Jateng Luncurkan “Kencan Bumil”, Gus Yasin Tekankan Suami Wajib Dampingi Ibu Hamil

oleh
oleh

BLORA, MettaNEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi meluncurkan gerakan “Kencan Bumil” atau Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil sebagai upaya menekan angka kematian ibu dan bayi.

Program tersebut dilaunching Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di Desa Nglangitan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Selasa (19/5/2026).

Dalam kegiatan yang dirangkaikan dengan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 Tahun 2026 itu, Gus Yasin menegaskan pentingnya edukasi kesehatan ibu hamil dan bayi sejak masa kehamilan. Ia juga menyoroti pentingnya peran suami dalam mendampingi istri saat memeriksakan kandungan.

“Suami harus mengantar istrinya supaya sama-sama tahu kondisi kehamilan istrinya,” tegasnya saat memberikan sambutan.

Menurutnya, kesehatan bayi sangat ditentukan sejak dalam kandungan. Karena itu, ibu hamil harus rutin memeriksakan kehamilan, menjaga pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi, hingga melakukan pemeriksaan USG secara berkala.

Melalui gerakan Kencan Bumil yang dimotori PKK, para ibu hamil akan didata dan dikawal selama masa kehamilan oleh kader PKK, kader Posyandu, serta petugas kesehatan. Pendampingan itu diharapkan mampu menekan angka kematian ibu, angka kematian bayi, sekaligus mencegah stunting.

“Ibu-ibu PKK ini sebenarnya membantu tugas pemerintah. Dengan adanya gerakan Kencan Bumil, masyarakat semakin teredukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil dan bayi,” ujar Gus Yasin.

Sementara itu, Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin mengatakan, gerakan Kencan Bumil diharapkan dapat menjangkau seluruh masyarakat Jawa Tengah agar penurunan angka kematian ibu dan bayi bisa berjalan maksimal.

“Marilah momentum HKG PKK ke-54 ini menjadi titik balik untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi secara signifikan,” katanya.

Ia menjelaskan, angka kematian ibu di Jawa Tengah terus mengalami penurunan. Pada 2024 tercatat sebanyak 427 kasus, kemudian turun menjadi 337 kasus pada 2025. Meski demikian, upaya pencegahan harus terus diperkuat karena masih terdapat ratusan kasus kematian ibu dan bayi.

Dalam pelaksanaannya, PKK Jawa Tengah akan fokus pada tiga hal utama, yakni penjangkauan, peningkatan pengetahuan, dan pendampingan ibu hamil.

“Satu kader satu ibu hamil. Jadi pendampingannya benar-benar dikawal sejak masa kehamilan hingga pasca nifas,” jelas Nawal.

Ia menambahkan, persoalan kehamilan tidak hanya dipengaruhi faktor medis seperti hipertensi, perdarahan, infeksi, dan komplikasi lainnya. Namun juga dipengaruhi faktor sosial, ekonomi, pendidikan, hingga rendahnya literasi kesehatan keluarga.

Menurutnya, kelompok rentan seperti ibu hamil penyandang disabilitas, ibu hamil usia anak, korban kekerasan seksual, hingga ibu hamil dengan HIV juga membutuhkan perhatian khusus agar tidak tertinggal dalam layanan kesehatan.

“Jangan sampai ada satu pun kelompok yang ditinggalkan dalam layanan kesehatan ibu hamil dan balita di Jawa Tengah,” tandasnya.

Berdasarkan data SIM PKK Jawa Tengah, saat ini terdapat 212.823 unit PKK tingkat RT dan 452.426 Dasa Wisma. Selain itu, Jawa Tengah juga memiliki 49.149 Posyandu dengan 268.357 kader kesehatan.

Nawal optimistis kolaborasi antara pemerintah daerah, PKK, Posyandu, tenaga kesehatan, dan keluarga mampu menekan angka kematian ibu, angka kematian bayi, serta stunting di Jawa Tengah.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Blora Arief Rohman menegaskan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Blora terhadap berbagai program prioritas PKK.

“Kami berharap keberadaan PKK bisa memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Semoga sinergi pemerintah kabupaten dan provinsi dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.