Batik Jiwa Semangatku, Keraton Surakarta Persembahkan Batik dari Pengalaman Spiritual

oleh
Batik
Penari bedhaya Keraton Surakarta tampil dalam peraga busana karya GKR Pakoe Boewono di Hari Batik Nasional, Minggu (2/10/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Memperingati Hari Batik Nasional, Keraton Surakarta mempersembahkan puluhan batik tulis yang sudah dipatenkan Hak Ciptanya, Minggu (2/10). Dalam acara bertajuk Mahakraya Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Boewono “Batik: Jiwa dan Semangatku” penari Bedhaya Keraton Surakarta membawakan 20 batik ke hadapan para tamu.

Pengageng Parentah Keraton Surakarta, KGPH Dipokusumo menuturkan acara ini merupakan kali kedua digelar sejak batik ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

“Keraton Surakarta tentunya sangat berterima kasih karena hampir setiap saat setiap waktu dalam kegiatan upacara selalu menggunakan batik, bahkan dari Keraton Surakarta itu pada sekitar abad ke 18 era PB VII batik-batik itu diizinkan untuk bisa masyarakat menggunakan,” terangnya kepada MettaNEWS, Minggu (2/10/2022).

Setelah batik diizikan oleh Paku Bawoeno (PB) VII pada abad ke-18, batik menjadi sandang yang bisa dipakai masyarakat biasa. Hingga kini keberadaan batik sangat melekat disetiap aktivitas masyarakat, tidak hanya kegiatan formal.

“Kemudian dengan izin itu ditentukan pola batiknya, termasuk siapa yang bisa menggunakan, dan kapan digunakan. Tentu saja ini tidak lepas dari perkembangan sekarang” jelasnya.

Gusti Dipo menyebut ada 3 hal dalam kebudayaan yang diterapkan Keraton Surakarta. Yakni pelestarian, pengembangan dan inovasi batik atau kreativitas. Adanya batik diharapkan mampu menumbuhkan ekonomi kreatif masyarakat.

Batik

“Dilaksanakannya hari batik ini diharapkan nanti motif-motif yang ada di keraton mampu jadi inspirasi dari nilai batik tersebut, bisa terserap lagi ke masyarakat sehingga  masyarakat semakin kaya, semakin bisa berkarya, semakin batik ini dicintai,” jelasnya.

Setiap tahun Keraton Surakarta melahirkan motif batik baru. Salah satu motif yang terkenal hingga kini yakni saat era PB III lahirnya batik truntum. Motif batik dari kwmbang atau bunga tanjung yang syarat akan simbol cinta kasih yang saat ini telah dipatenkan. Hingga saat ini menjadi motif yang kerap ada di acara perkawinan.

“Yang belum dipatenkan banyak sekali ya, termasuk masih dalam polo (kepala) itu rencana batik akan dibuat, jadi masih banyak sekali, tp kita ya mestinya harus melihat kondisi keadaan,” kata Pengageng Keraton Surakarta itu.

Lahirnya motif batik yang baru menekankan pada kreativitas. Gusti Dipo menilai kreativitas batik saat ini terus berkembang dan bertambah.

“Artinya sekarang kreativitas batik itu banyak sekali, sebenarnya kalo dilatih batik itu bernilai manfaat kepada masyarakat itu yang menciptakan, membuat, berkreasi itu sudah sangat baik,” katanya.

Batik Keraton Surakarta merupakan sebuah karya yang syarat akan suatu kejadian. Kebanyakan batik Keraton Surakarta dibuat langsung oleh GKR Pakoe Bawono lewat pengalaman spiritual.

Batik Keraton Surakarta juga syarat akan doa dari sajg leluhur. Ada 200 batik karya yang rencananya akan mengikuti jejak 20 batik yang sudah dipatenkan. Batik Keraton Surakarta memiliki narasi yang didesain dengan pola dasar batik Mataram.

Berawal dari inspirasi dengan pengalaman spiritual dan pengharapan, lahirlah ratusan batik yang kini jadi koleksi kekayaan karya Keraton Surakarta.  Tema Batik Jiwa dan Semangatku ini memiliki arti penyelamat hidup yang memiliki harapan.

Acara ini dihadiri tamu penting dari pejabat negara, kolega Keraton Surakatya serta Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Termasuk Direktur Pembiayaan Kementrian Pertanian RI, Indah Megawati juga hadir untuk memeragakan batik bersama penari bedhaya Keraton Surakarta.

Beragam motif batik ini diantaranya, batik madu brangta yang memiliki arti manisnya cinta kasih, naga pamara ni lurah dina septi rahayu sebagai simbol kekuatan seorang pemimpin, Parang trang bulan ismoyo, Parang Pusaka, Puspo Buwono, Parang Puspo Kencono dan Pari Anom.