Adeging 269 Pura Mangkunegaran Hadirkan Kolaborasi Budaya dan Olahraga, Mangkunegaran Run 2026 Diikuti 7.750 Pelari

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS— Perayaan Adeging ke-269 Pura Mangkunegaran menghadirkan kolaborasi besar antara budaya dan olahraga melalui gelaran Mangkunegaran Run 2026 yang akan berlangsung pada Minggu (3/5/2026).

Menjelang pelaksanaan, panitia menggelar rangkaian talkshow di sejumlah radio di Kota Solo, di antaranya Radio Metta FM, TA Radio, dan Solo Radio pada 28–30 April 2026. Talkshow menghadirkan sejumlah narasumber, seperti Marah Andika, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, Ade Wahyudi, serta Raden Roro Driadelta Juneza.

Puncak perayaan Adeging Mangkunegaran tahun ini dipusatkan pada event lari Mangkunegaran Run 2026 yang berhasil mencatat partisipasi 7.750 pelari atau meningkat sekitar 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Seluruh tiket bahkan terjual habis dalam waktu kurang dari satu jam.

Menurut GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, pemilihan olahraga lari sebagai event utama memiliki filosofi mendalam sebagai harmoni antara budaya dan gaya hidup modern.

“Budaya itu terkait aktivitas manusia. Sekarang yang berkembang adalah budaya lari untuk menjaga kesehatan. Maka kami memilih lari sebagai bagian utama Adeging 269,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rangkaian peringatan sebenarnya telah dimulai sejak 17 Maret, bertepatan dengan hari berdirinya Praja Mangkunegaran pada 1757. Setelah berbagai prosesi budaya, event lari menjadi penutup yang melibatkan partisipasi publik secara luas.

Konsep tahun ini mengusung filosofi “Tahun Dal” dengan simbol kuda yang merepresentasikan semangat keprajuritan Legiun Mangkunegaran. Para pelari dimaknai sebagai prajurit masa kini yang berjuang menaklukkan tantangan diri.
Sementara itu, Raden Roro Driadelta Juneza menambahkan, perayaan juga diramaikan dengan festival kuliner Mangkunegaran MakaN-MakaN yang digelar 1–3 Mei 2026 di Pamedan Mangkunegaran.

“Filosofi yang kami angkat adalah Spirit Nusantara, di mana budaya lokal Jawa berpadu dengan budaya nasional seperti Bali dan Minang di sepanjang rute lari,” jelasnya.

Dari sisi penyelenggaraan, Ade Wahyudi menyebut Mangkunegaran Run 2026 mengusung konsep cultural run yang memadukan olahraga dengan kekayaan seni dan tradisi.

Sebanyak 20 komunitas akan mengisi titik cheering point dengan pertunjukan seni, sementara total 50 titik dukungan melibatkan masyarakat, sekolah, hingga komunitas seni dari Institut Seni Indonesia Surakarta dan Universitas Sebelas Maret.

Penanggung jawab acara, Marah Andika, menambahkan bahwa kualitas teknis tahun ini meningkat dengan adanya sertifikasi rute internasional dari World Athletics.
Rute lari sendiri memiliki nilai historis, dimulai dari Stadion Manahan—yang dahulu menjadi lokasi latihan prajurit Mangkunegaran—dan berakhir di Ngarsopuro, tepat di depan Pura Mangkunegaran.

Tak hanya itu, event ini juga memberikan dampak ekonomi signifikan. Tahun sebelumnya, perputaran ekonomi mencapai Rp40 miliar dan diprediksi meningkat pada 2026 seiring bertambahnya peserta dan keterlibatan pelaku lokal.

Komitmen terhadap lingkungan juga menjadi perhatian, di mana langkah para pelari akan dikonversi menjadi bibit tanaman untuk program pelestarian hutan bersama World Wide Fund for Nature.

Melalui Mangkunegaran Run 2026, Mangkunegaran menunjukkan bahwa sinergi antara olahraga, budaya, dan inovasi modern mampu menciptakan daya tarik sport tourism sekaligus menjadi sarana diplomasi budaya bagi generasi masa depan.