SOLO, MettaNEWS – Peresmian Museum Tahir Solo pada Sabtu (25/7/2026) menjadi momen emosional bagi pendiri Tahir Foundation, Datuk Sri Prof. Dr. Tahir, MBA. Di hadapan tamu undangan, ia mengungkapkan bahwa museum tersebut bukan sekadar bangunan megah, melainkan persembahan untuk kota yang menyimpan banyak kenangan masa kecil sekaligus wujud rasa terima kasih kepada Indonesia.
Tahir mengawali sambutannya dengan mengenang sosok ibunya yang merupakan asli Solo. Meski lahir di Surabaya, ia merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan Kota Bengawan karena tumbuh dengan cerita dan pengalaman yang lekat dengan kota tersebut.
“Hari ini anakmu kembali ke kampungnya. Saya mengingat semua kebaikan ibu saya dan semua kenangan masa kecil di Solo. Memori itulah yang membesarkan saya sebagai separuh orang Solo,” ujarnya.
Ia bercerita pernah bermain di kawasan Kauman, menikmati suasana Bengawan Solo, hingga berenang di Tirtomoyo. Kenangan sederhana itu, menurutnya, menjadi bagian penting yang membentuk perjalanan hidupnya.
Tahir juga mengenang masa kecilnya yang hidup dalam keluarga sederhana. Orang tuanya mencari nafkah dengan menyewakan becak di Surabaya yang diberi nama “Bengawan Solo”. Karena itu, nama Solo selalu memiliki arti khusus baginya.
“Saya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Solo memiliki makna yang sangat dalam bagi saya,” katanya.
Keinginan membangun museum di Solo, lanjut Tahir, berawal sekitar tiga tahun lalu ketika bertemu Gibran Rakabuming Raka yang saat itu masih menjabat Wali Kota Solo. Dalam pertemuan tersebut ia menyampaikan niat untuk memberikan kontribusi nyata kepada Kota Solo, yang kemudian diwujudkan melalui pembangunan Museum Tahir di atas lahan sekitar lima hektare.
Menurut Tahir, museum yang diresmikan saat ini baru merupakan tahap pertama. Pengembangan kawasan masih akan berlanjut dengan pembangunan ruang pamer terbuka dan tertutup, fasilitas seminar bertaraf internasional, hingga kawasan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ia berharap kawasan tersebut nantinya juga dapat dilengkapi fasilitas seperti rumah sakit, hotel, serta ruang bagi pelaku UMKM agar mampu membuka lapangan kerja baru.
“Infrastruktur sudah kita bangunkan. Selanjutnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Solo untuk mengelolanya sehingga benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Bagi Tahir, pembangunan museum merupakan bagian dari pengabdiannya kepada bangsa. Ia mengaku merasa memiliki utang budi kepada Indonesia yang telah memberikan kesempatan hingga mampu mencapai kesuksesan.
“Saya merasa punya utang kepada negeri ini. Perasaan itu akan saya bawa sampai akhir hidup saya. Selama Tuhan mengizinkan, saya ingin menyelesaikan hidup ini di tanah air ini,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa penghargaan dan pencapaian yang diraihnya, termasuk sebagai orang Indonesia pertama yang memperoleh penghargaan tertinggi dari Presiden Palestina, semakin menguatkan keyakinannya bahwa pengabdian kepada masyarakat jauh lebih penting daripada sekadar prestasi pribadi.
“Agama dan ibadah adalah urusan pribadi, tetapi berbuat baik dan memberikan sumbangsih adalah kewajiban setiap warga negara,” katanya.
Sementara itu, Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan RI, Agus Mulyana, M.Hum., mengapresiasi pembangunan Museum Tahir. Menurutnya, museum tersebut menjadi salah satu museum terbesar dan termegah di Indonesia serta menjadi bukti kepedulian masyarakat terhadap pemajuan kebudayaan.
Ia berharap Museum Tahir menjadi etalase budaya yang mampu menghidupkan kembali memori kolektif Solo sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa sekaligus menjadi sarana pelestarian warisan budaya, pendidikan, penelitian, dan penguatan identitas bangsa.
“Kementerian Kebudayaan siap mendukung melalui regulasi, registrasi, standardisasi, maupun berbagai program pendukung agar museum ini berkembang menjadi contoh bagi museum-museum lainnya,” kata Agus.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi menyampaikan apresiasi atas dedikasi Tahir Foundation kepada Kota Solo. Menurutnya, museum tersebut merupakan berkah sekaligus investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.
“Ini menjadi berkah bagi Kota Solo. Museum ini kami persiapkan untuk anak-anak dan generasi penerus agar menjadi ruang belajar yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia tanpa meninggalkan akar budaya yang kita miliki,” ujar Respati.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Surakarta siap mengelola Museum Tahir agar menjadi pusat edukasi, pelestarian budaya, sekaligus ikon baru yang semakin memperkuat posisi Solo sebagai kota budaya di Indonesia.








