Dalam homilinya, Romo Ibnu mengingatkan kedua mempelai bahwa membangun rumah tangga merupakan perjalanan panjang yang tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pendapat, persoalan, hingga pengalaman menyakitkan bisa hadir dalam kehidupan perkawinan.
Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin tiga imam, yakni Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr; Romo Walterus Teguh Santosa, SJ; dan Romo Ibnu Fajar Muchammad, MSF.
Romo Ibnu mengajak Gusti Sura dan Adimas mengingat kembali perjalanan hubungan mereka. Saat ditanya mengenai awal pertemuan, keduanya mengungkapkan bahwa hubungan tersebut sempat terjalin dalam dua periode. Keduanya pernah berpisah sebelum akhirnya kembali bertemu dan memutuskan melanjutkan hubungan.
Menurut Romo Ibnu, perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses yang membawa keduanya sampai pada jenjang perkawinan. Namun, setelah menikah, pasangan tetap harus belajar menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan saling mengampuni dan menghormati perbedaan.
Ia menegaskan, menghormati perbedaan pasangan juga merupakan bentuk penghormatan kepada Allah. Sebab, setiap manusia diciptakan dengan keunikan, baik secara fisik maupun dalam cara berpikir.
Karena itu, suami dan istri tidak seharusnya memaksakan pasangannya untuk selalu memiliki pandangan yang sama.
Kunci menyatukan dua pikiran dan dua hati, lanjutnya, adalah cinta yang diwujudkan melalui kesediaan untuk saling mendengarkan. Masing-masing harus memberikan ruang bagi pasangan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya.
Romo Ibnu bahkan mengingatkan bahwa manusia memiliki dua telinga dan satu mulut. Perbandingan tersebut menjadi pesan agar pasangan lebih banyak mendengarkan daripada sekadar berbicara.
Kemampuan mendengarkan juga harus disertai kepekaan dalam memahami bahasa tubuh pasangan. Dengan demikian, suami dan istri dapat lebih memahami kebutuhan satu sama lain tanpa harus selalu mengungkapkannya melalui kata-kata.
Menurutnya, mendengarkan merupakan anugerah yang membantu pasangan membangun pengertian. Perbedaan pun tidak harus menjadi sumber pertengkaran, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk semakin mengenal dan menguatkan satu sama lain.
Dalam kesempatan itu, Romo Ibnu juga menyampaikan pesan khusus kepada kedua mempelai. Kepada Adimas sebagai suami, ia mengingatkan pentingnya menjaga kesetiaan, baik kepada istri maupun anak-anak dalam kehidupan keluarga kelak.
Sementara kepada Gusti Sura, ia berpesan agar senantiasa mengistimewakan suami tanpa disertai rasa iri. Ia juga menekankan pentingnya peran istri dalam mendukung dan menjaga integritas suami.
Selain kesetiaan dan komunikasi, kedua mempelai juga diingatkan untuk membangun kebiasaan berdoa bersama. Kehidupan doa hendaknya menjadi bagian dari keseharian rumah tangga, bukan hanya dilakukan pada saat-saat tertentu.
Romo Ibnu menyampaikan bahwa ketika dua orang berkumpul dalam doa dan pergumulan, Allah hadir di tengah mereka. Karena itu, kehidupan spiritual perlu menjadi fondasi dalam membangun keluarga.
Ia juga berpesan agar Injil menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran di dalamnya tidak cukup hanya didengar saat perayaan keagamaan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan terhadap pasangan maupun keluarga.
Menutup khotbahnya, Romo Ibnu menegaskan kembali bahwa pernikahan bukan hanya tentang kemeriahan satu hari, melainkan komitmen yang harus dijalani dan dirawat sepanjang kehidupan.
“Wedding is only a day, but married all time,” pesannya.
Sebagai informasi, Gusti Sura merupakan putri almarhum K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX dan G.K.P. Mangkoenagoro IX, Prisca Marina Haryogi Supardi. Sementara Adimas merupakan putra ketiga pasangan K.P. Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni Soeroso, pendiri perusahaan otobus Rosalia Indah.
Sakramen pernikahan keduanya menjadi bagian dari rangkaian Dhaup Ageng Mangkunegaran yang berlangsung pada 6-8 November 2026. Setelah pemberkatan di gereja, kedua mempelai dijadwalkan melanjutkan rangkaian pernikahan dengan prosesi adat Panggih di Pura Mangkunegaran.








