SOLO, MettaNEWS – Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memperingati HUT ke-68 secara nasional dengan tema “Mengabdi dan Menyala untuk Kesehatan Indonesia”.
Kegiatan dipusatkan di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dan berlangsung serentak di 39 cabang termasuk PAPDI Cabang Surakarta.
Ketua PAPDI Surakarta, Dr. dr. Arief Nurudhin, Sp.PD-KR., FINASIM, mengungkapkan bahwa PAPDI pusat menyiapkan tiga program utama untuk perayaan tahun ini.
Program pertama adalah edukasi kesehatan dengan tiga fokus besar: penyakit ginjal, obesitas, dan penyakit jantung. Semua materi diberikan oleh PAPDI pusat dan akan disosialisasikan kepada masyarakat melalui rumah sakit di masing-masing cabang.
Program kedua yaitu lomba video edukasi. PAPDI Surakarta memilih tema asam urat sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat karena prevalensi yang tinggi serta masih banyak kesalahpahaman tentang penyakit tersebut.
Program ketiga adalah pembuatan time capsule, yang berisi harapan dan pesan dari para anggota PAPDI. Kapsul ini akan dibuka kembali setelah tiga tahun sebagai bentuk refleksi dan komitmen jangka panjang.
Menurut Dr. Arief, fokus edukasi pada diabetes, ginjal, dan jantung karena ketiganya merupakan penyakit terbanyak di bidang Penyakit Dalam dan sering menjadi pemicu munculnya penyakit lain. Diabetes, yang disebut sebagai mother of disease, dapat menimbulkan komplikasi luas, termasuk berujung pada gagal ginjal.
Sementara penyakit ginjal merupakan kondisi akhir dari berbagai penyakit kronis. Penyakit jantung dan obesitas juga menjadi perhatian besar karena terus meningkat jumlah kasusnya.
Ia menjelaskan kondisi di wilayah Solo, di mana RSUD Dr. Moewardi mencatat pasien terbanyak adalah kasus gastro, diikuti kanker, gangguan darah, autoimun, dan masalah sendi. Secara umum di Surakarta, kasus diabetes dan hipertensi termasuk yang paling banyak.
Dr. Arief menekankan pentingnya deteksi dini dan pencegahan, seperti pola makan sehat, olahraga teratur, tidak mengonsumsi obat sembarangan, serta mencegah infeksi berulang yang dapat merusak ginjal.
“Kalau ada keluhan sedikit saja, harus segera diperiksakan agar cepat ditangani dan tidak berkembang menjadi kronis,” jelas Dr. Arief.
PAPDI Surakarta saat ini memiliki 180 dokter anggota. Meski jumlah tersebut cukup, beban pasien terus meningkat.
Dr. Arief menambahkan bahwa kebutuhan dokter penyakit dalam justru lebih mendesak di luar Pulau Jawa, di mana jumlahnya masih sangat kurang.
Di akhir, Dr. Arief berharap momentum HUT PAPDI ke-68 dapat meningkatkan semangat pengabdian para dokter.
“Kami akan terus memberikan pelayanan profesional tanpa membedakan latar belakang apa pun. Semua pasien berhak mendapatkan penanganan yang baik berdasarkan keilmuan yang kami miliki,” tegasnya.







