SOLO, MettaNEWS – Jembatan sasak bambu sepanjang 70 meter dibuat warga Desa Gadingan Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo di atas Sungai Bengawan Solo. Jembatan itu menghubungkan Desa Gadingan, Sukoharjo dengan Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Kota Solo.
Kerangka jembatan ini dibuat dari sekitar 100 bambu, 34 drum atau tong. Selanjutnya warga secara bergotong royong merakitnya selama kurang lebih tiga minggu. Melalui dana pribadi warga Rp 20 juta ini jembatan sasak kini dapat dibangun lebih kuat.
Selama musim kemarau warga dari dua wilayah ini memanfaatkan jembatan sasak untuk menyeberang. Lantaran perahu yang biasa digunakan tak dapat lagi beroperasi dengan kondisi air yang menyusut dan kering.
Banyak warga seperti pekerja, pedagang pasar maupun anak sekolah yang kemudian memanfaatkan jembatan ini sebagai jalur alternatif yang lebih cepat. Terlebih saat ini jembatan Mojo dan jembatan Jurug B tengah dibangun dan ditutup.
Salah satu warga Nusukan, Seno (50) biasa menggunakan jembatan tersebut sejak tahun 1999. Dua hari sekali ia melewati jemabatan sasak untuk mengambil karak ke Gadingan, Sukoharjo. Jika dibandingkan melewati jembatan Jurug ia merasa jarak yang ia tempuh lebih jauh.
“Sementara lewat sasak ini kalau hujan nyebrangnya pakai perahu, ini kan sidatan (alternatif) kalau ini ditutup saya berharap ya dibangun, soalnya lewat jembatan Jurug lebih jauh jaraknya,” kata Seno kepada MettaNEWS, Rabu (14/9/2022).
Nantinya saat musim hujan tiba air Sungai Bengawan Solo akan meninggi. Sehingga jemabatan sasak ini akan rusak terbawa arus. Saat itu warga akan kembali menggunakan perahu sebagai transportasi penyebrangan.
“Sekarang cuacanya nggak bisa ditentukan karena hujannya kan nggak mesti juga kemaraunya mbolak mbalik, insyaAllah aman, katanya.
Jembatan sasak merupakan jembatan yang tak permanen, dikatakan Seno kebaradaan jembatan sasak sudah mulai ada sejak tahun 1960-an.
Berdasarkan pantauan MettaNEWS, beberapa pengendara roda dua akan menurunkan penumpangnya saat melewati jemabatan sasak. Sensasi jembatan yang bergoyang begitu dirasakan meski hanya berjalan. Untuk sampai di Beton, Kelurahan Sewu Solo pengendara harus melewati jalan menanjak. Sehingga kehati-hatian sangat dibutuhkan saat melewati jalan ini lantaran letaknya di pinggiran sungai.








