Listrik Pasar Darurat Hanya 5 Watt, Pedagang Pasar Mebel: Bahkan untuk Produksi Ringan Saja Tak Cukup

oleh
Pasar Darurat
Pasar Darurat untuk pedagang Pasar Mebel Gilingan, Jalan DI Panjaitan No 6, Stabelan, Banjarsari, Solo, Jumat (20/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Pedagang Pasar Mebel Gilingan, Banjarsari keluhkan ketersediaan listrik di Pasar Darurat yang terletak di Jalan DI Panjaitan Nomer 6 dan 14 Stabelan, Solo. Hal ini lantaran besaran daya listrik di pasar tersebut hanya sebesar 5 watt.

Salah satu pengurus paguyuban pedagang Pasar Mebel Gilingan Solo, Nuning Suharti mengatakan, produksi ringan di Pasar Darurat sulit dilakukan.

“Teman-teman di Pasar Mebel ini seiring kemajuan zaman kemajuan fasilitas kan mereka tetap pakai alat. Kalau misal kita produksi di sana lampu cuma 5 watt. Sedangkan produksi kan lebih dari 5 watt,” ucap Nuning saat ditemui di Pasar Mebel Gilingan, Kamis (19/5/2022).

Pihaknya pun sebagai perwakilan dari pedagang mempertanyakan akan fasilitas listrik yang sebelumnya akan dipindahkan.

“Katanya mau dapet fasilitas listrik mau dipindahkan ke sana. Pikirnya pedagang bisa buat bekerja ternyata nggak bisa. Harus 3 sampai 4 orang pasang listriknya. Lha pasang listrik itu bayar atau enggak,” tutur Nuning.

Ukuran kios sebesar 3×4 meter ini hanya terdapat satu penerangan atau lampu di tiap-tiap kiosnya.

“Secara pekerjaan kita sudah dipindah ya nggak apa-apa. Kita manut (ikut). Pasar baru belum dibangun, kita tidak bisa apa-apa. Tapi fasilitas listriknya. Karena kan di Pasar Mebel kan harus produksi, kebutuhan semua showroom. Namanya produksi kan harus makai fasilitas listrik. Di sana mau pasang baru ya bayar lagi. Jadi kami bingung,” terang Nuning.

Nuning menyebut pemahaman akan produksi ringan antara pedagang dengan pemangku kebijakan tidak sejalan.

“Kalau cuma 5 watt itu bagaimana. Kalau cuma buat lampu emergency mungkin bisa tapi kalau mau gerinda tancapkan di mana. Kalau cuma buat showroom doang ya nggak bisa. Seringan-ringannya produksi ya bagi Pasar Mebel nggak bisa. Tenaga kerja sekarang pada nggak mau. Yang dimaksud produksi ringan pihak dinas dengan pedagang belum sejalan,” jelasnya.

Permasalahan ini pun akan ia sampaikan pada saat peresmian Pasar Darurat pada Senin (23/5) mendatang kepada Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka.

Sementara itu, Lurah Pasar Mebel Gilingan, Febrianto Budi Utomo menuturkan permasalahan listrik di Pasar Darurat sudah direkomendasikan ke Dinas Perdagangan (Disdag) Solo.

“Kalau listrik itu dari Disdag belum ngasih. Masalahnya listrik itu bukan dari Pemkot, dari PLN sendiri. Pedagang juga usaha sendiri, kalau pun mau pasang listrik. Dari dinas juga sudah memberikan rekomendasi,” terangnya.

Diperbolehkannya semua kios di Pasar Darurat untuk melakukan produksi ringan, Heru menyebut pedagang dapat mengatur sendiri listrik yang dibutuhkan.

Selain itu, produksi ringan di Pasar Darurat ini memiliki aturan yakni tidak boleh menggunakan semprotan milanium. Lantaran hal ini dapat mengganggu lingkungan sekitar.

“Kalau milenium nggak mungkin bisa to. Mengganggu lingkungan,” tambahnya.

Pedagang di Pasar Mebel ini disebutkan Heru tidak mencapai 85 orang. Dari total tersebut sebanyak 25 kios yang terbakar sehingga para pedangang membuat proposal ganti rugi yang akan diajukan ke Pemkot Solo.

“Pemkot, Disdag menyediakan darurat di sini sama di tempat satunya. Kalau proposal itu bantuan seng sudah. Baru wacana (proposal ganti rugi korban kebakaran). Semua berhak minta, bebas diakomodir atau tidaknya itu tergantung. Semua minta ya nggak masalah. Silahkan kalau mau mengajukan bukannya nggak boleh,” tutupnya.