1 Tahun Rumah Pelayanan Asap Rempah Karangdaleman Solo Raya, Terapi Gratis Bangkitkan Harapan di Tengah Keputusasaan

oleh
Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman Cabang Solo Raya
Pasien terapi asap rempah saat melakukan metode pengobatan di Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman Cabang Solo Raya, Minggu (12/4/2026) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman Cabang Solo Raya merayakan satu tahun berdirinya dengan menggelar misa syukur yang penuh makna, Minggu (12/4/2026).

Perayaan ini menjadi simbol perjalanan pelayanan kesehatan alternatif berbasis terapi asap rempah yang telah membantu banyak masyarakat, khususnya mereka yang sempat kehilangan harapan akibat penyakit berat maupun keterbatasan ekonomi.

Pendiri Komunitas Asap Rempah Karangdaleman Cabang Solo Raya, Dodi, menyampaikan bahwa kehadiran layanan ini menjadi sumber harapan baru bagi warga.

Banyak pasien yang sebelumnya putus asa kini mulai merasakan perubahan setelah menjalani terapi.

“Di Solo ini banyak orang yang sebelumnya sudah putus harapan karena penyakit berat atau kondisi ekonomi yang sulit untuk berobat. Melalui pelayanan ini, kami ingin menghadirkan harapan,” ujar Dodi.

Terapi Gratis Berbasis Kepedulian

Rumah Pelayanan ini memberikan terapi secara gratis tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun golongan.

Pelayanan ini lahir sebagai bentuk rasa syukur para relawan yang sebelumnya juga pernah merasakan manfaat terapi serupa.

Menariknya, banyak pasien yang telah sembuh justru kembali sebagai relawan. Kini ada 11 relawan yang turut membantu orang lain sebagai bentuk berbagi kasih dan kepedulian.

“Orang-orang yang sembuh akhirnya menjadi relawan. Mereka hadir menjadi saluran berkat bagi banyak orang,” tambah Dodi.

Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman Cabang Solo Raya
Potong tumpeng 1 tahun Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman Cabang Solo Raya, Minggu (12/4/2026) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Seiring waktu, metode terapi juga mengalami perkembangan. Awalnya dilakukan secara langsung di lokasi tertentu, kini berkembang menjadi metode detoksifikasi hingga teknik terbaru yang disebut super soft commando.

“Metode ini bekerja melalui sistem penciuman (olfactory) untuk merangsang sistem saraf dan hormon tubuh, sehingga efek terapi dapat langsung diarahkan ke organ yang membutuhkan,” ujar Dodi.

Relawan pun dituntut untuk terus belajar agar mampu memberikan terapi secara tepat sesuai kondisi pasien.

Sebaran Layanan dan Akses Masyarakat

Di Solo Raya, Rumah Pelayanan ini telah berkembang di beberapa titik, termasuk di kawasan Kestalan, Juanda, dan ATMI. Sementara pusat utama berada di Karangdaleman, Magelang.

“Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan terapi, prosesnya cukup sederhana, yaitu datang langsung ke lokasi dan mengikuti antrean untuk mendapatkan pelayanan dari terapis,” ujar Dodi.

Dengan bertambahnya usia pelayanan, diharapkan Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman semakin berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Harapannya, semakin banyak orang yang tergerak untuk melayani dan rumah pelayanan ini bisa hadir di lebih banyak tempat,” tutup Dodi.

Dukungan Tokoh Masyarakat

Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman Cabang Solo Raya
Pasien terapi asap rempah saat melakukan metode pengobatan di Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman Cabang Solo Raya, Minggu (12/4/2026) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Mantan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo turut mendukung adanya Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman Cabang Solo Raya hadir.

Momen misa syukur ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan terapi alternatif asap kretek yang semakin dikenal dan diminati masyarakat.

“Girli Corner Pucangsawit menjadi lokasi awal peresmian terapi ini setahun lalu. Sejak diresmikan, layanan terapi asap kretek Karangdaleman terus berkembang dan mendapatkan respons positif dari masyarakat luas,” ujarnya.

Komunitas ini hadir sebagai bentuk pelayanan kesehatan alternatif yang terbuka untuk semua kalangan tanpa memandang suku, agama, maupun golongan.

Banyak masyarakat yang datang dengan berbagai keluhan kesehatan seperti kanker payudara, stroke, hingga gagal ginjal.

“Sebagian besar pasien yang menjalani terapi mengalami perubahan signifikan setelah menjalani perawatan selama beberapa bulan. Bahkan dalam kurun waktu enam bulan, beberapa pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa,” katanya.

Rumah pelayanan ini tidak memungut biaya bagi pasien. Masyarakat hanya diminta menyediakan perlengkapan sederhana yang digunakan selama terapi, termasuk bahan rokok kretek sebagai media utama.

“Metode terapi yang digunakan makin mudah dijalankan dan minim rasa sakit, tapi tetap mempertahankan efektivitas seperti saat pertama kali diperkenalkan,” terangnya.

Selain itu, jumlah relawan yang terlibat juga terus bertambah. Para terapis yang bergabung disebut telah melalui proses rekomendasi untuk memastikan kemampuan mereka sesuai dengan standar yang diterapkan di pusat Karangdaleman.

“Untuk mengikuti terapi, masyarakat cukup datang langsung ke lokasi, mendaftar, dan menunggu giliran untuk mendapatkan penanganan dari terapis yang bertugas,” urainya.

Dalam peringatan satu tahun ini, harapan besar disampaikan agar Rumah Pelayanan Komunitas Asap Rempah Karangdaleman dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat luas dan menjadi tempat yang membawa harapan bagi mereka yang membutuhkan.