Disambut Ribuan Warga, Kirab Dhaup Ageng Mangkunegaran Jadi Momen Gusti Sura dan Kanjeng Dimas Terima Pangestu

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Kirab Pengantin Dhaup Ageng Mangkunegaran menjadi momen istimewa bagi G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas.

Untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi pasangan suami istri, keduanya menyapa masyarakat Kota Solo sekaligus menerima doa dan pangestu dalam kirab yang berlangsung Sabtu (7/11/2026) sore.

Ratusan warga terlihat memadati kawasan Pamedan Pura Mangkunegaran hingga sejumlah ruas jalan yang dilalui rombongan. Mereka antusias menyambut kereta pengantin dengan melambaikan tangan, menyampaikan ucapan selamat, hingga mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel.

Kirab ini bukan sekadar bagian dari rangkaian prosesi pernikahan Dhaup Ageng, melainkan juga menjadi ruang perjumpaan antara keluarga Mangkunegaran dengan masyarakat Kota Solo.

Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, mengatakan kirab merupakan tradisi yang menghubungkan hajat keluarga dengan masyarakat di sekitarnya.

“Kirab menghubungkan hajat keluarga dengan masyarakat di sekitarnya. Susunan iring-iringan, busana, dan tata lakunya merupakan bagian dari tradisi yang kami jaga agar tetap hidup,” ujarnya.

Kereta Empat Kuda dan Tradisi Mangkunegaran

Dalam kirab tersebut, Gusti Sura dan Kanjeng Dimas menaiki kereta Glasslandauer yang ditarik empat ekor kuda. Iring-iringan diawali korps musik, panji-panji Mangkunegaran, barisan bregada, serta niyaga yang membawa gamelan.

Pasukan berkuda Ladrang Mangungkung dan barisan pangombyong turut mengiringi perjalanan kedua mempelai. Keduanya mengenakan busana Kasatriyan yang menjadi bagian dari tata busana tradisi Mangkunegaran.

Setiap unsur dalam kirab memiliki peran tersendiri. Mulai dari busana, susunan bregada, panji-panji, musik, hingga gamelan, semuanya menghadirkan pengetahuan dan tata laku Mangkunegaran di ruang publik.

Kirab dimulai dari gerbang selatan Pura Mangkunegaran, kemudian menyusuri Jalan Ronggowarsito, Jalan Prof. Dr. Supomo, Jalan Slamet Riyadi, kawasan Pasar Pon dan Ngarsopuro, sebelum melintasi Jalan Diponegoro dan kembali ke Pura Mangkunegaran.

Warga Ikut Mangayubagya

Antusiasme masyarakat terlihat dari kehadiran warga yang sengaja datang untuk menyaksikan langsung kedua mempelai. Tutut dari Kampung Baru dan Diyah dari Kartasura, misalnya, datang untuk melihat Gusti Sura dan Kanjeng Dimas dari dekat.

Sementara itu, Yuliati, warga Keprabon yang tinggal tidak jauh dari sisi timur Pura Mangkunegaran, mengaku kehadirannya merupakan bentuk kebahagiaan atas pernikahan tersebut.

“Istilah Jawanya, kami mangayubagya. Kami ikut berbahagia atas Dhaup Ageng ini,” kata Yuliati.

Hal senada disampaikan Titik, warga Gedangan, Solo Baru. Menurutnya, kirab memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kedua mempelai sekaligus keluarga Mangkunegaran.

“Dengan kirab seperti ini, masyarakat menjadi tahu dan mengenal,” ujarnya.

Perjumpaan antara keluarga Mangkunegaran dan masyarakat juga terhubung dengan semangat Mangayubagyo yang digelar di Pamedan Pura Mangkunegaran. Melalui kegiatan tersebut, warga diberi ruang untuk hadir, menikmati jamuan dan sajian budaya, serta menyampaikan doa dan pangestu kepada kedua mempelai.

Kirab dan Mangayubagyo menjadi dua bagian yang saling melengkapi dalam rangkaian Dhaup Ageng. Kirab membawa kedua mempelai menyapa masyarakat di sepanjang jalan, sedangkan Mangayubagyo memberikan kesempatan bagi warga untuk ikut merasakan kebahagiaan keluarga Mangkunegaran.

Saat rombongan kembali memasuki Pura Mangkunegaran, sambutan dan sapaan warga tetap mengiringi perjalanan kedua mempelai. Prosesi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi Mangkunegaran terus dijaga melalui keterlibatan masyarakat yang turut menyambut dan memberikan pangestu.