SOLO, Metta NEWS – Sebagai salah satu kota yang rawan banjir, Kota Solo membutuhkan banyak pepohonan dan penghujauan untuk menyerap dan menahan air terlebih di daerah bantaran sungai. Berdasarkan pengalaman tersebut, dalam rangkaian HUT ke 49 PDI Perjuangan diadakan penanaman pohon serentak di sebagian lahan bantaran sungai, Minggu (23/01/2022).
Penanaman pohon serentak dipimpin oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Solo FX. Hadi Rudyatmo yang diikuti oleh segenap pengurus DPC, ranting, kader dan simpatisan di Taman Sunan JogloKali Pucang Arum, bantaran sungai Bengawan Solo Pucangsawit.
“Total ada 1000 pohon di sepanjang bantaran yang akan kita tata. Seribu pohon ini masih kurang, walau sudah banyak yang kita rawat namun ditambah terus agar lebih rindang lagi. Bantaran ini panjangnya 7 km, yang mau kita tata ini ini sekitar 1 km an dulu dengan biaya gotong royong,” papar Rudy di sela-sela penanaman pohon, di pinggir sungai Bengawan Solo.
Rudy menyebut jenis pohon yang ditanam diantaranya adalah pohon kayu putih, rambutan, jambu air, sirsak, alpokat dan jenis pohon yang bermanfaat lainnya.
“Kalau yang di taman atas ini sudah banyak kelengkeng, mangga dan duren. Pokoknya pohon yang bermanfaat seperti kayu putih ini bisa dimanfaatkan kulit kayu dan daunnya. Nanti bisa kita suling, masyarakat akan kita coba pelan-pelan karena saya pernah kerja di bagian itu,” terang Rudy.
Pohon kayu putih ini kata Rudy bisa dimanfaatkan dalam 2 tahun tanam dimulai dari bibit pohon kecil.
“Kulitnya kalau dikumpulin, dikeringkan dulu, di bakar di rumah bisa sedep baunya. Jangan sampai keluar apinya, asap saja,” jelas Rudy.
Untuk bibit pohon lanjut Rudy pihaknya bekerja sama dengan Perhutani dan membuka pintu bagi CSR yang akan menyumbangkan bibit pohon.
“Selain sebagai antisipasi banjir, kita juga mengajari anak-anak muda mencintai bumi dan air. Ketika bumi ini ditanami pohon, air itu akan diserap oleh pohon. Sehingga persediaan air tanah akan terjaga dan semakin bagus,” ungkapnya.
Menanggapi bencana banjir yang dua hari kemarin menerjang daerah Pajang dan Laweyan yang di lalui oleh Kali Jenes, Rudy menegaskan mesti di carikan solusi. Salah satu solusi yang paling tepat menurut Rudi adalah merelokasi warga seperti saat ia menjadi wali kota Solo yang harus merelokasi warga yang tinggal di bantaran sungai Bengawan Solo.
“Sana itu memang daerah genangan. Kali Jenes itu berada di tengah kota jadi mesti di parepet bukan di taut lagi. Tapi sebelum di bangun parepet yang paling utama adalah warga yang sering kebanjiran harus di relokasi. Yang penting masyarakat dapat tempat, dapat rumah untuk bisa berlindung,” tandas Rudy.
Bila relokasi berjalan lancar dan masyarakat mendapatkan tempat yang layak, pembangunan parepet bisa dilakukan karena penggunaan alat berat pembangunan memerlukan akses jalan yang lebar.
“Yang penting rakyat tidak merasa dirugikan, yang utama adalah waras, wasis, wareg dan mapan. Punya tempat tinggal yang layak dihuni ini menurut saya hukumnya wajib untuk dilaksanakan oleh kepala daerah baik kota, kabupaten maupun provinsi,” tegas Rudy.
Rudy menambahkan dengan diparepet lokasi akan menjadi tempat yang indah dan bersih sehingga bisa dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau seperti di bantaran Pucangsawit.
“Contohnya daerah Keprabon sudah ikut menata sungai. Kalau bekas relokasi mau dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau ya seperti ini nanti jadinya. Kita buat taman dan masyarakat banyak yang berkegiatan di sini. Artinya lebih bermanfaat daripada kita diamkan,” pungkas Rudy.







