SOLO, MettaNEWS – Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mengkampanyekan gerakan pilah sampah kepada masyarakat saat kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi, Minggu (7/6/2026). Kampanye tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digelar di Kota Solo.
Kegiatan ini diikuti jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Surakarta serta para petugas kebersihan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan kota.
Dalam kesempatan tersebut, Respati mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan memulai kebiasaan memilah sampah dari rumah. Menurutnya, upaya menjaga bumi dan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilakukan secara kolektif oleh seluruh elemen masyarakat.
“Masyarakat harus kita edukasi dari awal, untuk berupaya menangani sampah dari hulu. Paling sederhana membedakan sampah yang bisa busuk dan sampah yang tidak busuk. Sampah bisa busuk di plastik putih dan sampah tidak bisa busuk atau anorganik itu di plastik hitam,” tandas Respati.
Ia menjelaskan, pemilahan sampah di tingkat rumah tangga menjadi langkah awal yang sangat penting dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Setelah masyarakat melakukan pemilahan, sampah tersebut nantinya akan dikelola lebih lanjut oleh petugas maupun kelompok masyarakat yang telah dibentuk.
Menurut Respati, mekanisme tersebut telah disiapkan dalam konsep Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir yang saat ini tengah dipersiapkan Pemerintah Kota Surakarta.
“Nanti, setelah dilakukan pemilahan, rekan-rekan pengelola sampah akan mengolahnya lebih lanjut. Setelah Perwali terbit, kami akan menurunkan kelompok masyarakat untuk ikut terlibat. Di situlah nilai ekonomi sirkular dapat tumbuh, sekaligus membuka ruang padat karya bagi warga,” jelasnya.
Respati optimistis masyarakat Kota Solo mampu mendukung gerakan perang melawan sampah yang saat ini terus digencarkan pemerintah daerah. Ia menilai warga Surakarta memiliki kepedulian sosial yang tinggi sehingga program pengurangan sampah dapat berjalan dengan baik.
“Ini tinggal masalah kepedulian warga saja. Dan saya optimistis karena warga Surakarta luar biasa, gerakan peduli lingkungan ini akan mampu dilakukan,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Respati juga memaparkan perkembangan penanganan sampah sejak diterapkannya kebijakan pembatasan sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta periode Maret hingga Mei 2026, sejumlah kelurahan berhasil mencatatkan penurunan volume sampah yang cukup signifikan.
Kelurahan Mojosongo menjadi wilayah dengan penurunan tertinggi, yakni mencapai 42 persen. Disusul Kelurahan Kadipiro sebesar 35 persen, Nusukan 26 persen, Banjarsari 24 persen, dan Banyuanyar 24 persen.
Meski demikian, masih terdapat beberapa wilayah yang pengurangan volume sampahnya belum signifikan, di antaranya Kelurahan Ketelan, Kepatihan Kulon, Panularan, Karangasem, dan Kepatihan Wetan.
“Ini menjadi pengingat bersama. Harapannya setelah Perwali diterbitkan, seluruh kelurahan di Surakarta dapat mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA Putri Cempo,” ungkapnya.
Menutup kegiatan, Respati menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas kebersihan yang selama ini bekerja tanpa kenal lelah menjaga kebersihan kota. Ia berharap kampanye pilah sampah yang dilakukan di ruang publik seperti CFD dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih aktif menjaga lingkungan.
Melalui gerakan pilah sampah dari rumah, Pemerintah Kota Surakarta berharap pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan, sekaligus mendukung terwujudnya lingkungan kota yang bersih, sehat, dan ramah bagi generasi mendatang.








