sana, kami siap tampung di Rumah Siap Kerja untuk kami salurkan dengan memberikan fasilitas tempat kerja yang layak,” ujar Respati.
Langkah tersebut diambil menyusul besarnya dampak sosial yang ditimbulkan dari penutupan PGS. Berdasarkan data manajemen, pada akhir masa operasional masih terdapat sekitar 60 kios yang bertahan hingga akhir Juli 2026. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 400 pekerja toko berpotensi kehilangan pekerjaan.
Jumlah itu belum termasuk sekitar 40 karyawan pengelola gedung, seperti petugas keamanan dan tenaga kebersihan, yang juga terdampak akibat penghentian operasional.
Manager Marketing Communication (Marcomm) PGS, Bachtiar Ibnu Fadzil, bahkan memperkirakan jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan mencapai ribuan orang jika dihitung sejak akhir 2025. Saat itu PGS masih dihuni sekitar 700 tenant aktif sebelum proses pengosongan gedung dilakukan secara bertahap karena masa sewa tidak lagi dapat diperpanjang.
Menurut Bachtiar, meski sebagian pedagang memilih pindah ke Beteng Trade Center (BTC) maupun Pasar Klewer, tidak semuanya mampu mempertahankan jumlah karyawan. Keterbatasan ukuran kios dan meningkatnya beban operasional membuat banyak pelaku usaha harus mengurangi tenaga kerja.
Melalui penyediaan kios kosong dan program Rumah Siap Kerja, Pemkot Solo berharap para pedagang dapat segera melanjutkan usahanya, sementara para pekerja yang terdampak PHK memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan baru sehingga dampak sosial dan ekonomi akibat penutupan PGS dapat diminimalkan.








