SOLO, MettaNEWS – Dua aktivis Badan Eskekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret, tegaskan tidak akan mau menempuh jalur kekeluargaan. Salah satu dari mereka, Muhammad Choirul Umam yang juga Ketua BEM FMIPA UNS, jadi korban pemukulan oleh sopir dekan setempat.
“Kami akan menempuh jalur hukum untuk mendapat keadilan. Kami akan mengawal kasus ini hingga tuntas,” tandas Muhammad Khairil Ibadu Rahman, yang mendampingi Umum di Polresta Surakarta, Kamis (24/8/2023) siang.
Mereka melaporkan pemukulan yang terjadi Rabu (23/8) sore pukul 17.00 oleh YP, pengemudi Dekanat FMIPA. Proses hukum yang mereka tempuh, saat ini menunggu pemeriksaan oleh Polisi, juga surat visum.
“Semalam kami di sini sampai pukul 2 dini hari dan sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari polisi. Tapi yang hasil visum memang belum keluar,” ujarnya.
Umam juga mengaku menyimpan sejumlah bukti dan saksi. Ada dua orang yang melihat YP memukulnya sebanyak 5 x di rahang kanan dan kiri. Selain itu, YP pun mengeluarkan ancaman akan membunuh Umam. Bahkan, dia juga memiliki rekaman suara.
Tentang latar belakang kejadian, Umam mengakui Rabu kemarin pihaknya selaku Ketua BEM berinteraksi dengan mahasiswa baru dalam rangka PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus untuk Mahasiswa Baru).
“Kepada mahasiswa baru, kami menginformasikan dan bersama-sama mengkritisi kondisi UNS saat ini. Ada banyak masalah yang kita bicarakan, hingga kemudian kami mendapat panggilan untuk ke Rektorat. Saya bahkan dijemput mobil dinas Fakultas untuk ke Rektorat,” tutur Umam.
Seusai berbicara dengan tim Rektorat, di antaranya dengan Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof Dr Ir Ahmad Yunus, MS, mereka kembali ke fakultas dengan mobil yang sama.
Di dalam mobil itulah, YP yang duduk mengemudi di samping Umam, berkata, “Kamu orang mana, kalau nggak tahu tata krama Solo, ini saya ajari,” ujarnya sambil melayangkan pukulan tangan kiri ke rahang kanan Umam.
Pukulan tak berlanjut karena kedua pejabat FMIPA yang duduk di belakang, melerai sambil menegaskan tidak boleh ada kekerasan.
Tapi, berikutnya setelah tiba di Fakultas, YP kembali menemui Umam dan kembali melayangkan beberapa pukulan tangan kosong. YP juga sempat mengancam akan membunuh Umam, dan menantang duel jika tidak terima.
Di akhir keterangannya pada pers, Umam pun mengakui YP menaruh dendam padanya, karena bulan Juni lalu BEM membuat propaganda untuk mengkritisi berbagai permasalahan di kampus.
“Salah satunya, saya menulis dengan jari pada lapisan debu di mobil dinas Fakultas, JAMAL (maksudnya Rektor UNS Jamal Wiwoho) GAGAL! Ternyata akibat perbuatan saya, YP menerima sanksi dari Fakultas berupa penundaan kenaikan pangkat,” terang Umam.







