SOLO, MettaNEWS — Komunitas Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Surakarta menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Satelit APRS (Automatic Packet Reporting System) pada Sabtu, 28 Juni 2025, bertempat di Joglo Kantor Kelurahan Kerten, Surakarta.
Kegiatan ini menyasar anggota ORARI dan masyarakat umum, termasuk pelajar dan mahasiswa yang tertarik dengan teknologi komunikasi berbasis satelit.
Agung Kurniawan, panitia utama kegiatan, menjelaskan bahwa APRS merupakan sistem pelaporan otomatis berbasis sinyal radio yang dapat digunakan untuk mengirim data lokasi, informasi cuaca, dan kondisi lapangan dalam bentuk teks—bahkan tanpa jaringan seluler atau internet.
“Kalau GPS biasa seperti Garmin hanya menerima sinyal satu arah. Tapi dengan APRS, kita bisa mengirimkan posisi kita lewat sinyal radio. Ini sangat berguna dalam kondisi darurat, seperti bencana, saat sinyal seluler mati total,” ujarnya.
Teknologi APRS terbukti vital dalam berbagai kondisi darurat. Dalam bencana tsunami di Palu, misalnya, jaringan komunikasi lumpuh selama tiga hari. Namun, komunikasi masih bisa dilakukan melalui radio via satelit. APRS memungkinkan pengiriman pesan mirip SMS, tapi menggunakan frekuensi radio, bukan seluler.
Agung berharap Bimtek ini menjadi awal kebangkitan kembali minat masyarakat terhadap dunia amatir radio, khususnya di Solo.
Pemateri pada Bimtek tersebut, Yono Adisoemarto – YD0NXX, menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan APRS dan teknologi komunikasi satelit buatan anak bangsa. Salah satunya adalah satelit IO-86 (Indonesia Oscar 86) yang dikembangkan oleh LAPAN dan ORARI, dan telah beroperasi sejak hampir 10 tahun lalu.
“Peserta bimtek ini berasal dari Solo dan luar kota. Kita berharap kegiatan ini bisa menambah wawasan anggota ORARI, sekaligus mendorong masyarakat luas agar tertarik memanfaatkan teknologi satelit, baik sebagai pengamat maupun pengguna aktif,” jelas Yono.
Bimtek dimulai dengan demonstrasi komunikasi radio sederhana dan dilanjutkan komunikasi jarak jauh dengan sesama amatir radio dari berbagai wilayah Indonesia, hanya menggunakan handy transceiver (HT).
Para peserta juga dikenalkan berbagai data yang dapat dikirim melalui APRS, mulai dari ketinggian air sungai, kecepatan angin, curah hujan, hingga pelacakan tim SAR secara real-time via peta digital.
“APRS ini bisa sangat membantu, misalnya untuk melacak posisi tim penyelamat saat banjir besar atau kapal terbalik. Bahkan Bengawan Solo pun pernah dipantau menggunakan teknologi ini,” tambah Yono.
Meski penggunaannya membutuhkan perangkat khusus, masyarakat umum tetap bisa belajar melalui website ORARI tanpa harus menjadi anggota terlebih dahulu. Namun untuk bisa memancarkan pesan melalui frekuensi radio, peserta wajib lulus ujian amatir dan menjadi anggota resmi ORARI.
“Dulu sempat surut, tapi sekarang kami ingin gerakan ini kembali menggeliat. Solo sudah memulai, semoga daerah lain ikut menyusul,” jelasnya.
Ketua ORARI Lokal Surakarta, Sumartono Hadinoto – YC2BOF menambahkan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya ORARI Lokal Surakarta untuk terus meningkatkan kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan anggota, khususnya dalam bidang komunikasi satelit dan teknologi APRS.
“Teknologi satelit dan APRS merupakan bagian penting dalam perkembangan dunia amatir radio modern. Keduanya bukan hanya sekadar media komunikasi, tetapi juga berperan dalam penanganan bencana, pelacakan, dan dukungan komunikasi darurat. Oleh karena itu, peningkatan pemahaman dan kemampuan teknis di bidang ini menjadi sangat relevan dan strategis,” bebernya.
Lewat kegiatan ini Martono berharap para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori.
“Dari pelatihan ini kami berharap para peserta juga mendapat pengalaman praktik yang bisa langsung diterapkan dalam kegiatan amatir radio maupun saat dibutuhkan untuk kepentingan sosial dan kebencanaan,” pungkasnya







