SOLO, MettaNEWS – Pemandangan berbeda tersaji di Pura Mangkunegaran tatkala ratusan warga Tionghoa berkumpul dengan memakai pakaian beridentitas komunitas. Di tangan mereka, ada alat kebersihan seperti sapu lidi, sapu ijuk, pengki, kain lap, komeceng dan lainnya.
Di antara ratusan warga Tionghoa itu, ada sosok yang tentu tidak asing lagi. Ia adalah KGPAA Mangkunegara X, sang pemimpin Pura Mangkunegaran.
Rupanya mereka tengah melakukan tradisi bersih-bersih Mangkunegaran dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
Kegiatan ini menjadi yang ketiga kalinya diadakan. Dalam tradisi Tionghoa, membersihkan rumah bukan sekadar rutinitas harian, melainkan ritual penting menjelang Tahun Baru Imlek.
Tradisi ini tercatat sejak zaman Dinasti Song dalam karya Wu Zimu, Mengliang Lu, melalui pepatah “Làyuè èrshísì, dǎn chén sǎo fángzi”yang menganjurkan pembersihan rumah pada hari ke-24 bulan ke-12 lunar.
Secara simbolis, kegiatan ini bermakna menyucikan diri dari segala hal di tahun yang telah berlalu. Kolaborasi ini melibatkan komunitas masyarakat Tionghoa, di antaranya Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Pemuda Khong Hu Cu (PAKIN), perwakilan Kelenteng Tien Kok Sie, Tripusaka dan Junior Chamber Internasional (JCI).
Kegiatan ini juga melibatkan abdi dalem dan abdi muda Mangkunegaran sebagai upaya agar generasi muda secara aktif mengikuti berbagai kegiatan di Mangkunegaran.
“Tahun baru Imlek tentu momen yang sangat spesial, spesial untuk kita semua dan kita jugasudah melihat bahwa hari ini di Kota Solo perayaannya sangat menyenangkan. Sangat besar, tapi yang paling penting penuh dengan kebersamaan. Dan inilah yang menurut saya membuat kota kita ini sangat spesial, penuh dengan keberagaman banyak latar belakang tapi kita semua satu dalam kebersamaan,” tutur KGPAA Mangkunegara X dalam sambutannya.
Kegiatan tahunan ini menjadi salah satu hal yang paling ditunggu masyarakat Tionghoa.
“Jadi tidak hanya diundang untuk bersih-bersih secara fisik tetapi sebetulnya kita ini dimintauntuk membersihkan jiwa kita. Karena hanya dengan hati yang gembira itu adalah obat yang terbaik,” tutur perwakilan komunitas Tionghoa, Liliek Setiawan.
Mangkunegaran menyajikan beberapa kudapan sebagai simbol budaya kuliner kedua kulturJawa dan Tionghoa yang melambangkan kebersamaan dan keberuntungan diantaranya adalah onde-onde, kue lapis, arem-arem, kueku, dan juga jeruk, selain itu juga disajikan wedangsecang yang dibuat oleh abdi dalem Mangkunegaran.
Semangat gotong royong, rasa syukur, dan kepekaan terhadap perubahan menjadi landasan Mangkunegaran dalam menghadapi dinamika zaman.
Nilai-nilai tersebut diterjemahkan sebagai ajakan untuk memperkuat kebersamaan lintas generasi, memperdalam kesadaran budaya, serta membangun ketangguhan menghadapi tantangan sosial dan kultural ke depan.







