SOLO, Metta NEWS – Belum banyak dilibatkan dalam partisipasi pembangunan kelurahan di Solo, dua kelurahan di Solo membentuk Kampung Madani sebagai pilot project di Solo.
Masyarakat marjinal dalam hal ini adalah para difabel, kelompok rentan terdampak Covid-19 dan PEKKA (Perempuan kepala rumah tangga).
Manager Program Kampung Madani dari Kompip (Konsorsium Monitoring dan Pemberdayaan Institusi Publik) Eko Setiawan menjelaskan data dari survey yang dilakukan oleh Kompip terdapat 57% masyarakat marjinal belum dilibatkan dalam partisipasi pembangunan.
“Kampung Madani ini sebagai ikhtiar dari 2 kelurahan pilot project terkait transparansi dan akuntabilitas kelurahan. Juga membawa semangat mengenalkan kampung inklusi yang selama ini kurang dilibatkan,” ungkap Eko dalam kegiatan aksi bersama masyarakat ini untuk terus mengkampanyekan mendorong kualitas partisipasi masyarakat marginal dalam pembangunan kelurahan, Sabtu (2/4/2022) di Balekambang Solo.
Eko mengungkapkan, sudah ada 10 rekomendasi yang diserahkan dan diterima oleh Wakil Walikota Surakarta, dengan isi diantaranya mempercepat inklusi perencanaan sampai monitoring evaluasi DPK (Dana Pembangunan Kelurahan), transparansi DPK, mendorong dan memfasilitasi pembentukan organisasi masyarakat dan kolaborasi semua pihak dalam memajukan kesejahteraan warga.
“Tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan dan mendorong semangat kampung madani sebagai kampung pendekatan pembangunan secara kekeluargaan. Bgmn kita memandang anak di kota Solo adalah anak kita semua, memandang orang tua adalah orangg tua kita dan memandang orang dewasa adalah saudara kita. Harapan kita kampung madani ini bisa direplikasi di kampung yang lain di Solo,” ungkap Eko.

Pada kesempatan ini hadir perwakilan dari masyarakat disabilitas Kelurahan Pajang dan Mojosongo, perwakilan PEKKA dua kelurahan dan perwakilan Pemkot Solo.
Kabid Sosial Budaya Bappeda Surakarta, Reni mengatakan kampung madani telah memberikan kontribusi pada Pemkot dalam hal peningkatan kesejahteraan warga yang sudah di mulai di 2 kelurahan sebagai pilot project.
“Harapan pemkot ini bisa direplikasi di 54 kelurahan. Ini bukan menjadi kesulitan semoga kedepan menjadi kemudahan untuk bersama membangun sinergi untuk mewujudkan kampung madani di kelurahan lain. Dua kelurahan ini sudah memberikan contoh embrio dari kampung madani yang bisa ditiru,” tandas Reni.
Menurut Reni dengan adanya kampung madani bisa lebih mensuport lagi pemberdayaan ekonomi warga.
Dari data terakhir, jumlah warga inklusi di Kelurahan Pajang dan Mojosongo mencapai puluhan orang. Sedangkan jumlah anggota PEKKA (perempuan kepala rumah tangga) di Mojosong sekitar 3400 KK dan di Pajang sebanyak 2600 KK.
Ketua PEKKA Mojosongo, Sri Hastuti menjelaskan PEKKA di Mojosongo terus bergerak dan telah menghasilkan produk-produk homemade untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
“Kami masih butuh pelatihan agar bakar anggota bisa ditingkatkan dan berharap ada pendampingan yang kontinyu,” harap Sri Hastuti.

Senada dengan Mojosongo, PEKKA kelurahan Pajang, Sri Purwanti mengungkapkan, meski sudah menghasilkan produk namun belum terbentuk wadah yang menaungi PEKKA di kelurahan Pajang.
“Kami masih dalam proses pembentukan. Dengan wadah komunitas di bawah kelurahan bisa untuk berbagi ilmu yang menambah ekonomi rumah tangga,” jelasnya.
Sementara itu mewakili warga difabel, Argo dan Tugino menyampaikan pengalaman yang sama.
“Di Mojosongo kami membentuk grup WA usaha dan jasa difabel. Sehingga bisa saling terkait antar anggota grup yang membutuhkan jasa ataupun barang produksi dari kami para difabel,” ungkap Argo.









