Menko Muhaimin Iskandar Ajak Mahasiswa UNS Jadi Motor Kemandirian Pangan Berbasis Riset dan Inovasi

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Dr. (H.C.) Drs. H. Ahmad Muhaimin Iskandar, M.Si., mengajak kalangan mahasiswa untuk terus melahirkan inovasi demi mewujudkan kemandirian pangan nasional yang berkelanjutan.

Ajakan tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional Agrotech’s Fair 2026 bertajuk “Peran Milenial dalam Mendukung Kemandirian Pangan Lokal Berkelanjutan” yang digelar di Auditorium Haryo Mataram Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (2/7/2026).

Dalam paparannya, Muhaimin menegaskan bahwa kemandirian pangan harus dibangun melalui tiga langkah utama. Pertama, perubahan arah politik pangan nasional agar Indonesia tidak lagi bergantung pada pangan impor.

“Politik pangan nasional harus diubah. Kita tidak boleh lagi bergantung pada pangan impor, terutama ketergantungan terhadap terigu impor. Kita harus mampu memproduksi bahan pangan sendiri dari potensi lokal yang kita miliki,” ujarnya.

Langkah kedua, menurutnya, adalah menghadirkan kebijakan anggaran yang berpihak pada lahirnya inovator pangan berbasis sumber daya lokal. Pemerintah, kata Muhaimin, harus memberikan dukungan nyata kepada para peneliti, pelaku usaha, hingga generasi muda yang mengembangkan produk pangan lokal.

Ia juga menyatakan kesiapan pemerintah untuk membangun kolaborasi dengan UNS dan berbagai perguruan tinggi dalam menghimpun para inovator, praktisi, hingga pelaku usaha pangan dari berbagai daerah.

“Saya siap bekerja sama dengan UNS untuk mengumpulkan seluruh inovator, praktisi, dan pelaku usaha, mulai dari yang masih merintis hingga yang sudah sukses. Dengan kolaborasi ini, saya yakin UNS dapat menjadi universitas yang memperkuat masyarakat desa dalam mewujudkan kemandirian pangan,” bebernya.

Muhaimin menambahkan, fondasi utama menuju kemandirian pangan adalah ilmu pengetahuan dan riset. Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi untuk terus memperbanyak penelitian yang menghasilkan inovasi di bidang pangan.

“Ayo riset, riset, riset. Ayo penelitian, penelitian, penelitian. Dari hasil riset itulah kita bisa mengetahui inovasi mana yang perlu didorong agar menjadi sumber kemandirian pangan sekaligus melahirkan produk-produk unggulan bangsa,” tegasnya.

Menurutnya, berbagai hasil penelitian harus segera dihilirisasi menjadi produk pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi. Ia bahkan menyatakan telah menyiapkan jaringan investor untuk mendukung pengembangan inovasi yang dinilai layak diproduksi secara massal.

“Kalau ada inovasi, misalnya tepung lokal yang bisa diproduksi dan dikembangkan, saya siapkan jaringan investor. Berapa pun kebutuhannya, selama inovasi itu bisa segera diwujudkan dan bermanfaat bagi masyarakat, kita akan dorong bersama,” tegasnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Penelitian, Prof. Dr. Fitria Rahmawati, S.Si, M.Si dalam sambutannya mewakili Rektor UNS menyampaikan di tengah tantangan perubahan iklim, dinamika geopolitik global, transformasi teknologi, hingga perubahan pola konsumsi masyarakat, Indonesia membutuhkan pendekatan baru yang lebih inovatif, adaptif, dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, generasi muda memegang peran yang sangat strategis.

“Ketahanan pangan bukan lagi sekadar persoalan meningkatkan produksi pertanian. Ketahanan pangan adalah fondasi kedaulatan bangsa, kesejahteraan masyarakat, sekaligus instrumen penting dalam mengurangi kemiskinan dan memperkuat pemberdayaan masyarakat,” bebernya.

Prof. Fitria menambahkan masa depan pangan Indonesia tidak hanya dibangun di sawah dan ladang, tetapi juga di laboratorium, pusat-pusat riset, ruang inkubasi bisnis, startup digital, dan ruang-ruang kolaborasi seperti seminar yang kita selenggarakan hari ini.

“Milenial dan Generasi Z bukan sekadar penerus pembangunan pertanian Indonesia, tetapi juga motor penggerak inovasi melalui pemanfaatan teknologi digital, kewirausahaan, riset, serta pengembangan pangan lokal berbasis potensi daerah,” tegasnya.

Seminar Nasional Agrotech’s Fair 2026 menjadi wadah bagi mahasiswa, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pangan lokal berbasis inovasi. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan gagasan dan solusi nyata guna memperkuat ketahanan serta kemandirian pangan Indonesia di masa depan.