AIBI Gandeng UNSW Australia dan UNS Gelar Inkubasi Bisnis Inklusif untuk Perempuan Kepala Keluarga dan Disabilitas Netra di Solo Raya

oleh
oleh

KLATEN, MettaNEWS – Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) bersama Center of Digital Economy and Market Collaboration Innovation Universitas Sebelas Maret (CDEMCI UNS), University of New South Wales (UNSW) Australia, dan Lembaga Bantuan Hukum Majelis Hukum dan HAM (LBH MHH) Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Tengah meluncurkan program inkubasi bisnis inklusif bagi perempuan kepala keluarga dan penyandang disabilitas netra di wilayah Solo Raya.

Program yang didanai melalui hibah internasional Australia-Indonesia Institute (AII) tersebut diawali dengan kegiatan Kick-Off & Business Development Workshop 1 yang berlangsung di Aisyi Tower, Klaten, Minggu (12/7/2026).

Program ini dirancang untuk memperkuat kemandirian ekonomi kelompok masyarakat rentan, khususnya perempuan kepala keluarga (women breadwinners) dan penyandang disabilitas netra (the visually impaired).

Kegiatan perdana diikuti oleh 14 perempuan kepala keluarga, 43 penyandang disabilitas netra, empat pendamping disabilitas netra, serta 10 fasilitator.

Sebelum memasuki sesi utama, peserta mengikuti rangkaian pra-acara yang diawali dengan pengisian Kuesioner Pengukuran Keekonomian sebagai instrumen baseline.

Kuesioner tersebut digunakan untuk mengukur kondisi awal peserta, meliputi perkembangan usaha, kemampuan pemasaran digital, tingkat kepercayaan diri, hingga dampak sosial yang dihasilkan.
Selanjutnya, peserta menandatangani lembar persetujuan sebagai bentuk pemahaman terhadap tujuan program, bentuk keterlibatan, penggunaan data, serta hak-hak peserta selama mengikuti kegiatan.

Tahapan pra-acara ditutup dengan pelaksanaan pre-test untuk memetakan tingkat pemahaman awal peserta. Seluruh proses dilakukan dengan pendampingan dari para learning assistant dan pendamping agar seluruh peserta, termasuk penyandang disabilitas netra, dapat mengikuti asesmen secara optimal.

Direktur LBH MHH PWA Jawa Tengah, Dr. Siti Kasiyati, S.Ag., M.Ag., CM, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk membuka akses ekonomi yang setara bagi kelompok rentan.

“Keterbatasan fisik maupun beban sebagai perempuan kepala keluarga tidak boleh menjadi hambatan dalam membangun usaha yang mandiri dan berkelanjutan,” tuturnya.

Dukungan juga disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Tengah, Dr. Sri Gunarsi, S.H., M.H. Ia mengapresiasi program tersebut sebagai pelatihan bisnis inklusif pertama di Jawa Tengah yang diharapkan dapat menjadi model percontohan di tingkat nasional.

Sementara itu, dukungan internasional disampaikan secara daring oleh Prof. Dr. Omar K. Hussain, profesor dari School of Business UNSW Australia. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi yang adaptif agar pelaku usaha mikro mampu meningkatkan daya saing di era digital.

Ketua Pelaksana Program, Dr. Khresna Bayu Sangka, S.E., M.M., Ph.D., CMILT, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan langkah awal dari program pendampingan yang akan berlangsung secara berkelanjutan.

“Kegiatan ini menjadi awal dari rangkaian pendampingan intensif agar para peserta mampu mengembangkan usaha secara mandiri, meningkatkan kapasitas bisnis, dan memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan usahanya,” ujarnya.

Pada sesi inti, narasumber Biyp Mukhsen Assegaf menyampaikan materi Product Identification & Value Proposition yang membekali peserta dengan kemampuan mengidentifikasi keunggulan dan nilai unik produk maupun jasa yang dimiliki sehingga memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.

Setelah sesi teori, peserta langsung mempraktikkan penyusunan rencana pengembangan usaha menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC) yang telah disederhanakan agar mudah dipahami.

Melalui metode tersebut, peserta didampingi narasumber, learning assistant, dan fasilitator untuk memetakan target konsumen, membangun hubungan dengan pelanggan, serta menentukan saluran pemasaran digital yang paling efektif bagi usaha mereka.

Kegiatan juga dilengkapi sesi tanya jawab interaktif dan mini coaching clinic sehingga setiap peserta memperoleh kesempatan berkonsultasi mengenai tantangan usaha yang dihadapi.

Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti post-test dengan pendampingan para fasilitator untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti pelatihan.

Melalui kolaborasi antara AIBI, UNS, UNSW Australia, dan Aisyiyah Jawa Tengah, program inkubasi bisnis inklusif ini diharapkan mampu melahirkan pelaku usaha baru yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing, sekaligus membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi perempuan kepala keluarga dan penyandang disabilitas netra di Solo Raya.