Solo, MettaNEWS – Sebanyak 35 Perempuan Mandiri menjadi cucuk lampah atau pembuka jalan parade Berkebaya Bersama Ibu Negara, yang diadakan oleh Himpunan Ratna Busana Surakarta, Minggu (2/10/2022).
Perempuan Mandiri ini adalah mereka yang dalam kesehariannya bekerja masih mengenakan kebaya dan kain jarik seperti penjual jamu gendong, pemain siter, penjual lenjongan, buruh gendong pasar, abdi dalem dan sinden.
Perhelatan Berkebaya Bersama Ibu Negara diikuti 3000 lebih perempuan dari berbagai daerah di Indonesia.

Penjual jamu gendong, Dian Nur Wulandari (40 tahun) merasa bangga dan senang dilibatkan dalam kegiatan ini.
Sebelumnya Dian juga berangkat ke Istana Negara bergabung dengan 200 perempuan penjaga bendera pusaka.
“Kita ikut mendukung sekali kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke Unesco. Kita juga memohon penetapan hari kebaya nasional, selain hari batik nasional,” ungkap Dian di sela-sela kegiatan Berkebaya Bersama Ibu Negara.

Nur mengungkapkan sejak tahun 2018 ia konsisten mengenakan kebaya untuk berjualan.
“Untuk nguri-nguri budaya jawi. Karena sudah menjadi komitmen kami untuk jualan jamu gendong dengan memakai kebaya,” tutur Nur yang berjualan di sekitaran Semanggi ini.
Pada parade yang diinisiasi oleh Iriana Jokowi bersama Himpunan Ratna Busana Surakarta ini ribuan peserta antusias memeriahkan dengan berjalan sepanjang 750 meter dari Loji Gandrung menuju Ndalem Wuryoningratan.
Ibu Negara Iriana Jokowi memberikan apresiasi pada para perempuan yang masih mengenakan kebaya dalam bekerja sehari-hari.
“Terima kasih kepada pesinden, pengrawit, penari, buruh gendong, bakul jamu dan pembatik yang selalu setia mengenakan kain dan kebaya dalam bekerja dan juga dalam melakukan kegiatan sehari-hari,” tutur Iriana.

Iriana berharap kesetiaan perempuan lndonesia dalam mengenakan kain kebaya dapat mendorong pencanangan kebaya goes to Unseco.
“Semoga kesediaan dan kecintaan ibu-ibu pada kain dan kebaya akan mengisnpirasi kaum perempuan dan generasi muda Indonesia untuk bangga dan semakin mencintai kain dan kebaya sebagai citra perempuan Indonesia,” pungkas Iriana.










