SOLO, MettaNEWS – Dampak dari dua jembatan di Kota Solo bagian timur, yakni Jembatan Mojo dan Jurug B yang ditutup, membuat arus lalu lintas memadat signifikan di jalur-jalur alternatif yang tidak banyak. Warga pun mencari alternatif, di antaranya jembatan sasak (anyaman bambu) yang ada di Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres, Solo. Namun, tak semua pengendara sepeda motor berani melewati jembatan darurat yang dibangun swadaya oleh masyarakat itu.
Saat ini jembatan Jurug B telah ditutup sejak tanggal 20 September 2022. Sedangkan Jembatan Mojo baru akan dibatasi aksesnya mulai Senin (26/9/2022).
Jembatan sasak di Kampung Beton, melintang sepanjang lebih kurang 60 meter di atas Bengawan Solo. Terbuat dari lembaran anyaman bilah bambu, jembatan ini “ditopang oleh sekitar 100 batang bambu dan 34 drum plastik kapasitas 200 liter. Sudah puluhan tahun jembatan darurat hadir setiap musim kemarau, dan umurnya berakhir ketika hujan pertama meluapkan permukaan air Bengawan. Tahun ini, jembatan dibangun dengan pagar bambu di kiri kanan, di masa lalu pagar itu tidak ada.
Hanya sepeda, sepeda motor dan pejalan kaki yang bisa melewati jembatan ini. Itu pun dibutuhkan keterampilan mengemudi yang cukup, mengingat dari tepi sungai ke jembatan jalannya terbilang curam dan licin.
Isnaini, warga Mojolaban, Sukoharjo, Kamis (22/9) tampak bimbang saat menyaksikan jembatan itu. Kepada MettaNews dia bertutur, biasanya berangkat ke tempar kerja di kawasan perbelanjaan Beteng, Solo dengan sepeda motor melalui Jembatan Mojo.
“Kan Jembatan Mojo mau ditutup, dan ini survei, dengar-dengar lewat sini lebih dekat. Tapi setelah melihat, rasanya saya tidak berani. Sudah nanti memutar saja, daripada nyungsep,” katanya.
Hal senada diungkapkan Novi, warga Palur. Dia setiap hari harus ke Solo melewati Jembatan Jurug. Namun karena saat ini hanya jembatan C yang dibuka, kemacetan lalu lintas di sana menurutnya sudah tergolong mengerikan. Karena itu dia berniat mencari rute alternatif melalui jembatan sasak.
“Iya baru kali ini mau mencoba lewat sini. Tapi saya kok takut, sudah nanti memutar saja, biar lebih jauh yang penting aman,” ujarnya.
Rute Alternatif yang Disarankan
Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Solo, Ari Wibowo kepada pers pekan lalu mengimbau warga memilih rute alternatif yang aman. Tentang adanya jembatan sasak sebagai rute alternatif, pihaknya menyebut jembatan seperti itu meski membuat jarak menjadi lebih dekat, tidak ada jaminan keselamatan.
“Situasinya memang sedang tidak normal, karena dua rute utama masuk kota Solo dari arah timur jembatannya diperbaiki bersamaan. Perbaikan ini juga untuk kebaikan bersama nantinya, sehingga mohon warga bersabar dan tetap memilih rute yang aman,” lanjutnya.
Dua rute yang dianjurkan aparat, yakni menggunakan juga pintu masuk yang bisa dilalui semua jenis kendaraan seperti jalan lingkar (ring road) Mojosongo dan melalui jembatan Bacem, Grogol, Sukoharjo.
Sedangkan untuk kendaraan mobil dan yang lebih besar, bisa menggunakan jalan tol melalui gerbang Kebakkramat. Namun masalahnya, jika keluar di pintu tol Gondangrejo, jalur masuk kota di perlintasan Joglo saat ini juga tengah ada proyek pembangunan rel layang.







