SOLO, MettaNEWS – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), FX Hadi Rudyatmo memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-94 di Taman Sunan Jogo Kali, Pucangsawit, Jumat (28/10/2022).
Upacara yang dimulai pukul 08.30 WIB dan berakhir pukul 09.00 WIB tersebut membuat Taman Sunan Jogo Kali tampak dibanjiri warna merah berkumpulnya ribuan kader PDIP dari 5 kecamatan di Kota Solo.
Dalam amanat yang disampaikan Rudy, eks Wali Kota Solo tersebut mengajak semua kader bersama-sama mengikrarkan salam perjuangan PDI Perjuangan.
“Merdeka PDI Perjuangan, Mega Mega Mega hidup Bung Karno, hidup, tetep kumpul ben ra ucul,” seru Rudy di hadapan ribuan anggota partai yang hadir.
Pada upacara tersebut Rudy membeberkan sanksi yang diberikan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP. Seperti diketahui dirinya baru datang dari Jakarta pada Kamis (27/10/2022) petang kemarin. Kedatangannya ke Jakarta tersebut untuk memenuhi panggilan DPP PDIP usai dirinya memberikan dukungan pada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo maju calon presiden (capres) 2024.
“Pagi hari ini akan saya bacakan dulu sanksi yang diberikan kepada saya. DPP partai, Sekjen dan Ketua Dewan Kehormatan seperti lagu saja lah Jangan Salah Menilaiku gitu saja. Namun semuanya seperti yang saya sampaikan beliau akan menindaklanjuti usulan saya secara adil. Tidak ada istilah memilih presiden tapi lebih ke semua yang melanggar kedisiplinan partai,” kata Rudy.
Rudy meminta semua anggota maupun kader PDIP tidak perlu resah atau risau dengan sanksi yang dilayangkan padanya.
“Pada kesempatan ini teman-teman tidak perlu resah. Dadi pengurus partai itu selalu saya sampaikan kalau sudah masuk politik praktisi harus siap 3B yang sekarang ini menjadi 4B. Siap dibuang, dibui, dibunuh, dan siap dibully,” kata Rudy.
Menurutnya sebagai politisi harus siap menerima segala risiko. Termasuk jika nantinya harus mengalami hal yang tidak mengenakkan. Seperti dibunuh oleh mereka yang berseberangan, dipenjara, dibuang atau diasingkan. Juga dengan kondisi saat ini yang marak akan pembullyan di media sosial.
“Kalau di zaman Bung Karno kan belum ada medsos jadi tidak ada pembullyan. Sekaran ini kan banyak yang membully di medsos. Maka sebagai kader PDI Perjuangan itu hanya ada dua diberi penghargaan atau hukuman,” katanya.
“Karena saya dinilai menyalahi aturan disiplin partai diberi sanksi adalah hal yang wajar. Kalau kader PDI Perjuangan masih dipanggil oleh induk organisasinya maka masih dianggap kader PDI Perjuangan. Itu pikiran saya,” terang Rudy.
Menurutnya sanksi oleh DPP PDIP merupakan hal yang wajar. Rudy menyebut jika seorang kader PDIP enggan menerima sanksi maka tidak harus mengikuti partai politik lagi.
“Sanksi itu hal yang biasa kalau nggak mau seperti itu nggak usah ikut partai politik tidak perlu ikut organisasi lainnya juga,” tukasnya.
Upacara ini juga diisi dengan pembentangan spanduk ucapan ulang tahun kepada Ganjar yang jatuh tepat di tanggal 28 Oktober. Pembentangan ini dilakukan usai Rudy membacakan amanat tentang Hari Sumpah Pemuda.
“Selamat ulang tahun ke-54, Bp. Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah,” isi tulisan spanduk tersebut.
“Mung gawe seneng rapopo, karena hari ini Pak Ganjar ulang tahun yang ke 54. Untuk itu marilah kita ucapkan selamat ulang tahun. DPC PDIP sepakat setiap hari besar nasional akan kita lakukan upacara. Dan setiap ada pemimpin-pemimpin politik legislatif maupun eksekutif yang saat upacara ulang tahun maka akan kita beri motivasi,” terangnya.
Nyanyian selamat ulang tahun kemudian berkumandang sebanyak tiga kali. Selanjutnya lagu Sumpah Pemuda ikut dikumandangkan ribuan anggota maupun kader PDIP tersebut. Acara kemudian berganti ke pelantikan Benteng Muda oleh Ketua DPC PDIP Rudy dan ditutup dengan pembacaan puisi Sumpah Pemuda ke-94.







