Mangayubagyo Dhaup Ageng Mangkunegaran, Difabel hingga Pedagang Kecil Ikut Merasakan Kebahagiaan

oleh
oleh
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

SOLO, MettaNEWS – Perhelatan Mangayubagyo Dhaup Ageng Mangkunegaran tidak hanya menjadi momentum kebahagiaan keluarga besar Mangkunegaran. Rangkaian acara yang berlangsung pada 6–8 November 2026 itu juga membuka ruang kebersamaan bagi masyarakat, mulai dari komunitas penyandang disabilitas, abdi dalem, hingga pelaku usaha kecil.

Suasana kebersamaan tersebut dirasakan Budianto, warga Kebakkramat, Karanganyar, yang tergabung dalam Kelompok Difabel Berdaya. Ia mengaku terharu mendapat undangan untuk menghadiri Mangayubagyo di Pura Mangkunegaran. Baginya, kesempatan tersebut menjadi pengalaman pertama memasuki kawasan pura bukan sebagai pengunjung, melainkan sebagai tamu yang ikut merasakan kebahagiaan keluarga Mangkunegaran.

“Saya sampai gemetar saat diberi tahu kalau diundang ke Mangkunegaran. Seumur hidup baru kali ini saya diundang masuk,” tutur Budianto.

Budianto hadir bersama sekitar 100 peserta lainnya. Setibanya di Pamedan, mereka disambut dengan jamuan dan berbagai kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Mangayubagyo.

Pengalaman serupa dirasakan Kholis, anggota komunitas penyandang disabilitas asal Jumapolo, Karanganyar. Ia mengaku telah bersiap sejak siang untuk menghadiri acara tersebut.

Selama ini, Kholis hanya bisa melewati kawasan Pura Mangkunegaran tanpa pernah masuk ke dalamnya. Undangan Mangayubagyo menjadi kesempatan istimewa baginya untuk merasakan langsung suasana pahargyan keluarga Mangkunegaran.

“Biasanya hanya lewat. Kalau masuk, belum pernah,” ujar Kholis.

Libatkan Masyarakat dalam Kebahagiaan Keluarga

Kehadiran Budianto dan Kholis menjadi gambaran semangat yang diusung dalam Mangayubagyo Dhaup Ageng, yakni membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut berbahagia sekaligus menyampaikan doa dan pangestu bagi G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas.

Mengangkat tema Sumambung ing Rasa, Nyawiji ing Pangestu, kegiatan ini mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang di Pamedan Pura Mangkunegaran.

Sekitar 200 undangan dari panti dan kelompok sosial dihadirkan setiap hari, bersama masyarakat yang turut mengikuti rangkaian kegiatan.

Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, mengatakan Mangayubagyo merupakan ungkapan rasa syukur keluarga yang ingin dibagikan bersama masyarakat luas.

“Mangayubagyo merupakan ungkapan rasa syukur keluarga yang ingin dibagikan bersama masyarakat. Kami membuka ruang bagi masyarakat untuk turut berbahagia serta menyampaikan doa dan pangestu bagi kedua mempelai,” ujarnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Abdi Dalem dan UMKM Lokal Ikut Meramaikan

Semangat kebersamaan juga diwujudkan melalui keterlibatan abdi dalem dan pelaku usaha lokal. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari penyelenggaraan, tetapi juga mendapat kesempatan untuk memperkenalkan produk dan sajian kuliner kepada para tamu.

Salah satunya Feri Setyawan, abdi dalem yang sehari-hari bertugas menjaga kebersihan dan pertamanan Pura Mangkunegaran. Di luar tugas pengabdiannya, Feri juga mengelola usaha wedangan khas Solo.

Dalam Mangayubagyo Dhaup Ageng, ia mendapat kesempatan menghadirkan tiga jenis minuman tradisional, yakni wedang ronde, wedang asle, dan wedang kacang. Masing-masing disiapkan sekitar 30 porsi dan seluruhnya habis dinikmati para tamu.

“Saya abdi dalem di bagian kebersihan dan pertamanan. Saya bersyukur diundang dan diberi kesempatan untuk ikut dalam Mangayubagyo Dhaup Ageng,” kata Feri.

Pelaku usaha lokal lainnya juga turut mengambil bagian. Nunung, penjual sate kere asal Sukoharjo, menyiapkan sekitar 500 porsi setiap hari. Sementara itu, Wimbu menghadirkan sekitar 200 porsi sate taichan.

Keterlibatan para pelaku usaha tersebut memberikan ruang bagi produk kuliner lokal untuk menjadi bagian dari sajian dan keramahan dalam perhelatan keluarga Mangkunegaran.

Hadirkan Seni Budaya dan Ruang Pangestu

Selama tiga hari penyelenggaraan, Mangayubagyo Dhaup Ageng juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seni dan budaya, mulai dari tari, musik keroncong, hingga wayang kulit.

Masyarakat yang hadir tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diberikan kesempatan menyampaikan doa dan harapan bagi kedua mempelai melalui rangkaian pangestu.

Melalui kegiatan tersebut, Dhaup Ageng tetap menjadi peristiwa penting bagi keluarga besar Mangkunegaran sekaligus menghadirkan kedekatan dengan masyarakat di sekitarnya.

Semangat Sumambung ing Rasa, Nyawiji ing Pangestu pun diwujudkan melalui kebersamaan lintas kelompok sosial, kesempatan berpartisipasi, serta doa yang dipanjatkan bersama.

Kebahagiaan keluarga Mangkunegaran dalam Dhaup Ageng kali ini tidak hanya dirayakan di lingkungan pura, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat yang turut menjadi bagian dari suasana penuh kehangatan tersebut.