Halalbihalal Keraton Kasunanan Surakarta, Panembahan Tedjowulan dan Menteri Fadli Zon Fokus Revitalisasi Cagar Budaya

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS — Momentum Hari Raya Idul Fitri dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi sekaligus penguatan komitmen pelestarian budaya di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Dalam acara halalbihalal  Keraton Surakarta, Kamis (26/3/2026) yang digelar di Sasana Andrawina, Panembahan Agung KGPH Tedjowulan menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah kepada Menteri Kebudayaan dan seluruh tamu undangan, seraya mengajak semua pihak kembali ke fitrah setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Idul Fitri adalah momentum yang sangat baik untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan saling memaafkan,” sambut Tedjowulan.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin atas nama pribadi maupun keluarga besar keraton kepada seluruh masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Panembahan menekankan pentingnya menjaga kerukunan di internal keraton. Ia mengajak seluruh pihak untuk mengesampingkan kepentingan pribadi maupun golongan, serta mengedepankan kemajuan bersama Keraton Surakarta di masa depan.

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, TNI, Polri, serta Pemerintah Kota Surakarta atas dukungan yang selama ini terjalin. Panembahan berharap sinergi tersebut dapat terus berlanjut, terutama dalam mendukung program revitalisasi keraton yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa kehadiran kementeriannya merupakan tindak lanjut dari kebijakan pemerintah untuk mempercepat revitalisasi kawasan keraton sebagai cagar budaya nasional.

Menurutnya, tradisi Idul Fitri dan halalbihalal merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain. Ia juga menilai momentum ini menjadi saat yang tepat untuk mempererat persatuan dan kebersamaan.

Fadli Zon menjelaskan bahwa Keraton Kasunanan Surakarta telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional sejak 2017, sehingga memerlukan perhatian serius dalam hal pelestarian, perawatan, dan pengelolaan.

“Revitalisasi akan dilakukan secara bertahap, termasuk museum dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Tahun lalu baru sekitar 20 persen, dan tahun ini akan kita percepat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, revitalisasi tidak hanya berfokus pada fisik bangunan, tetapi juga penguatan narasi sejarah, digitalisasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia seperti pemandu wisata.

Dengan pengalaman mengunjungi berbagai istana di dunia, Fadli optimistis Keraton Surakarta dapat menjadi destinasi unggulan wisata budaya, sejarah, hingga religi di Indonesia, bahkan di tingkat internasional.

“Kalau dikelola dengan baik, keraton ini bisa menjadi destinasi utama di Surakarta dan Jawa Tengah,” ujarnya.

Pemerintah berharap revitalisasi yang dimulai sejak tahun lalu dapat berjalan lebih masif pada 2026, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pelestarian budaya nasional.

Melalui momentum halalbihalal ini, sinergi antara pemerintah dan pihak keraton diharapkan semakin kuat dalam menjaga warisan budaya sekaligus mendorong kemajuan kawasan Keraton Surakarta sebagai pusat peradaban dan destinasi wisata unggulan.