Penggerak Ekonomi Masyarakat, UMKM Didorong Bersaing di Pasar Global

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kuat memghadapi gelombamg tsunami krisis ekonomi terlebih saat pandemi kemarin.

Bahkan pasca pandemiĀ  pertumbuhan sektor UMKM menunjukkan tren yang cukup signifikan. Namun sayang keberanian untuk ekspor belum terlihat, sekaligus menembus pasar global. Perlu dorongan dari banyak pihak untuk membuat UMKM percaya diri tembus pasar global.

Hal ini menjadi bahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) ‘Membangun Semangat Ekspor untuk Peningkatan Ekonomi Nasional’ yang digelar BP Batam, di Surakarta, Senin (9/10/2023).

Salah satu pembicara dalam forum tersebut, R.A. Yashinta Sekarwangi Mega mengatakan, UMKM di Surakarta terbukti muncul sebagai salah satu sektor penggerak perekonomian masyarakat.

“Anak-anak muda Indonesia sangat kreatif. Jadi, ya, sayang banget kalau produk mereka hanya berkutat di level nasional saja,” katanya.

Calon anggota DPD RI asal daerah pemilihan (dapil) DIY tersebut menjadikan UMKM sebagai satu di antara beberapa fokusnya. Seperti pendidikan, kesehatan dan lingkungan.

Menurutnya, para pelaku UMKM di Solo bisa di-push lebih jauh. Tidak sebatas para ‘pemain’ seniornya saja, tapi juga anak-anak muda yang terbilang belum lama berkecimpung.

“Jangan sekadar jualan dan dapat untung. Karena mereka punya potensi yang lebih dan mampu menembus pasar global,” ungkapnya.

Yashinta mencontohkan, di wilayahnya ada beberapa produk besutan UMKM yang layak ekspor ke luar negeri. Seperti batik tulis, hingga piring dan cangkir keramik dengan motif unik yang tidak ada di daerah lain.

Namun, kendalanya, sebagian besar pelaku UMKM saat ini belum melek dengan regulasi. Yakni kewajiban sertifikasi dan Nomor Induk Berusaha (NIB), yang sejatinya menghadirkan ragam kemudahan.

“UMKM banyak, tapi yang punya NIB baru 374 ribu. Mereka rata-rata merasa belum penting untuk mengurus dan punya NIB,” katanya.

“Sebagian besar itu karena takut perpajakan. Maka, ini butuh sosialisasi yang masif. Padahal, kan, yang penting terdaftar dulu,” lanjut Yashinta.

Dalam kesempatan sama Kepala Kantor Perwakilan BP Batam, Purnomo Andiantono menyampaikan, kondisi di Surakarta yang tidak memiliki pelabuhan. Ini tentu menjadi kendala bagi UMKM untuk melakukan aktivitas ekspor langsung.

Karena itu, pihaknya pun siap memfasilitasi asosiasi atau komunitas UMKM di Yogyakarta. Melalui sebuah gudang khusus yang disiapkan di Batam.

“Taruh gudang di Batam, kapanpun ada pesanan dari luar negeri, ya, tinggal kirim. Itu lebih efisien. Jadi, bisa sewa gudang untuk UMKM di DIY,” terangnya.

Terlebih, ia memandang, produk-produk UMKM di Surakarta, khususnya di sektor kerajinan, mempunyai kualitas mumpuni dan layak bersaing di pasar internasional.

“Jualannya, kan, bisa lewat beragam platform. Misal yang beli orang China, dari Batam tinggal ke Singapura dan bisa ke seluruh dunia,” urai Purnomo.

Meski demikian, butuh keberanian dan keuletan, karena tingkat ekspor dari kalangan UMKM dewasa ini baru sekitar 6 persen di seantero tanah air.

“Makanya, ini kita dorong. Tadi, kan, Mbak Yashinta sudah menjelaskan, selain menguasai pasar dalam negeri, harus berani keluar juga,” pungkasnya.