SOLO, MettaNEWS – Pementasan Langendriyan lakon Damarwulan Jumeneng Nata, menggambarkan perjalanan cinta G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas dituturkan dalam balutan tari, tembang, dan gending, Sabtu (7/11/2026) malam.
Lakon tersebut mengangkat kisah perjuangan dan keteguhan Damarwulan sebelum akhirnya dipersatukan dengan Ratu Ayu Kencanawungu. Nilai pengorbanan dan kesetiaan dalam cerita itu dipilih sebagai gambaran artistik perjalanan kedua mempelai menuju kehidupan bersama.
Pengageng Kawedanan Langen Praja Pura Mangkunegaran, Nyi Ng. Retno Wulan Sulanjari, menjelaskan bahwa pemilihan lakon Damarwulan Jumeneng Nata memiliki kedekatan nilai dengan perjalanan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas.
“Lebih kepada penggambaran bahwa untuk mendapatkan cinta sejati diperlukan pengorbanan. Cerita itu kami angkat karena memiliki kedekatan dengan perjalanan kedua mempelai,” ujar Retno Wulan.
Menurutnya, pementasan tersebut tidak bermaksud menyamakan seluruh alur cerita Damarwulan dengan kehidupan pribadi kedua mempelai. Namun, nilai keteguhan, kesediaan menjalani proses, dan keyakinan untuk melangkah bersama menjadi pesan yang ingin dihadirkan dalam pahargyan.
Gusti Sura dan Kanjeng Dimas diketahui pertama kali bertemu pada 2015. Setelah menjalani perjalanan hidup masing-masing dan sempat terpisah oleh waktu, keduanya kembali dipertemukan pada awal 2025.
Kisah pertemuan kembali tersebut memberikan nuansa tersendiri dalam pementasan Langendriyan yang menjadi bagian dari rangkaian Dhaup Ageng Mangkunegaran.
Langendriyan, Seni Bercerita Khas Mangkunegaran

Langendriyan merupakan salah satu seni drama tari khas Mangkunegaran yang memadukan gerak tari, tembang, dan gending. Berbeda dengan drama pada umumnya, dialog antartokoh dalam Langendriyan disampaikan melalui tembang atau nyanyian, kemudian diperkuat dengan gerak tubuh dan ekspresi penari.
Perpaduan unsur tersebut menjadikan Langendriyan sebagai seni pertunjukan yang menyampaikan cerita melalui suara, irama, dan gerak sekaligus.
Retno Wulan mengungkapkan, Langendriyan merupakan salah satu kesenian Mangkunegaran yang secara khusus diminta Gusti Sura untuk ditampilkan dalam rangkaian pahargyan.
Kehadirannya tidak hanya menjadi bagian dari hiburan dalam perayaan pernikahan, tetapi juga menjadi upaya merawat dan memperkenalkan kembali kekayaan seni tradisi Mangkunegaran kepada masyarakat.
Gambyong Pareanom, Menghidupkan Kembali Sejarah Pernikahan 1951

Selain Langendriyan, Kawedanan Langen Praja juga menghadirkan Tari Gambyong Pareanom dalam rangkaian pahargyan malam tersebut.
Jika Langendriyan menyampaikan cerita melalui sebuah lakon, Gambyong Pareanom menghadirkan nuansa penyambutan yang memiliki akar kuat dalam tradisi Mangkunegaran.
Nama Pareanom merujuk pada warna hijau muda kekuningan yang menjadi bagian dari identitas Mangkunegaran.
“Gambyong Pareanom merupakan gambyong Mangkunegaran yang membawa pareanom, warna yang menjadi bagian dari identitas Mangkunegaran,” kata Retno Wulan.
Tarian tersebut memiliki catatan sejarah tersendiri dalam tradisi pernikahan keluarga Mangkunegaran. Gambyong Pareanom dibakukan oleh Nyi Bei Mintoraras pada 1950 dan pertama kali dipentaskan dalam pernikahan Gusti Nurul pada 1951.
Setelah 75 tahun, tarian tersebut kembali dihadirkan dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran. Kehadirannya menjadi penghubung antara tradisi pahargyan masa lalu dengan perayaan pernikahan generasi saat ini.
Pementasan Langendriyan dan Gambyong Pareanom memperlihatkan bagaimana seni tradisi tidak sekadar menjadi pelengkap acara, tetapi juga memiliki peran dalam menyampaikan nilai, sejarah, dan identitas budaya.
Melalui Dhaup Ageng, kedua karya tersebut kembali mendapatkan ruang untuk hidup dan dikenal masyarakat. Para penari, pengrawit, serta pelaku seni turut mengambil bagian dalam menjaga warisan budaya Mangkunegaran agar tetap lestari dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.










