SOLO, MettaNEWS – Masyarakat Solo Raya didorong tak hanya semakin mudah mengakses layanan keuangan, tetapi juga semakin cakap dalam menggunakannya. Penguatan literasi dan inklusi keuangan dinilai menjadi kunci agar masyarakat mampu memanfaatkan layanan keuangan secara aman, bijak, dan sesuai kebutuhan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat menghadiri Kick Off Road to Bulan Inklusi Keuangan (BIK) Solo Raya 2026 yang dirangkaikan dengan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FK IJK) Solo Raya, Minggu (6/9/2026).
Astrid menegaskan, inklusi keuangan memiliki peran penting dalam mendorong kemandirian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, kemudahan memperoleh akses layanan keuangan harus berjalan beriringan dengan pemahaman yang memadai. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna produk keuangan, tetapi juga mampu menentukan pilihan finansial secara tepat.
“Ini bukan sekadar seremoni pembukaan atau kegiatan olahraga saja. Lebih dari itu, kita ingin mengingatkan bahwa akses terhadap layanan keuangan yang aman, mudah, dan sesuai kebutuhan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Astrid.
Literasi Keuangan Jadi Kunci
Astrid mengatakan, literasi keuangan diperlukan agar masyarakat semakin mandiri dalam mengelola keuangan, mengembangkan usaha, maupun memanfaatkan berbagai produk dan layanan jasa keuangan.
“Literasi keuangan yang baik akan membuat masyarakat lebih mampu mengambil keputusan, mengelola keuangan, mengembangkan usaha, sekaligus memahami risiko ketika menggunakan layanan keuangan,” katanya.
Ia menilai penguatan literasi dan inklusi keuangan tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri jasa keuangan, dunia pendidikan, komunitas, pelaku UMKM, hingga masyarakat.
“Kami berharap sinergi ini terus diperkuat. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Semua pihak harus bersama-sama memastikan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan akses keuangan sekaligus memiliki pemahaman yang baik dalam menggunakannya,” ungkap Astrid.
Inklusi Keuangan Nasional Sudah 93,61 Persen
Sementara itu, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) 2 OJK Provinsi Jawa Tengah Hermanto mengatakan, inklusi keuangan merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan nasional.
Pemerintah menargetkan tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 98 persen pada 2045.
“Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, tingkat inklusi keuangan nasional saat ini telah mencapai 93,61 persen. Tentu angka ini kita sambut gembira, tetapi tetap harus kita perjuangkan sampai mencapai 98 persen,” ujar Hermanto.
Untuk mengejar target tersebut, OJK mendorong sinergi antara kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, industri jasa keuangan, serta seluruh pemangku kepentingan yang tergabung dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
Upaya tersebut juga dilakukan di wilayah Solo Raya. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, OJK Solo bersama Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) dan TPAKD se-Solo Raya telah menggelar 70 kegiatan literasi dan edukasi keuangan.
Kegiatan tersebut diikuti total 19.039 peserta dengan sasaran yang cukup beragam. Mulai dari pelajar dan mahasiswa, kelompok perempuan, penyandang disabilitas, pelaku UMKM, komunitas pekerja migran Indonesia, hingga masyarakat umum.
Road to BIK 2026 Masuk September
Selain memperluas edukasi, OJK juga memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang dinilai berkontribusi dalam meningkatkan literasi keuangan di Solo Raya.
Sejumlah penghargaan yang diberikan antara lain Literasi Award Solo Raya 2026, Hari Indonesia Menabung Award Solo Raya 2026, dan Bank Goes to School Solo Raya Award 2026.
“Di bulan September ini kita telah memasuki periode Road to BIK 2026 yang nantinya akan ditutup dengan kegiatan puncak Bulan Inklusi Keuangan pada Oktober mendatang,” jelas Hermanto.
Rangkaian BIK 2026 diharapkan menjadi momentum untuk semakin memperluas akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan.
Industri jasa keuangan juga didorong terus menghadirkan inovasi, produk, insentif, serta kegiatan yang menarik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dengan kolaborasi tersebut, penguatan literasi, inklusi, sekaligus perlindungan konsumen diharapkan semakin optimal. Masyarakat Solo Raya pun diharapkan bukan hanya semakin mudah mendapatkan akses layanan keuangan, tetapi juga semakin cakap, aman, dan bijak dalam menggunakannya.








