Wamendag Blusukan ke Kampung Batik Solo, Batik Tulis hingga Gudeg Kaleng Dibidik Tembus Pasar Dunia

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS–  Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI Dyah Roro Esti Widya Putri mengunjungi sentra batik Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman, Jumat (4/9/2026).

Didampingi Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani, Wamendag melihat langsung aktivitas para perajin, proses pembuatan batik, hingga berbagai produk unggulan khas Solo.

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan produk lokal agar tidak hanya bertahan di pasar dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.

Kunjungan diawali di rumah produksi Batik Saudagaran di kawasan Kampung Batik Laweyan. Wamendag tampak antusias melihat berbagai koleksi batik khas Solo sekaligus menggali makna dan filosofi yang terkandung dalam setiap motif.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap perajin lokal, Dyah bahkan membeli sejumlah koleksi kain batik, salah satunya batik tulis.

Pembelian tersebut diharapkan ikut memberikan dukungan nyata kepada perajin sekaligus menggerakkan roda ekonomi pelaku UMKM batik di Kota Surakarta.

Dari Laweyan, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Kampung Batik Kauman. Di sana, Wamendag bersama Astrid melihat langsung proses pembuatan batik oleh para perajin.

Batik Tulis Jadi Kekuatan Solo

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengatakan batik merupakan salah satu produk unggulan Kota Solo yang terus dikembangkan. Menurutnya, batik tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Solo.

Karena itu, keberadaan batik tulis dinilai perlu terus dijaga dan dikembangkan di tengah persaingan produk fesyen yang semakin ketat.

“Mayoritas batik karena kami juga fokus pada pelestarian batik, khususnya bagaimana batik tulis masih terus dikembangkan,” kata Astrid.

Astrid menilai dukungan Kementerian Perdagangan menjadi peluang besar bagi pemerintah daerah dan pelaku UMKM untuk memperluas pasar.

Salah satu pintu yang dapat dimanfaatkan adalah Trade Expo Indonesia (TEI), yang mempertemukan produk-produk Indonesia dengan buyer dari berbagai negara.

“Trade Expo Indonesia ini merupakan dukungan yang luar biasa dari Kementerian Perdagangan untuk kami yang ada di pemerintah daerah,” ujarnya.

Menurut Astrid, pengembangan produk unggulan Solo harus tetap mempertahankan karakter budaya lokal. Produk handmade yang mengangkat kultur asli Solo dinilai memiliki nilai tambah dan daya saing tersendiri di pasar global.

“Bagaimana terus mengembangkan dan melestarikan produk-produk yang memang berbasis handmade, berbasis kultur asli atau budaya asli yang ada di Kota Solo itu sendiri,” katanya.

Wamendag: Produk Lebih Dihargai Setelah Lihat Prosesnya

Sementara itu, Wamendag Dyah Roro Esti mengaku mendapat pengalaman berbeda setelah melihat secara langsung proses pembuatan batik di Kampung Batik Kauman.

Menurutnya, melihat proses produksi secara langsung membuat seseorang semakin memahami nilai dan kerja keras di balik sebuah produk.

“Tadi kita sudah melihat proses membatiknya juga bersama dengan para pengrajin. Pada intinya kita bisa mengapresiasi sebuah produk ketika kita melihat prosesnya,” ujar Dyah.

Kementerian Perdagangan, lanjutnya, terus berupaya memberikan fasilitasi agar produk Indonesia dapat masuk ke pasar internasional.

Salah satunya melalui Trade Expo Indonesia yang menjadi ruang promosi sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan buyer dari luar negeri.

“Kami ingin hadir untuk memfasilitasi para pelaku usaha agar mereka bisa dipertemukan dengan buyer-buyer luar negeri. Nanti ada proses bisnis pitching, lalu kemudian business matching,” katanya.

Dyah menilai batik Solo memiliki peluang besar untuk semakin dikenal di pasar global. Pasalnya, batik tidak hanya menawarkan produk fesyen, tetapi juga membawa cerita, filosofi, dan nilai budaya yang menjadi keunggulan tersendiri.

Bukan Hanya Batik, Gudeg Kaleng Juga Dilirik

Perhatian Wamendag dalam kunjungan tersebut ternyata tidak hanya tertuju pada batik.

Produk unggulan lain turut mendapat apresiasi, salah satunya inovasi kuliner lokal berupa gudeg kaleng.

Inovasi tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjangkau pasar yang lebih luas karena menawarkan kemudahan dari sisi pengemasan dan distribusi.

Produk gudeg dalam kemasan juga dinilai berpeluang menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas Solo bagi wisatawan.

Kunjungan Wamendag ke Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan produk unggulan berbasis budaya.

Pemkot Surakarta berharap dukungan dan fasilitasi dari Kementerian Perdagangan dapat membuka lebih banyak peluang bagi perajin dan pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas usaha serta memperluas akses pasar.

Dengan kekuatan budaya, kreativitas perajin, dan dukungan akses perdagangan, batik serta berbagai produk khas Solo diharapkan tidak berhenti menjadi kebanggaan daerah, tetapi mampu naik kelas dan semakin dikenal di pasar internasional.