Ketua BEM FMIPA UNS yang Dipukuli Sopir Fakultas Menolak Mediasi

oleh
Ketua BEM FMIPA UNS
Dua aktivis BEM FMIPA UNS, Muhammad Khairil Ibadu Rahman, dan Muhammad Chorirul Umam saat memberi keterangan pers di Polresta Surakarta, Kamis (24/8/2023) | MettaNews/Ari Kristyono

SOLO, MettaNEWS – Muhammad Choirul Umam (19), Ketua BEM FMIPA UNS (Universitas Sebelas Maret), menolak mediasi atas kasus pemukulan yang menimpanya. Meski pelakunya sopir, pihaknya menuduh insiden itu adalah bentuk represivitas kampus pada aksi-aksi mahasiswa.

Kamis (7/9/2023) Umam hadir di Polresta Surakarta, sejumlah teman yang menyebut diri Forum Peduli UNS mendampinginya.

“Kami datang untuk menjawab surat permohonan mediasi yang disampaikan oleh pelaku. Kami tegas menolak mediasi dengan beberapa alasan,” tutur Umam.

Alasan utama, karena pemukulan ini menimbulkan keresahan di lingkungan mahasiswa. Bukan hanya dia yang merasa trauma, namun para aktivis mahasiswa was was aktivitas mereka terhambat oleh represivitas kampus.

Baca juga: Forum Peduli UNS Usai Dicecar Puluhan Pertanyaan soal Tuduhan Korupsi UNS: Kami Sampaikan Siapa yang Punya Peran

Represivitas tersebut, menurut Umam patut dicurigai terstruktur dan mendapat “restu” dari pimpinan kampus.

“Misal, kami menyesalkan pernyataan Dekan tentang kasus ini semata-mata persoalan pribadi dengan pelaku. Juga Dekan menolak mengakui pemukulan pertama kali di dalam mobil, tapi untung saya punya rekaman suara,” papar Umam.

Kejadian pemukulan berawal dari undangan ke Gedung Rektorat dengan dalih menjelaskan mengenai aksi-aksi mahasiswa di kampus. Aksi yang dia maksud adalah kehadiran BEM di acara Pengenalan Kehidupan Kampus untuk Mahasiswa Baru (PKKMB). Umam mengaku pada aksi itu sebagai Ketua BEM FMIPA UNS, dia menjelaskan sejumlah masalah yang tengah terjadi di kampus.

Berawal dari Coretan JAMAL GAGAL

“Lalu setelah itu YP sopir mobil yang menjemput ke Rektorat, memukuli saya. Padahal saya tidak kenal dia sama sekali, jadi tidak benar jika ini persoalan pribadi semata,” tukasnya.

Pada saat melapor ke Polresta, tanggal 24 Agustus lalu, Umam menyebut ada dendam YP padanya. Pasalnya, pada salah satu aksi di kampus, dia mencoret lapisan debu di mobil dinas FMIPA dengan tulisan JAMAL (maksudnya Rektor UNS Jamal Wiwoho) GAGAL. Konon, perbuatan itu menyebabkan YP terkena sanksi dari fakultas, karena mobil tersebut ada di bawah tanggungjawabnya.

Baca juga: Berawal dari Coretan di Mobil “JAMAL GAGAL” Sopir FMIPA UNS Pukuli Ketua BEM

Pengacara Juanda Karta Widjaya yang mendampingi Umam, juga turut berkomentar. Dia mendukung penolakan mediasi oleh kliennya, dan akan meneruskan kasus tersebut sampai ke persidangan.

Terpisah, Kasat Reskrim Polresta, Kompol Agus Sunandar mengatakan proses penyidikan kasus tersebut masih terus berlangsung. Namun dia menolak merinci siapa saja saksi yang sudah memberikan keterangan kepada penyidik.

“Kami sudah memeriksa sejumlah saksi. Saksi itu orang yang mengetahui secara langsung peristiwa. Jadi, termasuk Pak Dekan pun kalau perlu juga akan kami mintai keterangan,” tandasnya.