Mengungkap Bahaya Diabetes, Silent Killer yang Mengintai Masyarakat Indonesia

oleh
oleh
Persadia gelar senam massal Diabetes pada World Diabetes Day 2025 di De Tjolomadoe | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Memperingati World Diabetes Day 2025, Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) cabang Surakarta menggelar acara puncak di De Tjolomadoe, Minggu (30/11/2025). Kegiatan ini dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan dirancang sebagai momen edukasi sekaligus promosi gaya hidup sehat untuk mencegah dan mengelola diabetes.

Ketua Persadia Surakarta, Dr. Eva Niamuzisilawati, SpPD, SubS (K) EMD, M.Kes, FINASIM, menekankan pentingnya momen ini sebagai pengingat tentang kondisi diabetes, khususnya di Indonesia yang berada di peringkat ke-5 dunia untuk jumlah penderita.

“Acara ini menjadi langkah edukasi bagi masyarakat, terutama mengenai empat pilar pengelolaan diabetes, edukasi, pengaturan pola makan, olahraga atau aktivitas fisik, dan penggunaan obat-obatan sesuai anjuran dokter,” ujar Dr. Eva.

Tema peringatan tahun ini masih sama seperti tahun sebelumnya, yaitu “Diabetes and Well-Being”, yang menekankan pentingnya kesejahteraan fisik dan mental bagi penderita diabetes.

Dalam kesempatan ini, peserta diajak mengikuti senam bersama dan berbagai kegiatan interaktif yang tidak hanya sebagai olahraga, tetapi juga sebagai sarana healing untuk menjaga kesehatan mental. Kegiatan ini diikuti sekitar 2.700 peserta dari berbagai cabang Persadia di seluruh Indonesia.

Dr. Eva menambahkan, meningkatnya kasus diabetes di Indonesia, termasuk di Solo, banyak dipengaruhi oleh obesitas.

“Pasca pandemi Covid-19, pola hidup masyarakat berubah. Banyak yang bekerja dari rumah sehingga aktivitas fisik menurun, sementara konsumsi makanan dan minuman tinggi gula meningkat. Hal ini berdampak pada meningkatnya risiko diabetes tipe 2,” jelasnya.

Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk mencegah diabetes masih menjadi tantangan terbesar. Globalisasi dan tren konsumsi makanan cepat saji serta minuman manis membuat masyarakat perlu lebih selektif dalam memilih makanan.

“Kita tidak bisa menghalangi masuknya makanan ini, tetapi masyarakat harus mampu memilah mana yang mendukung kesehatan dan mana yang sebaiknya dihindari,” kata Dr. Eva.

Diabetes juga dikenal sebagai “silent killer”, karena dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti penyakit jantung, gagal ginjal, gangguan tulang, kanker, dan infeksi berat. Namun, Dr. Eva menekankan bahwa komplikasi tersebut bisa dicegah jika gula darah tetap terkontrol dengan menerapkan empat pilar pengelolaan diabetes secara konsisten.

Bagi masyarakat yang belum terkena diabetes, langkah pencegahan sangat penting. Dr. Eva mendorong masyarakat untuk selalu mencari informasi yang akurat tentang diabetes, menerapkan pola makan sehat, berolahraga teratur, dan membangun kesadaran kesehatan sejak keluarga. Sedangkan bagi penderita diabetes, kontrol rutin ke dokter, pola hidup sehat, dan kepatuhan terhadap pengobatan adalah kunci untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup.

Persadia Solo memiliki 45 cabang yang aktif mengedukasi masyarakat. Dr. Eva menyebutkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hidup sehat cukup tinggi, terbukti dari partisipasi kegiatan yang terkadang mencapai 3.500 peserta.

“Kesadaran ini harus terus dipertahankan dan diperjuangkan demi tubuh yang lebih sehat dan kualitas hidup yang lebih baik,” tegas Dr. Eva.

Penyakit Tanpa Gejala yang Bisa Picu Komplikasi Serius

Dokter Ega Caesaria PP, SpPD menambahkan, diabetes masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Meski prevalensinya tinggi, banyak masyarakat yang belum menyadari risiko dan komplikasi yang dapat ditimbulkan penyakit ini. Untuk itu, edukasi dan kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam mencegah dan mengendalikan diabetes sejak dini.

Dokter Ega menjelaskan bahwa banyak penderita diabetes tidak mengenali tanda-tanda awal maupun komplikasi penyakit ini.

“Kami memberikan awareness atau kesadaran terkait komplikasi diabetes, khususnya bagi mereka yang sudah menderita. Sedangkan bagi masyarakat yang belum terkena diabetes, kami edukasi mengenai faktor risiko dan langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini,” ujarnya.

Salah satu tantangan utama adalah sifat diabetes yang sering “tanpa gejala” di tahap awal. Gejala yang muncul, seperti sering buang air kecil, rasa haus berlebihan, atau lapar yang terus-menerus, sering dianggap hal biasa dan tidak memicu kunjungan ke dokter. Akibatnya, banyak pasien baru menyadari kondisi mereka setelah komplikasi muncul, seperti gangguan ginjal, jantung, atau saraf.

Dr. Eva menekankan pentingnya kesadaran terhadap faktor risiko diabetes.

“Obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan riwayat keluarga dengan diabetes merupakan beberapa faktor risiko utama. Dengan mengenali faktor-faktor ini, masyarakat dapat melakukan langkah pencegahan lebih awal,” ungkapnya.

Selain itu, edukasi mengenai pola hidup sehat menjadi bagian penting dalam pencegahan diabetes. Aktivitas fisik yang teratur, pengaturan pola makan, dan pemeriksaan kesehatan rutin dapat membantu mendeteksi diabetes sejak tahap awal sehingga tatalaksana dapat dilakukan lebih efektif.

Acara edukasi ini juga menekankan bahwa pengendalian diabetes bukan hanya soal fisik, tetapi juga kesejahteraan mental. Dengan pemahaman yang baik, pasien dan masyarakat dapat mengelola diabetes tanpa merasa tertekan atau cemas berlebihan, sehingga kualitas hidup tetap terjaga.

“Kesadaran masyarakat terhadap diabetes harus terus ditingkatkan. Semakin dini penyakit ini dikenali dan dikendalikan, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi serius di kemudian hari,” tandasnya.

Peringatan seperti ini sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat, baik yang sudah menderita diabetes maupun yang belum, untuk memperhatikan kesehatan diri sendiri. Dengan deteksi dini dan langkah pencegahan yang tepat, diabetes yang sering disebut “silent killer” ini dapat dikendalikan dan risiko komplikasinya diminimalkan.