Beasiswa Santri Jateng 2026 Tembus 942 Pendaftar, 73 Lolos hingga Kuliah ke China dan Mesir

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Memasuki usia ke-81 Jawa Tengah, perhatian terhadap santri dan pengasuh pesantren diwujudkan melalui beasiswa pendidikan, tali asih bagi penghafal Al-Qur’an, hingga berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Salah satu program unggulan tersebut adalah beasiswa santri dan pengasuh pesantren yang digulirkan Pemprov Jateng pada 2026. Program perdana ini mendapat antusiasme tinggi. Sebanyak 942 orang mendaftar, terdiri atas 702 santri dan 240 pengasuh pesantren.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 73 orang dinyatakan lolos seleksi. Mereka harus melewati tahapan seleksi akademik dan wawancara dengan materi kemampuan membaca kitab kuning, hafalan Al-Qur’an, kepesantrenan, serta wawasan kebangsaan.

Gambaran proses seleksi tersebut terlihat di Ruang Muria, Kompleks Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDM) Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026). Para peserta tampak mengenakan busana khas santri. Sebagian melantunkan ayat suci Al-Qur’an, membaca kitab kuning, hingga menyampaikan gagasan mengenai wawasan kebangsaan.

Ketua Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Provinsi Jawa Tengah, Hasyim Muhammad, mengatakan seluruh penerima merupakan santri dan pengasuh pesantren yang mengikuti proses seleksi sesuai ketentuan program.

“Nama-namanya sudah kita umumkan pada 3 Agustus 2026,” kata Hasyim.

Dari 73 penerima, sebanyak 15 orang mendapatkan beasiswa luar negeri untuk jenjang S1. Mereka akan menempuh pendidikan di sejumlah negara, antara lain China, Mesir melalui Al-Azhar, dan Yaman.

Sementara 58 penerima lainnya memperoleh beasiswa dalam negeri untuk jenjang S1, S2, dan S3.

Bidang studi yang dipilih pun beragam, mulai dari kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, pertanian, humaniora, hingga ilmu keislaman.

Beasiswa hingga Kuliah ke Luar Negeri

Untuk penerima beasiswa luar negeri, Pemprov Jateng memberikan dukungan berupa biaya kuliah, visa, biaya hidup, asuransi kesehatan, serta bantuan tiket pesawat pulang-pergi.

Adapun penerima beasiswa dalam negeri mendapatkan bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga delapan semester.

Hasyim mengatakan, program tersebut menjadi wujud perhatian Pemprov Jateng terhadap pesantren. Sejak LFSP dibentuk pada November 2025, lembaga tersebut mendapat tugas menjalankan proses seleksi beasiswa santri dan pengasuh pesantren.

Program itu merupakan bagian dari Program Pesantren Obah yang menjadi salah satu program unggulan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

“Ini kepedulian Pemprov Jateng kepada pesantren di Jawa Tengah. Di luar sana banyak beasiswa, tetapi kemungkinan santri salaf sulit untuk bisa masuk, karena itu pemprov secara spesial memberi kesempatan emas ini. Semoga program ini berkah untuk semuanya,” ujar Hasyim.

Informasi mengenai program beasiswa tersebut telah disosialisasikan secara daring maupun luring. Masyarakat dapat mengakses informasi melalui aplikasi JNN (Jateng Ngopeni Nglakoni), sedangkan petunjuk teknis pendaftaran tersedia melalui laman resmi Pemprov Jateng.

Program beasiswa santri dan pengasuh pesantren 2026 merupakan program perdana. Pemprov Jateng berencana kembali membuka program tersebut pada tahun-tahun berikutnya.

Beasiswa Buka Jalan Santri Raih Cita-Cita

Di balik 73 penerima beasiswa tersebut terdapat beragam cerita dan cita-cita. Salah satunya Aqila Keisha Haulina, santri asal Kudus yang kini mendapat kesempatan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Aqila memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Ia menempuh pendidikan MTs di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an 2 Muria, kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) Mu’allimat NU Kudus.

Keinginannya melanjutkan pendidikan tinggi sempat terbentur persoalan biaya UKT. Beasiswa dari Pemprov Jateng kemudian menjadi jalan keluar untuk meringankan beban orang tuanya sekaligus mewujudkan cita-citanya menjadi tenaga medis.

