SOLO, MettaNEWS – Jelang kirab malam 1 Sura, Keraton Kasunanan Surakarta terus memantau kondisi kesehatan Kebo Kiai Slamet yang telah dikarantina di Magangan. Kelima kerbau keturunan Kiai Slamet tersebut menjalani isolasi setelah terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dari semua kerbau yang terpapar PMK, lima kerbau ini yang kondisinya paling baik.
Pengageng Parentah Keraton Surakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH), Dipokusumo di keraton, Kamis (28/7/2022) menjelaskan kondisi kerbau-kerbau tersebut terus dipantau oleh dokter hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Surakarta.
“Yang terindikasi paling sehat adalah 5 kerbau dan diawasi terus dinas kesehatan sampai hari kirab. sampai besok mana yang paling bisa dan paling siap akan ikut kirab,” ungkap Dipokusumo.
Adik dari Raja Keraton Kasunanan PB XIII Hangabehi ini mengatakan standarisasi kirab malam 1 Sura tidak ada perubahan dan akan melalui rute kirab yang sama seperti tahun sebelumnya.
“Setelah dua tahun tidak ada kirab karena pandemi Covid, dan saat ini ada laporan peningkatan covid meningkat dan potensi kerumunan tetapi sampai hari ini Satgas Covid mengizinkan untuk bisa kirab,” tutur Gusti Dipo.

Kirab malam 1 Sura yang biasanya dimulai pada pukul 00.00 WIB, lanjut Gusti Dipo tidak bisa dipisahkan dari kebo bule keturunan Kiai Slamet.
“Sebagian mahesa yang akan dipersiapkan untuk kirab sudah di karantina. Sebetulnya kalau sejak zaman dulu itu kebonya ini tidak di kandang tetapi bebas brada di mana-mana. Para Srati (pawang kebo) biasanya mendapat mimpi atau petunjuk Mahesa ada di mana dan biasanya jelang malam 1 Sura pada pulang ke sini,” papar Gusti Dipo.
Menurut Gusti Dipo, selain kebo bule Kiai Slamet ada pusaka yang wajib ada dalam setiap kirab malam 1 Sura yakni pusaka Kiai Slamet.
“Cucuk lampahnya adalah mahesa (kebo). Kenapa kerbau? ada filosofinya di masyarakat Jawa, kebo sangat dekat dengan manusia. Simbol kehidupan manusia di sawah yang urusannya dengan sumber makanan manusia,” ujar Gusti Dipo.
Tepat pada malam 1 Sura, Gusti Dipo mengungkapkan ada serangkaian upacara adat yang harus diikuti oleh seluruh putra putri dalem, rayi dalem, kerabat dalem serta para sentana dan abdi dalem.
“Sebelum kirab ada doa bersama, kemudian kirab, usai kirab pusaka dilanjutkan dengan meditasi (semedi), dilanjutkan salat Hajat yang dilakukan di Masjid Agung, masjid depan kertaon dan masjid di dalam keraton kemudian dilanjutkan dengan salat subuh,” pungkas Gusti Dipo.








