SOLO, MettaNEWS – Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang serius bagi Kota Solo. Utamanya dalam hal kelahiran anak dengan masalah gizi kronis atau disebut dengan stunting.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) mencatat jumlah bayi bawah lima tahun (balita) stunting di Kota Solo mencapai 1.050 kasus.
Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa menyebut bayi yang lahir dalam masa kehamilan pandemi bermasalah dalam hal gizi bahkan kesehatan pada ibu.
“Kemarin kita sudah memprediksi artinya kita mau menekan itu justru muncul kasus pada posisi Covid-19 ini banyak anak lahir yang dalam posisi memang gizinya kurang. Kesehatan ibu pada waktu hamil kurang, kurang darah. Beberapa hal yang mengakibatkan anak terlahir tidak seperti harapan termasuk lahir prematur kasusnya,” papar Teguh di Balai Kota Solo, Selasa (6/6/2023).
Pemerintah Kota Solo pun berupaya keras menekan lonjakan kasus stunting. Mengingat kehamilan bayi-bayi stunting ini terjadi sebelum tahun 2023.
“Itu kan usianya bisa diketahui setelah dia lewat dari 2 tahun seandainya dia lahir 2020 2021 kebaca semua. Intervensi kita kemarin sudah mepet banget ada yang kurang 2 3 bulan,” jelasnya.
Teguh mengakui kendala terbesar dalam menekan kasus ini adalah masyarakat yang masih berada di bawah garis kemiskinan.
“Kemampuan kita sampai di situ, kalau kita biarkan mungkin lebih (jumlahnya). Sudah kita tekan sedemikian rupa dan daerah yang di pinggiran dan memang wilayah kantong kemiskinan kumuh, tidak sehat. Kendala inilah yang terindikasi pada jumlah yang harusnya kita tekan,” kata Teguh.
Upaya Pemkot Solo Tekan Lonjakan Jumlah Stunting
Upaya menekan kasus stunting telah ia lakukan sejak 2022. Kendati demikian kenaikan angka stunting pun masih terjadi di kisaran 1 hingga 3 persen.
“Kita sudah menekan yang di 2022 akhir yang hamil sudah kita intervensi supaya 2023 lahir normal sehat justru pertumbuhan pasca lahir ini yang harus kita awasi sampai usia 1000 hari. Termasuk rata-rata tidak ASI (Air Susu Ibu-red), problemnya ini ada yang tidak keluar karena masih pada usia muda,” bebernya.
Tak tanggung-tanggung, Pemerintah Kota Solo bahkan membutuhkan dana berkisar Rp 3 sampai 4 miliar untuk memerangi kasus stunting ini. Khususnya balita yang berisiko komplikasi stunting.
“Kalau yang berisiko ribuan maka kita butuh Rp 3-4 milliar. Untuk satu anak 6 bulan dikasih gizi terus menerus itu Rp 5,3 juta per anak, kemarin CSR baru dapat Rp 400 juta sampai Rp 500 juta kalau nggak salah,” terangnya.
Ada lima kelurahan yang bermasalah dalam hal gizi kronis. Yakni Pucang Sawit, Kauman, Pasar Kliwon, Jebres dan Mojosongo.
“Perbaikan gizi dengan menu makanan yang ada jadi mereka ada kelompok pendamping masak setiap hari sekali masak untuk 1 anak makan pagi dan siang. Kalau itu sudah stunting yang 700, ini kita kejar yang risiko stunting supaya mereka besok tidak stunting,” tandasnya.