“Saya berharap bisa menjadi dokter gigi yang adil, yang sungguh-sungguh, dan tidak melupakan ajaran agama yang sudah saya bawa sebelumnya dengan tetap menerapkan sisi kemanusiaan,” kata Aqila, Rabu (12/8/2026).

Ia mengapresiasi program beasiswa tersebut dan berharap cakupan jurusan serta kuota penerima dapat terus diperluas.

Cerita lainnya datang dari Akhmad Khafidz Al Mubarok. Ia mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan S1 bidang Saintek di Dalian University of Technology, China.

Khafidz memilih jurusan Computer Science and Technology karena sejak kecil memiliki ketertarikan pada teknologi. Baginya, kuliah di China juga menjadi kesempatan untuk memperdalam ilmu di salah satu negara yang dikenal sebagai pusat perkembangan teknologi.

“Sangat bahagia karena bisa membantu perekonomian orang tua. Pilih jurusan Computer Science and Technology karena dari kecil sudah minat dan ingin mendalaminya di salah satu pusat teknologi yaitu China,” ujarnya.

Ahmad Luthfi: Santri Punya Nilai Lebih

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, santri memiliki nilai lebih karena selain mendapatkan pendidikan akademik, mereka juga dibekali nilai keagamaan, toleransi, dan karakter.

“Saya ngasih beasiswa ke kelompok mahasiswa itu biasa, tetapi santri ini luar biasa karena mempunyai nilai lebih dari yang bukan santri, santri diajarkan tentang toleransi beragama dan apapun tentang aturan kebenaran,” kata Luthfi.

Menurutnya, program beasiswa santri dan pengasuh pesantren harus terus dikembangkan. Ia juga mendorong seluruh kepala daerah di Jawa Tengah mulai terlibat dalam penguatan program tersebut.

Lulusan Diminta Kembali Bangun Pesantren

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menambahkan, beasiswa tersebut tidak hanya ditujukan untuk mencetak lulusan yang unggul secara akademik.

Lebih dari itu, penerima beasiswa diharapkan memiliki keahlian yang dapat memberikan manfaat langsung bagi pesantren dan masyarakat.

Menurut Taj Yasin, pesantren membutuhkan sumber daya manusia dengan berbagai kompetensi, termasuk bidang kesehatan, pertanian, teknologi, dan pengembangan usaha.

“Pesantren butuh dokter, pesantren butuh usaha pertanian dan lain sebagainya,” ujarnya.

Karena itu, para penerima beasiswa diharapkan tidak hanya mengembangkan kemampuan untuk kepentingan pribadi. Mereka juga didorong menerapkan ilmu yang diperoleh untuk memajukan pesantren dan masyarakat.

Salah satu bentuk komitmen penerima beasiswa adalah kesediaan kembali dan berkontribusi kepada pesantren yang memberikan rekomendasi.

Ribuan Penghafal Al-Qur’an Terima Tali Asih

Selain beasiswa, Pemprov Jateng juga memberikan tali asih atau bisyaroh kepada ribuan santri penghafal Al-Qur’an di pesantren.

Sejak 2025, ribuan santri telah mendapatkan tali asih masing-masing sebesar Rp1 juta.

Menariknya, penerima tali asih tidak dibatasi berdasarkan domisili atau kepemilikan KTP Jawa Tengah. Santri penghafal Al-Qur’an yang belajar di pesantren wilayah Jawa Tengah berhak menerima bantuan tersebut.

Penerimanya bahkan berasal dari berbagai daerah di luar Jawa Tengah, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, Yogyakarta, hingga Kalimantan.

Taj Yasin berharap para penghafal Al-Qur’an tersebut terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekaligus menjadi sumber keberkahan bagi pembangunan dan pemerintahan di Jawa Tengah.

Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov Jateng membangun pesantren yang semakin berdaya. Pesantren tidak hanya dipandang sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang pengembangan SDM yang mampu melahirkan generasi berilmu, mandiri, profesional, dan tetap berakar pada nilai-nilai kepesantrenan.