Pesan dr Lo Sebelum Meninggal, Minta Dimakamkan Sederhana dengan Peti Putih

oleh
Dr Lo
Foto almarhum dr Lo Siauw Ging berada di dekat jenazah yang disemayamkan di Ruang E Ie See Yiauw Rumah Duka Thiong Ting, Jebres, Solo, Rabu (10/1/2024) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Kepergian dokter berhati emas, dr Lo Siauw Ging menyisakan kenangan tersendiri bagi masyarakat Solo. Salah satunya Wakil Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) Sumartono Hadinoto.

Sepanjang karirnya sebagai dokter, dr Lo tidak pernah menetapkan tarif bagi pasien yang berobat kepadanya.

Kecintaannya yang besar terhadap profesinya membuat dr Lo mengabdikan diri untuk memberikan pengobatan gratis di usia senjanya.

Dokter dermawan yang lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada tanggal 16 Agustus 1934 itu kini telah mengembuskan napas terakhirnya di RS Kasih Ibu Solo pada Selasa (9/1/2024). Kebaikan dr Lo kini menjadi kenangan manis bagi siapa pun.

“Saya mengenal sosok dr Lo sejak kecil. Karena ayah ibu saya juga pasien beliau. Saya sendiri istri kemudian putri saya bahkan sampai cucu saya. Dan lagi rumahnya waktu itu kontrak di depan rumah saya dan sekarang pun pindah tidak jauh karena di jalan yang samping. Dan saya di Jalan Juanda,” ujar Sumartono, Rabu (10/1/2024).

Dr Lo memiliki jiwa sosial yang baik. Pesan dokter Lo yang sampai sekarang masih diingat adalah kalau mau kaya, jangan menjadi dokter.

Apabila menempuh pendidikan dengan mengambil program studi dokter maka niatnya berbagi dan melayani orang sakit. Pesan dr Lo itu yang diteruskan Sumartono kepada para dokter.

“Jadi dokter ini betul-betul seorang sosok dokter yang harusnya menjadi panutan bagi dokter dokter lain. Dokter saat ini maupun yang akan datang. Karena beliau selalu berbagi dan melayani siapapun tanpa membeda-bedakan suku agama golongan dan ras untuk kembali sehat,” ujarnya.

Dr Lo memulai kariernya sebagai seorang dokter di RS dr Oen Kandang Sapi Solo. Setelah itu dr Lo pindah ke RS Kasih Ibu.

Dokter Lo pernah menjabat sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Kasih Ibu Solo periode 1981-2004.
Setelah pensiun, dokter Lo tetap melayani pasien di rumah sakit yang sama dan di rumahnya di Jagalan, Jebres, Solo.

Satu hal yang tak pernah Sumartono lupakan adalah ketika rumah dokter Lo dijaga warga setempat pada kerusuhan Mei 1998. Tidak ada orang yang berani menyentuh rumah dokter Lo berkat penjagaan warga tersebut. Ini terjadi berkat kebaikan dr Lo yang dikenal masyarakat luas.

Terakhir Sumartono bertemu dengan dr Lo sebulan lalu di RS Kasih Ibu. Dalam pertemuan itu dr Lo sempat menitipkan pesan terakhirnya untuk dimakamkan secara sederhana dengan peti putih.

Jenazah dr Lo Siauw Ging disemayamkan di Ruang E Ie See Yiauw Rumah Duka Thiong Ting hingga Kamis (11/1/2024). Upacara Mai Song atau upacara malam pemberangkatan jenazah dilakukan pada Rabu (10/1/2024) pukul 19.00 WIB.

Sebelum jenazah diberangkatkan dari rumah duka ke Krematorium Delingan Karanganyar pada Kamis (11/1/2024) pukul 14.00 WIB, keluarga akan mengadakan upacara secara agama Katolik.