SOLO, MettaNEWS – Literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis. Bagi perempuan pengemudi ojek online (ojol), literasi juga bisa menjadi ruang untuk mengenali diri, melepaskan beban pikiran, hingga menata kembali impian dan tujuan hidup.
Semangat itu dihadirkan dalam kegiatan “The Circle of Wellness Literacy: Read – Write – Reflect – Express” yang digelar Forum Perempuan Berdaya Kota Surakarta bersama Rotary Club of Solo Kartini, DP3AP2KB Kota Surakarta, FHD Motivation, serta sejumlah pihak lainnya di Tawangpraja, Balai Kota Surakarta, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian World Wellness Weekend, sekaligus mengisi agenda Rotary dalam bulan literasi. Sekitar 50 perempuan, termasuk para pengemudi ojol perempuan dan anggota Forum Perempuan Berdaya, mengikuti kegiatan tersebut.
Ketua Forum Perempuan Berdaya Kota Surakarta, RA.y. Febri Hapsari Dipokusumo, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keinginannya menghadirkan ruang pemberdayaan yang lebih luas bagi perempuan, khususnya perempuan pekerja dan perempuan kepala keluarga.
Febri menywbut, ide tersebut muncul setelah dirinya diundang memberikan motivasi kepada sekitar 130 pengemudi ojol perempuan di Surabaya. Dalam kegiatan itu, para peserta diajak melakukan meditasi dan refleksi diri.
“Waktu itu saya tergerak, yuk kita buat di Solo. Ternyata di Solo jumlah driver perempuan juga cukup banyak. Akhirnya kami berkolaborasi dengan Rotary Club of Solo Kartini,” ujar Febri.
Ia menjelaskan, wellness selama ini kerap dipahami sebatas aktivitas olahraga, yoga atau kegiatan kebugaran. Padahal, menurutnya, kesejahteraan diri juga berkaitan dengan ketenangan, kesadaran penuh, kemampuan mengenali emosi dan mencintai diri sendiri.
Karena itu, konsep wellness dalam kegiatan tersebut dipadukan dengan literasi.
“Wellness itu tidak hanya gym, tidak hanya yoga, tidak hanya spa. Tetapi bagaimana kebaikan dan kesadaran penuh membuat diri lebih bahagia, lebih tenang dan lebih sejahtera. Salah satunya melalui metode literasi,” jelasnya.
Para peserta sebelumnya juga diajak berkeliling Balai Kota dengan sepeda motor bersama-sama. Setelah itu, mereka mengikuti sesi meditasi, membaca, menulis dan mengekspresikan perasaan.
Febri mengatakan, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para perempuan untuk sejenak berhenti dari rutinitas dan melepaskan berbagai kepenatan yang mereka rasakan.
“Kami ajak mereka menulis, membaca buku, kemudian bersama-sama menuangkan perasaannya. Mereka menumpahkan kepenatan, kekesalan, kejengkelan dan kekecewaan,” katanya.
Febri menyebut sebagian peserta merupakan perempuan kepala keluarga yang harus bekerja sekaligus menjadi penopang ekonomi keluarga. Karena itu, pemberdayaan tidak cukup hanya dilakukan dengan memberikan bantuan materi, tetapi juga perlu membangun kepercayaan diri, ketenangan dan kemampuan merencanakan masa depan.
Literasi untuk Menata Impian
Ketua Rotary Club of Solo Kartini, Lia Taufiq, mengatakan keterlibatan pengemudi ojol perempuan dalam kegiatan tersebut memang dirancang untuk memberikan motivasi sekaligus memperluas pemaknaan tentang literasi.
“Literasi itu tidak terbatas pada membaca atau menulis saja. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan literasi, termasuk bagaimana melepaskan trauma batin, merilis luka batin, self healing, bahkan nanti ada journaling,” kata Lia.
Dalam sesi journaling, peserta diajak menuliskan harapan dan rencana kehidupan mereka. Mulai dari target jangka pendek untuk esok hari, bulan berikutnya hingga rencana jangka panjang.
Lia menuturkan, kebiasaan menuliskan impian dapat membantu seseorang memiliki arah dalam menjalani kehidupan.
“Dream yang mereka tuliskan itulah yang menjadi doa. Harapan-harapan yang mereka tuliskan itu kemudian menuntun langkah mereka dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Lia menambahkan, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi para perempuan untuk memiliki tempat bertanya ketika menghadapi persoalan kehidupan.
Ia menegaskan, pendampingan yang dilakukan bukan untuk mengambil alih persoalan peserta, melainkan membantu mereka menemukan jalan keluar.
“Mereka punya tempat bertanya. Kalau ada permasalahan, kita bisa memberikan pendampingan dalam mencari solusinya, bukan menyelesaikannya, tetapi mendampingi untuk menyelesaikan solusinya,” katanya.
Selain sesi literasi dan refleksi, peserta juga memperoleh dukungan dari berbagai pihak. Kolaborasi tersebut bahkan memunculkan dukungan spontan dari pelaku usaha yang ingin berbagi, mulai dari jamu, sayuran hingga makanan.
Febri berharap kolaborasi semacam itu dapat terus berkembang dan melibatkan lebih banyak perempuan pekerja di Kota Solo.
“Perempuan itu energinya besar dalam sebuah keluarga. Kalau perempuan pintar, insyaallah generasi ke depannya juga pintar dan punya literasi yang bagus,” tuturnya.
Ia juga berharap para pengemudi ojol perempuan tidak hanya memiliki kemampuan bekerja di jalan, tetapi juga mengenal budaya, pariwisata dan berbagai potensi Kota Solo sehingga pengetahuan tersebut dapat ditularkan kepada keluarga dan generasi berikutnya.
Ke depan, Febri juga ingin mengembangkan konsep wellness yang lebih dekat dengan kekayaan budaya lokal. Menurutnya, praktik kesadaran diri sebenarnya telah lama dikenal dalam budaya masyarakat Jawa, seperti olah tubuh, jamu dan berbagai bentuk doa atau refleksi diri.
“Kita sebenarnya punya banyak kekayaan sendiri, tetapi kadang lupa. Ketika sesuatu datang dari luar, kita menganggapnya sesuatu yang baru. Padahal nilai-nilai wellness itu banyak yang sudah ada dalam budaya kita,” pungkasnya.








